Jakarta, TopBusiness – Indeks harga saham gabungan atau IHSG di PT Bursa Efek Indonesia hingga sesi penutupan perdagangan hari ini berpotensi rebound.
Di laman Samuel.co.id, tim riset Samuel Sekuritas Indonesia dalam laporan riset harian, memperlihatkan judul IHSG Diperkirakan Rebound.
Bursa AS semalam ditutup menguat. DJIA +0,05%, diikuti S&P500 0,31%, dan Nasdaq 0,40%, setelah adanya pelonggaran restriksi terkait COVID-19 di China dan potensi sinyal berkurangnya China’s tech crackdown setelah badan regulator China dikabarkan akan segera menyelesaikan penyelidikan di Didi (harga saham naik +24%), salah satu emiten teknologi di bidang transportasi. Stock futures terpantau stabil sementara investor menunggu rilis data inflasi utama dalam minggu ini. Data ekonomi AS yang dijadwalkan rilis malam ini adalah neraca perdagangan bulan April (cons: -USD89.5bn; prev: -USD109.8bn).
Dari pasar komoditas, nikel terpantau naik 5,38%, batu bara sedikit naik 0,67%. Sementara Brent stabil (+0,07%) menjadi USD119,8/bbl. Harga emas sedikit turun 0,54%, begitu juga CPO turun 0,23%
Pada akhir perdagangan Senin (6/6), IHSG ditutup turun 1,20% ke level 7.096,6. Top leading movers emiten TLKM, MDKA, INDF, sementara top lagging movers emiten GOTO, BBRI, BBCA. Investor asing kemarin mencatatkan keseluruhan net buy sebesar Rp 396,8 miliar (Pasar regular: Net buy Rp 220,6 miliar; pasar negosiasi: Net buy Rp 176,2 miliar). Net buy asing tertinggi di pasar reguler dicatatkan oleh BMRI (Rp 288,6 miliar), ASII (Rp 136,6 miliar), dan GOTO (Rp 60,6 miliar). Net sell asing tertinggi di pasar reguler dicetak oleh BBRI (Rp 230,9 miliar), ADRO (Rp 46,3 miliar), dan INTP (Rp 36,9 miliar).
Terjadi penambahan 342 kasus baru COVID-19 di hari Senin (6/6) dengan positivity rate sebesar 0,5% (kasus aktif: 3.498). Sebanyak 270 pasien telah sembuh dengan recovery rate sebesar 97,3%
Data ekonomi Indonesia yang akan dirilis besok (8/6) adalah posisi cadangan devisa bulan Mei (prev: USD135,7bn).
“Kami memperkirakan IHSG untuk rebound dengan mempertimbangkan sentimen penguatan di pasar global dan dampak dari akan masuknya emiten GOTO ke tiga indeks utama, yang akan segera efektif (8 Juni 2022),” demikian tertulis.
Foto: Rendy RM
