Jakarta, TopBusiness – Masyarakat dunia saat ini memasuki era di mana krisis akan sering terjadi. Dalam 25 tahun terakhir saja, dunia sudah mengalami tiga krisis besar yang sebelumnya hal seperti itu terjadi dalam kurun 225 tahun.
Tiga krisis besar yang terjadi dalam waktu 25 tahun terakhir adalah Pandemi Covid-19, Perang Ukraina-Rusia, Kekeringan di China yang terburuk selama 60 tahun terakhir.
“Kalau kita melihat krisis sekarang, kita harus melihat bahwa krisis bukanlah sesuatu yang harus kita takutkan tetapi sesuatu yang harus kita hadapi,” ujar ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin, MPP saat menyampaikan paparannya di acara Pembekalan Wisuda Sarjana dan Magister ke-27 dengan tema ‘ Tantangan Dunia di Tahun Tubulensi 2023’ di Universitas Paramadina, Kamis (27/10/2022).
Saat ini, menurut Wijayanto, dunia sedang mengalami pasang surut, bukan pasang naik, sehingga dunia kesulitan melanjutkan untuk berlayar. Dia juga mengibaratkan ekonomi dunia saat ini seperti pesawat besar Airbus A380 bermesin empat dengan penumpang yang sangat banyak.
“Mesin yang pertama itu Amerika Serikat dia mewakili 25% dari ekonomi dunia. Amerika Serikat mengalami masalah inflasinya tertinggi dalam 40 tahun terakhir, ekonominya mengalami perlambatan,” kata Wijayanto yang juga Staf Khusus Wapres periode 2007-2014 ini.
Mesin kedua adalah China yang mewakili 18% ekonomi dunia. Perekonomian China juga sedang menurun dengan penyebab yang tidak pernah terjadi sebelumnya. karena kekeringan, produksi pangan turun. “Selama ini China bergantung pada PLTA, karena kekeringan sehingga mengalami masalah,” ucapnya.
Mesin ketiga adalah Uni Eropa atau European Union yang mewakil 18% ekonomi dunia. Perekonomian UE juga tidak sedang baik-baik saja karena adanya konflik Rusia-Ukraina, sehingga mereka kesulitan untuk mempertahankan ekonomi dunia.
“Memprediksi perekonomian UE sama saja seperti memprediksi pemikiran Putin, tidak ada yang bisa prediksi bahkan Putin sendiri mungkin belum memiliki rencana,” kata Wijayanto..
Mesin yang keempat adalah Rest of The World berada di luar ketiga kelompok ini yang mewakili 39% ekonomi dunia termasuk Indonesia. Mesin keempat ini masih berfungsi dengan baik tapi juga ada masalah. Saat ini, ada 27 negara yang sedang mengantre bantuan di IMF seperti Indonesia pada tahun 1998.
“Mesin keempat ini tidak mengalami krisis tapi juga tidak baik-baik saja. Sehingga sebagai penumpang jika kita mengharapkan pesawat terbang tinggi dan juga smooth, sampai tujuan on time itu sedikit berat karena kita harus bersiap dengan adanya guncangan-guncangan,” tutur Wijayanto.
Krisis Memberi Kesempatan
Berdasarkan literatur yang ia baca dan juga pengalaman dirinya, untuk bisa survive di era ketidakpastian saat ini, perlu mindset baru, attitude dan skill baru, serta perlu model bisnis baru. “Kalau kita menggunakan mindset lama, attitude lama, dan bisnis model lama kita tidak akan survive,” ujar Wijayanto.
Menurut dia, krisis adalah kesempatan seperti halnya seseorang yang mau masuk lift untuk berpindah dari lantai satu ke lantai empat. Untuk bisa naik lift, mereka harus mengantre.
“Krisis memberikan kesempatan, misalnya jika dalam sebuah lift ada yang kentut misalnya maka semua orang dalam lift akan bubar, keluar. Namun jika kita bisa tahan, pakai masker misalnya makan kita bisa survive di lift itu. Ketika krisis ada juga yang memutuskan naik tangga saja, ternyata lebih cepat lebih sehat, namun jika tidak ada krisis, maka kita tidak akan mengetahu cara lain untuk berpindah ke atas,” tuturnya.
Menurut Wijayanto, dirinya banyak berinteraksi dengan anak muda. Ia mengaku grogi kalau bekerja dengan anak muda karena mereka lebih melek teknologi, kreatif, dan cekatan. “Kalau kita masih muda takut bersaing dengan senior itu salah karena kebaliknnya para senior yang merasa lebih grogi. Jadi kemudaan rekan-rekan itu adalah keuntungan,” kata dia.

Golden Moment
Sementara itu, Wakil Rektor Universitas Paramadina Dr Handi Risza yang juga menjadi pembicara di acara pembekalan itu, mengatakan bahwa terjadi pergeseran risiko dari Covid menjadi perang antara Rusia dan Ukraina yang memicu inflasi tinggi di Eropa, karena Rusia memasok 40% sumber energi ke Eropa. Lonjakan inflasi terjadi dilanjutkan dengan krisis energi dan pangan yang membuat banyak negara maju mengantisipasi krisis tersebut.
