Jakarta, TopBusiness—Menteri Perdagangan RI (Mendag) Zulkifli Hasan mengatakan, International Monetary Fund (IMF/Dana Moneter Internasional) telah merilis revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia, yaitu pada 2022 diperkirakan hanya tumbuh sebesar 3,2 persen dan akan melambat menjadi 2,7 persen pada 2023. Inflasi global juga diperkirakan mencapai 8,8 persen akibat kenaikan harga energi dan komoditas pangan. Namun demikian, inflasi diperkirakan menurun dan mencapai 6,5 persen pada 2023.
“Di tengah tantangan global, kita patut bersyukur karena ekonomi Indonesia tumbuh 5,44 persen YoY pada kuartal II 2022. Neraca Perdagangan Indonesia juga surplus selama 29 bulan berturut- turut. Pada Januari─September 2022, surplus mencapai USD 39,87 miliar,” kata menteri tersebut saat memberikan pidato kunci (keynote speech) seminar bertema ‘Kebijakan Perdagangan, Stabilitas Harga, dan Kondisi Industri Perbankan’ yang diselenggarakan Perbanas Institute hari ini di Jakarta.
Di dalam negeri, harga barang kebutuhan pokok terpantau stabil di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
“Untuk minyak goreng curah yang menjadi tugas khusus dari Presiden RI, saat ini harganya sudah di bawah harga eceran tertinggi (HET), yaitu Rp13.800 per liter. Selain itu, Minyakita juga sudah tersedia di 34 provinsi termasuk Nusa Tenggara Timur, Papua, dan Papua Barat,” imbuhnya.
Tahun 2022, ia mengatakan, Kementerian Dalam Negeri (Kemendag) fokus pada program dan kebijakan prioritas untuk penguatan pasar dalam negeri dan peningkatan ekspor nonmigas.
Untuk penguatan pasar dalam negeri, Kemendag memprioritaskan stabilisasi harga dan ketersediaan bahan pokok untuk mengendalikan inflasi. Sedangkan untuk peningkatan ekspor nonmigas, Kemendag memprioritaskan penetrasi pasar ekspor nontradisional melalui promosi, misi dagang, dan pembentukan kerja sama perdagangan melalui skema Preferential Trade Agreement (PTA), Free Trade Agreement maupun Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).
