Jakarta, TopBusiness – Hingga kuartal III-2021 PT Astra International Tbk (ASII) meraih laba bersih sebesar Rp 15 triliun atau meningkat 7 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Tanpa memperhitungkan keuntungan penjualan saham PT Bank Permata Tbk (BNLI) tahun lalu, laba bersih Astra tercatat melonjak 84 persen hingga kuartal III-2021.
Presiden Direktur Astra International Djony Bunarto Tjondro menjelaskan, kinerja Astra secara keseluruhan membaik dalam sembilan bulan pertama tahun ini karena didukung oleh volume penjualan otomotif yang kuat dan harga komoditas yang lebih tinggi.
“Walaupun terdapat beberapa ketidakpastian dengan situasi makro ekonomi saat ini akibat dampak pandemi, kinerja grup yang baik memberi kami optimisme terhadap sisa periode 2021. Selain itu, posisi neraca keuangan grup tetap sehat dan solid,” ujar Djony dalam keterangan tertulis, Kamis (28/10).
Dari sisi pendapatan, Astra mencatat pertumbuhan 28 persen menjadi Rp 167,4 triliun. Kas bersih, tidak termasuk anak perusahaan divisi jasa keuangan grup, mencapai Rp 25,5 triliun pada 30 September 2021 atau meningkat dibandingkan Rp 7,3 triliun pada akhir 2020.
Pertumbuhan kas disebabkan oleh kinerja penjualan yang membaik, serta realisasi belanja modal dan modal kerja yang relatif rendah. Namun, jika volume penjualan terus membaik hingga akhir tahun, belanja modal dan modal kerja bisa meningkat.
Sementara itu, divisi jasa keuangan mencatat utang bersih sebesar Rp 39,3 triliun per 30 September 2021. Utang bersih ini meningkat dari Rp 39,2 triliun pada akhir 2020.
Dilihat dari lini usaha, divisi otomotif menyumbang perolehan laba terbesar, yakni sebesar Rp 5,51 triliun. Laba ini juga bertumbuh paling besar, yakni mencapai 207 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan laba divisi otomotif karena kinerja lini usaha ini yang cukup tertekan pada kuartal II-2020. Selain itu, pertumbuhan laba juga ditopang oleh peningkatan volume penjualan kendaraan, terutama pada segmen roda empat yang diuntungkan oleh insentif sementara pajak penjualan barang mewah.
Divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi menjadi kontributor laba terbesar kedua, yakni mencapai Rp 4,65 triliun. Laba dari divisi ini meningkat 51 persen karena peningkatan penjualan alat berat Komatsu dan menguatnya harga batu bara.
Divisi lain yang diuntungkan karena peningkatan harga komoditas adalah divisi agribisnis. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) yang berada dalam divisi ini, laba bersihnya meningkat 152 persen menjadi Rp 1,5 triliun karena kenaikan harga minyak kelapa sawit. Selain tiga divisi itu, divisi lain juga mencatat pertumbuhan laba seperti divisi properti sebesar 52 persen, jasa keuangan 23 persen dan teknologi informasi 8 persen.
