Jakarta, TopBusiness – Kepala Eksekutif Bidang Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Inarno Djajadi mengaku bahwa saat ini pihaknya tengah melakukan manajemen risiko dengan melakukan stress test pada sejumlah sektor usaha dalam upaya menguji daya tahan industri pasar modal.
“Sejauh ini kami sedang melakukan stress test untuk melihat resiliensi sektor-sektor usaha kita,” kata Inarno ketika merespons kondisi global yang saat ini sedang bergejolak, dalam konferensi pers di Gedung OJK Jakarta, Jumat (14/10/2022).
Pada pelaksanaan stress test tersebut, jelas dia, OJK menggunakan sejumlah indikator ekonomi makro, di antaranya adalah harga minyak bumi dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. “Stress Test kami lakukan apabila harga minyak naik menjadi USD150 per barel atau menjadi USD175 per barel,” ujar Inarno.
Selain itu, dia mencontohkan pula bahwa stress test yang dilakukan oleh OJK juga menggunakan indikator nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang diasumsikan mencapai Rp15.500. Seperti diketahui, pada transaksi kemarin nilai tukar rupiah berada di level Rp15.357 per dolar AS.
“Semua (indikator dan sektor usaha) kami lihat. Dan, kami harus bisa mengantisipasi apa yang akan terjadi, walaupun mungkin hal itu jauh dari kemungkinan-kemungkinan yang ada,” jelasnya.
Lebih lanjut Inarno mengungkapkan, upaya OJK dalam melakukan stress test tersebut dikarenakan sejauh ini berbagai pihak tidak mengetahui seberapa besar dampak negatif yang akan muncul dari ketidakmampuan ekonomi dunia.
“Kita tidak pernah mengetahui bahwa pergolakan di luar seberapa jauh pergolakannya dan kondisi geopolitik seberapa besar pengaruhnya terhadap ekonomi kita. Maka, kami sendiri harus menyiapkan stress test,” tutur Inarno.
Meski begitu, dia masih optimistis Indonesia masih lebih baik dari negera lain. Bahkan kondisi perekonomian dan pasar modal di Tanah Air saat ini pun masih bertubuh positif. “Soal resesi ini, growth dan potensi indonesia masih sangat bagus. IHSG saja secara ytd masih positif sebesar 5,43%. Kalau kita lihat negara tetangga itu kinerjanya masaih di bawah kita, apalagi AS malah minus 20%. Jadi saat ini, kita masih menjadi pasar modal yang menarik,” ujar Inarno.
Untuk diketahui, kinerja IHSG masih menjadi yang tertinggi di banding bursa ASEAN. Per 11 Oktober 2022, IHSG tercatat menguat 5,43% (year-to-date) ke level 6.939. Bahkan pada 13 September 2022 sempat menyentuh level all-time high di posisi 7.318, meskipun hari ini turun (pukul 14.30) ke level 6.845.
Per 11 Oktober 2022, kata Inarno, nilai kapitalisasi pasar di BEI sudah mencapai Rp9.142 triliun atau meningkat 10,75 persen (y-t-d). “Kita ini masih merupakan pasar modal yang menarik, baik bagi investor dalam negeri maupun dari luar negeri,” pungkas Inarno.
FOTO: Istimewa
