Jakarta, TopBusiness—Menteri Perindustrian RI (Menperin) Agus Kartasasmita mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan langkah-langkah mitigasi dari berbagai tekanan ke industri tekstil dan produk tekstil, serta alas kaki. Itu khususnya dari risiko global.
“Pertama, kami upayakan pencarian pasar baru untuk ekspor bagi sektor industri. Kami mencoba buka akses untuk pasar ke Amerika Latin dan Selatan, Afrika, negara-negara Timur Tengah, dan Asia,” kata menteri itu kemarin malam.
Berikutnya, langkah penguasaan pasar dalam negeri, dengan memerkuat dan mendorong promosi dan kerja sama lintas sektoral agar. Ini agar program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) semakin tumbuh. “Melalui program ini juga akan menumbuhkan sektor industri itu sendiri,” kata menteri itu secara tertulis ke wartawan.
Menperin menambahkan, upaya lain yang perlu dipacu adalah penguatan daya saing industri dengan kemudahan akses bahan baku, penguatan ekosistem usaha, dan penguatan sistem produksi. “Kita bisa lihat dengan berbagai instrumen seperti BMDTP, juga larangan terbatas (lartas), dan banyak lagi instrumen lain yang bisa kita pergunakan,” ujarnya.
Berdasarkan laporan dari sejumlah asosiasi, industri tekstil dan produk tekstil serta alas kaki, sedang mengalami kinerja yang melambat. Hal ini dikarenakan menurunnya utilisasi di sektor industri serat (20%), spinning (30%), weaving dan knitting (50%), garmen (50%), pakaian bayi (20-30%), dan alas kaki (49%). Beberapa perusahaan itu sudah ada yang memangkas jam kerjanya jadi tiga hingga empat hari, yang biasanya tujuh hari kerja.
Atas kondisi tersebut, tenaga kerja yang terdampak PHK (pemutusan hubungan kerja) dari industri tekstil dan garmen dilaporkan mencapai 92.149 orang dan dari industri alas kaki sebanyak 22.500 orang. “Namun demikian, dari hasil laporan itu, sedang dilakukan cross check di lapangan oleh satgas internal Kemenperin maupun lintas kementerian dan lembaga terkait,” kata menperin.
Pada triwulan III 2022, industri TPT tumbuh mencapai 8,09 persen (y-o-y/year on year), namun mengalami perlambatan secara q-to-q (quarter to quarter), terkontraksi hingga -0,92 dibandingkan triwulan II 2022. Meski begitu, ekspor secara kumulatif masih mengalami kenaikan sampai dengan September 2022 sebesar 15,6% bila dibandingkan data yang pada periode yang sama tahun 2021.
Sementara itu, industri alas kaki, kulit, dan barang dari kulit tumbuh 13,44 persen (y-o-y) pada periode ini. Ekspor alas kaki secara kumulatif sampai dengan September 2022 juga masih mengalami kenaikan sebesar 35,0 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Kinerja pertumbuhan subsektur ini masih cukup tinggi, disebabkan pengalihan order dari China dan Vietnam ke Indonesia, sehingga PDB nasional masih positif. Namun demikian, Kemenperin terus mewaspadai dampak krisis global,” kata menperin.
Karenanya, Kemenperin membentuk Satuan Tugas Pengamanan Krisis Industri Tekstil, Kulit Dan Alas Kaki dengan tugas utama menginventarisasi industri TPT dan alas kaki yang terdampak oleh krisis perekonomian global, serta permasalahan yang dihadapi. Selanjutnya, satgas menyusun rencana aksi dan strategi mitigasi berdasarkan inveentarisasi permasalahan.
“Satgas juga berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait dalam pelaksanaan strategi mitigasi yang diambil tersebut,” pungkas menperin.