“Salah satunya cara negara mengantisipasinya yang kita alami saat ini adalah kenaikan suku bunga, sebagai upaya menyelamatkan ekonomi mereka,” tutur Handi.
Menurut Handi, ada momentum besar untuk Indonesia pada 2045, yaitu 100 tahun kemerdekaan RI. “Apa yang terjadi di tahun 2045 ini, kelas menengah akan tumbuh subur, termasuk Indonesia. Selain itu penggunaan teknologi juga akan semakin maju, kemudia perubahan iklim, perubahan geopolitik, Lembaga internasional akan dikuasai oleh negara-negara emerging market seperti Indonesia saat ini, terjadi urbanisasi ilmiah banyak orang yang akan migrasi ke negara-negara Asia, karena memiliki potensi untuk memajukan dunia. Motor terkuat di Asia selain di China juga ada di Indonesia, itu yang perlu kita lihat sebagai nilai positif kita saat ini,” papar Handi.
Saat ini, kata dia, Indonesia sedang mengalami apa yang disebut dengan bonus demmografi. Hal ini adalah anugerah untuk bangsa Indonesia, seperti dulu Jepang ketika awal awal tahun 1945 luluh lantak karena kalah perang.
“Tetapi dengan restorasi Meiji mereka mampu bangkit dan menjadi negara dengan ekonomi dan penguasaan teknologi terbaik sampai saat ini. Korea juga seperti itu, tahun 1960-an masih miskin bahkan lebih miskin daripada kita. Tapi karena kemampuan sumber daya yang mereka miliki, dan penguasaan teknologi yang Korea miliki, mereka menguasai teknolohgi terbaik saat ini,” tuturnya.
Sebab itu, Handi melihat saat sampai hingga 2030 merupakan golden moment, karena pada periode tersebut jumlah usia produktif paling besar. Saat ini 80% populasi Indonesia berada pada usia produktif. Artinya jika dikelola dengan baik, mereka memiliki pekerjaan yang baik.
“Inilah momen pertumbuhan kita, sehingga diharapkan 2045 kita sudah sejahtera, karena sedang ada pada usia yang aktif. Kalau kesadaran kolektif ini dibangun maka kita akan menjadi champion pada tahun 2045 tadi,” kata Handi.
Namun, Handi mengingatkan bahwa bonus demografi ini juga dapat menjadi bencana, jika lapangan pekerjaan sedikit, sehingga anak muda ini akan banyak yang menganggur karena tidak memiliki pekerjaan.
“Sehingga ini akan menjadi beban negara, karena negara harus bayar subsidi untuk teman-teman semua, subsidi energi, subsidi listrik.dan menanggung beban usia produktif akan lebih berat dengan menanggung beban usia tidak produktif. Hal ini akan berakhir pada tahun 2030 karena usia produktif ini akan semakin menua,” ujarnya.
Handi juga menyoroti APBN Indonesia saat ini yang sudah naik hingga enam kali lipa dibandingkan pada 2004 yang masih berkisar Rp 500-600 triliun. Belanja negara dalam APBN saat ini sudah mencapai Rp 3.000 triliun. “Artinya ekonomi ini tumbuh, berkembang, Hal ini didukung oleh pendapatan negara kita dari pajak hampir Rp 2.000 triliun dan juga belanja negara kita juga cukup besar yang kalau itu dikelola secara baik seharusnya tidak ada alasan kita menjadi miskin,” kata dia.
Menurut Handi, Indonesia bisa menjadi anggota G20 karena termasuk negara yang memiliki perekonomian terbesar di dunia. “Ini adalah satu modal yang membuat kita harus optimis untuk menjadi lebih baik kedepannya,” ucapnya.
Jika semua dapat dikelola dengan baik, Handi berharap pada tahun 2045, Indonesia bisa menjadi salah satu kekuatan besar perekonomian dunia. Tentu saja dengan melakukan mitigasi-mitigasi yang sedang terjadi kita harus mampu menjaga daya beli masyarakat dan juga meningkatan ekspor dan impor.
Tak lupa, Handi mengingatkan bahwa ada tiga hal yang perlu dikuasai oleh para wisudawan yang hadir dalam pembekalan tersebut. Pertama adalah hardskill yang telah didapatkan dibangku kuliah. Kedua ada softskill yang sudah dimiliki para wisudawan ini, misalnya cara bernegoisasi atau berdiplomasi.
“Yang terakhir adalah life skill yang perlu kita implementasikan, yang dapat kita temukan di Paramadina seperti Keindonesiaan, Kemodernan, dan keislamaan sehingga kita memliki idealisme dan karakter,” kata Handi, mengakhiri pembekalan kepada para wisudawan yang hadir dalam acara tersebut.
