Jakarta, TopBusiness—Inflasi menjadi kekhawatiran terbesar saat ini dan konsumen menyadarinya. Sebagian besar masyarakat memandang pandemi hampir sepenuhnya berlalu dan inflasi menjadi tantangan selanjutnya dengan 98% responden yang merasakan tren kenaikan harga.
Hal itu merupakan salah satu hasil riset DBS Group Reseaarch bertopik Indonesia Consumption Basket, yang ringkasannya diterima tadi pagi oleh Majalah TopBusiness.
Dijelaskan, 55% dari total 700 responden riset itu, memandang inflasi tersebut disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan konflik geopolitik Ukraina dan Rusia. Sementara itu, masyarakat mengemukakan beberapa alasan lain yang menyebabkan inflasi, yakni disrupsi rantai pasokan akibat Covid-19 (19% responden) dan kenaikan suku bunga The Fed (16% responden).
Pada bulan November 2022, tingkat inflasi mencapai 5,42% secara tahunan. “Pada kenyataannya, DBS Group Research menemukan bahwa 54% responden merasa pengeluaran mereka melebihi statistik inflasi Indonesia, meningkat di atas 10% bahkan lebih”, demikianlah hasil survei itu.
Konsumen memilih BBM dan bahan makanan sebagai dua hal dengan peningkatan paling signifikan terutama karena perannya sebagai kebutuhan sehari-hari.
Konsumen memerkirakan kenaikan tingkat inflasi akan terjadi dalam kurun waktu yang lebih panjang. Dengan persentase yang tinggi, yakni 89% responden melihat tren ini akan berlangsung selama enam bulan ke depan dan lebih jauh.
Ini berarti konsumen mengantisipasi situasi inflasi yang tinggi akan bertahan hingga paruh pertama 2023 atau bahkan hingga tahun 2024.
