Jakarta, TopBusiness—Koltiva, perusahaan start-up teknologi yang berfokus pada supply-chain agrikultur (rantai pasokan pertanian), mengumumkan keberhasilannya mendapatkan oversubscribed pendanaan dari investor Silverstrand Capital. Juga ada pendanaan tambahan dari investor saat ini, The Meloy Fund.
Planet Rise, Development Finance Asia and Blue7 juga berpartisipasi dalam putaran pendanaan tersebut.
“Pendanaan ini akan dimanfaatkan Koltiva guna mempercepat pengembangan teknologinya dalam menghadirkan inovasi ketertelusuran data (traceability), serta menyediakan pengetahuan dari para ahli agronomis untuk membantu petani dalam meningkatkan praktik pertanian serta pendapatan mereka,” kata Manfred Borer, Chief Executive Officer Koltiva, secara tertulis ke Majalah TopBusiness, hari ini.
Selain itu, Koltiva juga mendukung perusahaan multinasional untuk menerapkan praktik pengadaan produksi yang bertanggung jawab (responsible sourcing practices).
Dua teknologi baru akan dikembangkan secara komersial pada putaran pendanaan kali ini. Teknologi pertama adalah KoltiPay, platform teknologi finansial yang tidak hanya menyediakan transaksi pembayaran non-tunai (cashless) bagi para petani, tapi juga menyediakan asuransi tanaman panen (crop insurance) dan pinjaman (loans).
Teknologi kedua adalah KoltiTrade yang memungkinan petani untuk dapat membeli sarana produksi pertanian (agri-inputs) dan mendapat akses ke pasar yang lebih luas untuk menjual hasil panen mereka, yang akan membantu meningkatkan pendapatan petani.
“Dua teknologi ini akan diintegrasikan dalam ekosistem teknologi Koltiva, termasuk perangkat lunak (software) ketertelusuran dan manajemen pertanian (KoltiTrace), serta layanan pelatihan oleh agen lapangan melalui KoltiSkills,” kata Borer.
Koltiva memulai kegiatan operasionalnya di Indonesia melalui sektor produksi kakao dan hingga kini telah berkembang di 30 komoditas, termasuk kopi, kelapa sawit, karet, dan komoditas khusus. Baru-baru ini, Koltiva juga melakukan ekspansi ke climate solutions dan blue economy, termasuk rumput laut dan budidaya udang.
“Hingga kini, Koltiva beroperasi di 27 negara dengan peluang pasar yang terus berkembang di lebih dari USD 20 miliar.”
