Jakarta, TopBusiness—Dalam berlangsungnya proses governance dalam sebuah perusahaan, yang sangat penting dan utama adalah adanya perilaku etis. Dalam hal itu, jajaran direksi, jajaran komisaris, dan lain-lain, harus berperilaku etis.
Hal itu dikatakan oleh Ketua Umum Komite Nasional Kebijakan Governance, Prof. Mardiasmo, hari ini, dalam seminar virtual ‘Sharing of GRC Empowerment in Digital Era and Its Support to G20 Indonesia Presidency’, yang digelar Majalah TopBusiness bekerja sama dengan sejumlah lembaga.
Mardiasmo mengatakan bahwa sehubungan dengan hal tersebut, dalam perusahaan tersebut harus ada pedoman-pedoman, yang lalu diimplementasikan dan dikomunikasikan, dalam keseharian. “Dengan hal tersebut,” kata Mardiasmo, “sebuah kultur GRC akan terbentuk di dalam sebuah perusahaan.”
Di dalam praktek GRC, yang penting adalah good corporate control, di samping good corporate governance (GCG). Hal itu penting untuk terintegrasi di dalam sebuah sistem besar yang punya sejumlah subsistem.
Adapun contoh subsistem tersebut, Mardiasmo mengatakan, yakni manajemen risiko, manajemen kepatuhan, dan lain-lain. “Maka dengan demikian, sebuah perusahaan akan di track yang tepat dalam mencapai tujuannya,” kata dia lagi.
Menggunakan Aplikasi
Dalam seminar yang sama, sejumlah petinggi perusahaan pun tampil sebagai pembicara. Di antara itu adalah Direktur Utama Indonesia Power, M. Ahsin Sidqi.
Ia mengatakan bahwa Indonesia Power telah mengimplementasikan GRC terintegrasi. Salah satu contoh integrasi itu adalah penggunaan aplikasi bernama C-Mom, yang merupakan sarana digital untuk menyinergikan GRC di Indonesia Power. “Jadi, kami serba digital, mengeksekusi dengan cepat, dan adaptif ke lingkungan,” kata dia.
Ahsin pun mengatakan adanya relevansi antara peran GRC dengan ekonomi sirkular. Dalam hal ekonomi sirkular, GRC berperan membantu merekomendasikan, me-review, dan memonitor. Hal itu agar setiap aksi korporasi yang memanfaatkan raw material, bisa berjalan secara optimal atau zero waste.
Sementara itu, Head of Non-Financial Risk Management SeaBank Indonesia, Juri Adrianto, mengatakan bahwa bagi pihaknya, GRC menjadi hal yang harus terus ditingkatkan dalam mengembangkan layanan digital dan mencapai visi-misi perusahaan.
SeaBank Indonesia sudah punya kerangka kerangka GRC. “Good risk management adalah good business bagi kami,” ia mengatakan.
Kemudian, Juri pun menjelaskan bahwa keamanan cyber pun menjadi hal yang penting untuk SeaBank Indonesia.
Dalam seminar yang sama, Direktur Finance Pertamina Lubricant, Catur Darmawan, menjelaskan bahwa pihaknya sudah mengimplementasikan sistem three line of defence, dalam mengimplementasikan GRC.
“Kami pun menggunakan TI (teknologi informasi) dalam implementasi GRC,” Catur mengatakan.
Dikatakannya pula bahwa Pertamina Lubricant sudah punya kerangka infrastruktur GRC dan organ-organ pendukungnya. “Sistem dan kebijakan manajemen kepatuhan, sudah ada dan berjalan,” dia menambahkan.
Adapun Direktur Bank Jatim, Erdianto Sigit, menjelaskan sejumlah hal tentang GRC di bank yang terdaftar sebagai perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia itu. Erdianto, antara lain, mengatakan bahwa dalam strategi bisnis 2022, Bank Jatim punya sejumlah poin, dan ada yang terkait dengan praktik GRC.
Itu antara lain perbaikan tata kelola (menyempurnakan frame work GRC), menjaga profil risiko, menjaga rasio permodalan, memerkuat budaya kerja, digitalisasi produk, penguatan core business, dan lain-lain.
Di Bank Jatim, budaya kepatuhan harus berjalan secara menyeluruh. “Sedari direksi, komisaris, sampai jajaran terbawah, harus menjalankan budaya kepatuhan,” kata dia.
