Jakarta, TopBusiness – PT Wiaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA menilai, penerapan prinsip governance, risk and compliance (tata kelola perusahaan, risiko dan keputuhan/GRC) akan menjadikan perseroan lebih dapat tahan dari imbas perang antara Rusia-Ukraina, serta pandemi Covid-19.
Adityawarman, selaku komisaris independen WIKA, via aplikasi zoom meeting, di Jakarta, Kamis (07/07/2022), menyatakan bahwa pihaknya, selaku jajaran dewan komisaris dan juga direksi sangat perhatian dengan penerapan prinsip-prinsip GRC, apalagi terkait kondisi yang terjadi akhir-akhir ini. Sehingga, dewan komisaris terus memantau pedoman tata kelola perusahaan yang baik (GCG) dan prosedur manajemen WIKA.
“Kami sebagai komisaris sangat memberikan perhatian yang besar, khususnya terhadap tiga aspek ini, governance, risk dan compliance. Karena kita sepakat untuk suatu korporasi yang ingin berkembang,dan bertahan dengan kompetisi yang sangat luar biasa, apalagi Covid-19 sudah 2 tahun dan sekarang ada pertempuran antara Rusia dan Ukraina, terhadap BUMN Karya seperti Wijaya Karya sangat terasa sekali, hingga kita sudah melihat beberapa pedoman dan prosedur yang diterbitkan oleh manajemen WIKA yang selalu kita pantau,” ungkap dia, saat berdiskusi dengan Tim TopBusiness.
Menurut Adityawarman, dalam jajaran dewan komisaris di struktur organisasi ada pedoman dan prosedur yang harus dilakukan yaitu menyangkut code of conduct. “Kita sebut dengan whistleblowing system. Di situ dalam struktur pengawasannya, dewan komisaris duduk sebagai dewan pengarah,” kata dia.
Dia menyatakan, pihaknya pun memberikan apresiasi terhadap jajaran direksi, sebab sudah mengikuti sepenuhnya Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) sebagaimana tertuang dalam ISO 37001:2016.
“Dan ini mungkin masih langka ya BUMN Karya yang mendapatkan ISO tersebut, terutama terhadap sistem manajemen anti penyuapan, sejalan dengan apa yang dilakukan oleh KPK dengan Undang-undang Nomor 30-nya. Nah di dalam pedoman SMAP yaitu sistem manajemen anti penyuapan, dewan komisaris dalam struktur organisasi duduk sebagai dewan pengawas. Jadi di dalam prosedur ini kita memberikan pengarahan, kita memberikan masukan-masukan kepada manajemen bagaimana melakukan dan mengaplikasikan sistem ini,” kata dia.
Dia mengungkapkan bahwa untuk melakukan GCG, pihaknya pun melakukan TARIF, yang kepanjangannya adalah transparancy (transparansi), accountability (akuntabilitas), responsibility (tanggung jawab) dan independence (kemandirian) dan fairness (kesetaraan dan kewajaran). “TARIF itu yang biasa semuanya juga kita ikuti. Selain daripada itu untuk meningkatkan GCG, kita juga memberikan pengendalian gratifikasi. Di situ juga disebutkan apa soal gratifikasi kepada internal dan bagaimana manajemen kami minta untuk melindungi pelapor dan juga diberikan suatu evaluasi laporan itu oleh suatu tim yang dibentuk oleh direksi,” papar dia.
Lanjut Adityawarman menyatakan, pihaknya juga mempunyai beberapa prosedur, yaitu pedoman mengenai risiko yang sudah lengkap, serta prosedur sistem manajemen risiko dan dilaporkan secara periodik.
“Kita bisa melihat semua pedoman itu. Bagaimana pedoman itu sudah diaplikasikan dan diimplementasikan di Wijaya Karya. Jadi hal-hal itu yang perlu kami selalu kendalikan dan rutin setiap triwulanan, kita memanggil unit-unit terkait dari berbagai komite ya untuk manajemen risiko dan sebagainya untuk kita menanyakan hal-hal apa yang sudah terjadi atau hal program apa yang ada dilakukan selama 3 bulan yang bersangkutan. Itu kita melakukan rapat rutin, Ya baik secara offline maupun online dengan unit-unit kerja terkait. Jadi itu kira-kira bagaimana dewan komisaris mengendalikan khususnya pada prinsip-prinsip tiga aspek, yaitu governance, risk dan masalah compliance,” ungkap dia.
Adityawarman kembali menegaskan bahwa jajaran direksi dan komisaris telah sepakat untuk membesarkan perusahaan dengan menekankan pada prinsip-prinsip GRC, terkhusus saat perang Rusia-Ukraina. “kita sepakat dengan direksi, kalau kita ingin membesarkan perusahaan kita. Kita harus jalan dengan policy ini. Karena persaingan semakin ketat, dan kita juga harus makin profesional. Karena dengan cara inilah kita bisa tumbuh dan berkembang, serta bertahan hidup dengan kondisi yang sangat luar biasa. Kita lihat 3 tahun terakhir ini pada tahun terakhir, Covid sudah mulai melandai, menurun ternyata masih ada masalah yang luar biasa dari perang Rusia-Ukraina. Sekarang semua harga material naik, harga semen naik harga besi naik jadi ini sangat mempengaruhi terutama pada BUMN-BUMN Karya dan juga Wijaya Karya pada khususnya,” jelas dia.
