Jakarta, TopBusiness—Indonesia diuntungkan oleh pasar tambang dan komoditas yang baik, sehingga sejumlah ekspor yang besar dapat bertahan, serta menopang nilai mata uang Indonesia meskipun adanya kenaikan suku bunga yang cepat di AS dan pasar global utama lainnya. Suku Bunga Bank Indonesia (BI) baru saja mengalami kenaikan menjadi 3,75% dari 3,5%. Hal ini menandakan peningkatan pertama sejak November 2018, ketika tolak ukur berada pada 6%. Di saat Federal Reserve dan bank sentral lain dalam usaha untuk melawan inflasi dan kenaikan Dolar terus meningkatkan suku bunga, akan berimbas pada semakin banyaknya tekanan pada BI untuk mengikuti serta meningkatkan suku bunga.
“Pada akhirnya, hal ini akan mempengaruhi biaya pendanaan bagi pengembang properti, investor properti, dan end-user properti di Indonesia,” kata Direktur Colliers Indonesia, Steve Atherton, dalam analisis terbaru untuk wartawan, yang didapatkan kemarin malam oleh Majalah TopBusiness.
Inflasi di Indonesia juga meningkat pada level 4.94% (tahun ke tahun) dengan kenaikan harga bahan bangunan tertentu mencapai hingga 20-30%. Sementara pengembang properti berusaha menahan harga mereka untuk mempertahankan penjualan dan penyerapan yang baik, pada titik tertentu pengembang harus membiarkan biaya konstruksi lebih tinggi yang kemudian berpengaruh kepada harga jual yang menjadi lebih tinggi.
“Pada akhirnya, harga yang lebih tinggi bagi konsumen dan kenaikan suku bunga akan menjadikan pasar properti lokal kurang bergairah,” kata Atherton.
Selain itu, jika perekrutan pada perusahaan rintisan serta e-commerce, dan keadaan ekonomi secara umum mulai melambat, dan adanya peningkatan PHK, akan menjadikan pembeli lebih berhati-hati dalam berkomitmen untuk melakukan investasi, pengeluaran jangka menengah, hingga panjang.
Secara menyeluruh, diharapkan bahwa ekonomi Indonesia dapat berada dalam posisi yang relatif kuat untuk menghadapi resesi global yang tertunda, dikarenakan ekonomi konsumen domestik yang kuat dan sektor pertambangan dan komoditas yang baik.
“Namun, dengan adanya pemilihan presiden Indonesia yang akan berlangsung pada tahun 2024, dan cepatnya kenaikan suku bunga global untuk memerangi inflasi, serta keadaan ekonomi global yang mengalami turbulensi dalam kurun waktu (minimum) enam hingga 12 bulan, hal tersebut tidak terlihat cukup menguntungkan bagi sektor yang kurang diunggulkan dari pasar properti lokal, dalam jangka pendek hingga menengah,” Atherton memprediksi.
