Jakarta, TopBusiness – Al Khaleej Sugar Co (AKS), produsen gula terbesar di kawasan Timur Tengah sekaligus lima besar di dunia berminat untuk investasi di Indonesia. Komitmen itu disampaikan oleh Managing Director Al Khaleej Sugar Co sekaligus Chairman Jamal A-Ghurair Group Jamal Al-Ghurair saat bertemu Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Dubai.
AKS bakal mengucurkan investasi sebesar US$ 2 miliar atau sekitar Rp 28,68 triliun dalam pengembangan etanol di Indonesia
“AKS akan berinvestasi pabrik gula terintegrasi di Indonesia. Selain memproduksi gula, AKS juga rencananya memproduki bioetanol dan listrik dari biomassa,” kata Agus melalui keterangan resmi pada Senin (8/11/2021).
Selain menghadiri perhelatan Expo Dubai 2020, kunjungan kerja Menperin Agus tersebut ke Uni Emirat Arab (UEA), sekaligus bertemu calon investor potensial. Salah satunya Al Khaleej Sugar (AKS).
Menperin Agus didampingi Plt Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Taufik Bawazier, Staf Khusus Menteri Achmad Sigit Dwiwahjono dan Konsul Jenderal RI di Dubai K. Candra Negara.
Menperin menjelaskan, pihaknya akan bekerja sama dengan kementerian lain guna menjajaki peluang investasi tersebut karena terkait investasi energi dan pemenuhan lahannya.
Agus berharap penanaman modal perusahaan gula asal Dubai itu bakal menjadi pelatuk industri gula nasional yang lebih efisien pada masa depan. “AKS akan mengembangkan fabrikasi etanol dari gula. Etanol tersebut pun diharapkan dapat menjadi sumber bahan bakar alternatif,” ujarnya.
Upaya tersebut, lanjut dia, sejalan dengan tren pengurangan emisi karbon, yang membuat sejumlah negara memutar otak mencari sumber energi yang lebih bersih. Negara-negara seperti Australia, Amerika Serikat, dan Filipina sendiri telah mengembangkan etanol dalam jumlah besar sebagai alternatif bahan bakar fosil. Pemanfaatan etanol dalam energi baru dan terbarukan menjadi satu alternatif untuk pengurangan gas emisi karbon dari sektor transportasi.
Selain sebagai bahan bakar, lanjut Agus, etanol gula dapat dimanfaatkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap gula rafinasi. “Dalam konteks ini, impor gula bisa ditekan dan bahkan ke depan berpeluang berkurang sekitar 750 ribu ton per tahun,” ungkapnya.
AKS memiliki pabrik gula di Dubai dengan kapasitas 6.000 ton gula per hari. Selain memiliki pabrik gula di Dubai, AKS juga berinvestasi di Mesir dan Spanyol. Penghasilan AKS per tahun diperkirakan sebesar 14 miliar dolar AS.
“Kebutuhan gula nasional sekitar 6,7 juta ton. Terdapat beberapa cara untuk mengurangi impor gula, di antaranya dengan menyiapkan lahan perkebunan tebu dan mendorong proses transformasi digital. Kehadiran AKS di Indonesia, InsyaAllah dapat membantu memenuhi kebutuhan gula nasional,” tutur Menperin.
