Jakarta, TopBusiness – Medco Energi, sebagai perusahaan industri hulu minyak dan gas serta sebagai perusahaan pembangkit energi listrik terus-menerus membangun industri pertambangan secara umum.
Sebagai korporasi yang sudah sangat solit dengan didukung nilai kapitalisasi besar, perusahaan swasta nasional ini yang sudah ada kurang lebih 50 tahun turut membangun NKRI. Itu dilakukan dalam rangka memberikan kontribusi besar kepada negara dalam hal penyediaan minyak dan gas serta ketersediaan energi kelistrikan berbasiskan fosil. Selain pengembangan energi baru terbarukan (EBT), yang juga juga turut membangun industri pertambangan mineral, seperti emas dan tembaga di NTT.
Medco Energi tidak hanya piawai dalam menyediakan energi migas serta kelistrikan bagi negeri ini, tetapi korporasi berbasis bisnis energi milik keluarga Panigoro ini pun termasuk perusahaan yang sangat efektif dalam melakukan kinerja operasional, lantaran bisa efisien di lapangan dengan cost di bawah 10 dolar AS per barel.
Dalam menegakkan program emisi gas rumah kaca (GRK), Medco Energi telah berkomitmen untuk bisa menekan emisi hingga net zero. Itu merupakan bagian dari kesepakatan Indonesia yang telah menyetujui Paris Agreement.
CEO Medco Energi, Hilmi Panigoro, kepada TopBusiness.id, menyatakan bahwa pihaknya akan melaksanakan persetujuan Paris Agreement. “Kami sebagai perusahaan swasta nacional, sangat mendukung penuh Paris Agreement tersebut yang akan diberlakukan pada tahun 2050. Untuk dukungan tersebut tentunya kami sebagai perusahaan energi nasional juga turut pula agar Paris Agreement tersebut bisa sukses kita laksanakan secara bersama,” ungkap Himi, pada acara Temu Media Nasional dan Lomba Karya Jurnalistik, baru baru ini.
Dijelaskan Hilmi Panigoro, banyak hal yang telah dilakukan perseroan dalam rangka mengutamakan Paris Agreement. “Kami lakukan dalam menekan net zero emisi karbon di lapangan minyak dan gas yang kami operasional kan. Kami lakukan berbagai operasioal sangat bersih dengan meningkatkan pemanfaatan gas buang yang selama ini dilakukan pembakaran, serta juga di tambang emas dan tembaga di NTT , ini kami bangun pembangkit listrik dengan menggunakan solar cell ( sinar surya),” ungkap dia.
Selanjutnya, Hilmi juga mendorong program energi terbarukan (non fosil). “Dan kami juga turut membagun pembangkitan energi listrik terbarukan (EBTE) seperti Pembangkit Listrik Panas Bumi, Pembangkit Listrik Tenaga Surya dengan sangat besar di NTT sebesar 100 MW. Artinya dengan hal tersebut Medco sudah konsen dalam menekan emisi karbon”, tegas Hilmi Panigoro.
Medco Energi hingga kini masih bertumpu pada bisnis migas, terlihat dari porsi belanja modal yang dialokasikan. Tahun ini, MedcoEnergi mengalokasikan 150 juta dolar AS untuk belanja modal 2021, dari total belanja modal sebesar 215 juta dolar AS.
Saat ini, dengan harga komoditas yang terus membaik dan permintaan gas domestik yang mulai pulih, seiring menggeliatnya aktivitas perekonomian setelah wabah Covid-19 mulai dapat tertangani sebagai imbas lockdown. Untuk itu, MedcoEnergi akan terus memenuhi rencana dan komitmennya untuk kepentingan stakeholder.
Upaya ini juga dalam rangka mendukung pencapaian target Pemerintah untuk meningkatkan produksi minyak dan gas nasional, yaitu target produksi minyak 1 juta BOPD dan gas 12 BSCFD pada 2030 dari SKK Migas. “Seiring kebijakan pemerintah untuk transisi energi, Medco Energi berkomitmen untuk mengurangi dampak operasi terhadap lingkungan dalam mencapai net zero untuk emisi scope 1 dan scope 2 pada 2050 dan scope 3 pada 2060. Medco Energi juga akan terus fokus pada pengembangan masyarakat untuk masa depan Indonesia yang lebih baik,” ujar Hilmi.
Di kesempatan yang sama, Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto menyatakan bahwa sektor migas masih memainkan peran strategis dalam pertumbuhan ekonomi nasional sehingga eksistensinya masih diperlukan di masa depan.
Menurut Dwi Soetjipto, SKK Migas telah menyusun rencana strategis, Indonesian Oil and Gas (IOG 4.0). Upaya ini untuk meningkatkan peran strategis industri hulu migas bagi perekonomian nasional, mengingat kebutuhan migas masih akan terus meningkat dimasa mendatang.
IOG 4.0 mencakup tiga target besar pada 2030. Pertama, memproduksi minyak 1 juta BOPD serta gas bumi sebanyak 12 BSCFD. Target kedua meningkatkan multiplier effect industri hulu migas terhadap sektor lainnya, sehingga bisa memperkuat kapasitas nasional yang berdaya saing. Terakhir, SKK Migas juga menargetkan penciptaan keberlanjutan lingkungan. SKK Migas juga menargetkan keberlanjutan kelestarian Lingkungan.
Sementara, untuk melanjutkan berbagai keberhasilan Medco Energi, perusahaan juga membutuhkan kerjasama yang semakin baik dan intens dari rekan jurnalis media nasional terutama dari sisi pemberitaan yang akurat dan berimbang sehingga bisa saling memberikan kontribusi yang lebih bermanfaat.

