Jakarta, TopBusiness — Kendati menghadapi banyak tantangan selama tahun 2021 lalu, PT Colorpak Indonesia Tbk (IDX: CLPI) masih tetap membukukan kinerja positif. Terbukti dengan adanya raihan laba bersih yang masih bertumbuh.
Tercatat, sepanjang 2021, perseroan membukukan laba kotor sebesar Rp98,2 miliar dengan laba usaha sebesar Rp51,3 miliar dan laba komprehensif meningkat sebesar 19,5% atau menjadi sebesar Rp43,6 miliar.
Adapun margin laba kotor perseroan pada periode ini mencapai sebesar 11,7% dengan marjin laba usaha sebesar 6,1%, dan margin laba bersih sebesar 5,1%.
Untuk itu, perseroan pun memastikan bakal membagi dividen kepada pemegang sahamnya. Hal ini seperti hasil dari Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Jakarta, Selasa (19/7/2022).
Direktur PT Colorpak Indonesia Tbk, Antoni Gunawan menuturkan, dalam RUPST yang digelar hari ini, telah menyetujui beberapa agenda. Di antaranya, perseroan akan mengalokasikan sebagian atau sekitar 50% keuntungan perseroan pada tahun 2021 untuk dividen.
“Kami akan membagikan dividen kepada pemegang saham sebesar 50% dari laba atau sebesar Rp21,81 miliar. Adapun dividen per sahamnya itu sekitar Rp71,21 per lembar. Untuk Cum date dividen pada 27 Juli 2022,” jelas dia.
Kinerja perseroan sendiri sejatinya cukup berat di tahun 2021 lalu. Efek sentimen global seperti perang Rusia-Ukraina telah membuat harga komoditas seperti minyak melambung tinggi. Sementara sebagai perusahaan manufaktur tinta cetak untuk kemasan sangat mengandalkan minyak sebagai bahan bakunya (raw material).
“Namun begitu kami masih bisa bertumbuh positif. Perseroan masih bisa mencatat penjualan sebesar Rp838,1 miliar, atau tumbuh sebesar 8,5% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar Rp772,3 miliar di tahun lalu. Dan secara volume penjualan mengalami peningkatan sebesar 2,3% dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” papar dia.
Komposisi penjualan tersebut adalah bersumber dari divisi gravure & coating sebesar 50%, divisi film sebesar 30%, dan divisi adhesive sebesar 20%.
“Dan di tahun ini sepertinya tantangan perang Rusi-Ukraina masih akan mememgaruhi harga minyak. Dan bisa meneka profit perusahaan. Kemungkinan profit juga bisa menyusut di tahun ini,” katanya.
Sehingga strategi ke depannya adalah perseroan bakal menaikkan harga produknya secara bertahap.
“Tapi kita tetap akan memperhatikan market. Tidak mungkin setiap ada kenaikan harga raw material, harga kita naik juga. Makanya kalau naik akan bertahap. Atau pilihan kedua, perusahaan akan menanggung marjin yang turun,” pungkas Antoni.
FOTO: TopBusiness
