Jakarta, TopBusiness – Kinerja PT Bank KB Bukopin Tbk (IDX: BBKP) dalam menekan kredit macet cukup berat. Hal ini lantaran bank milik investor asal Korea Selatan itu masih memiliki bad loan, sehingga posisi rasio kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) saat ini relative tinggi di angka 7,6 persen (gross).
Rencananya, hingga 2025 nanti, perseroan bertekad untuk bisa menekan angka NPL hingga di level 5,4 persen. Meski angka tersebut masih tinggi, namun relatif lebih baik jika dibanding di awal tahun 2022 yang sangat melambung di posisi 11,76% per kuartal I-2022 lalu.
Untuk itu, menurut Wakil Presiden Direktur Bank KB Bukopin Robby Mondong, Bank Bukopin akan mengusung beberapa strategi untuk bisa memperbaiki kualitas kredit yang buruk itu, sekaligus menekan angka NPL tersebut.
“Strateginya, pertama adalah mengurangi bad loans. Yakni memperbaiki citra bank yang buruk dengan book-offing sekitar 30 persen kredit macet,” ujar Robby mengutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Senin (26/12/2022).
Langkah tersebut, kata dia, dilakukan melalui bulk sales atau penjualan seluruh atau sebagian barang perusahaan milik debitur. Cara itu dilakukan dengan dua langkah, yakni melalui likuidasi tertentu dan melalui peneritan obligasi syariah atau Sukuk.
Adapun langkah kedua adalah dengan membangun sistem manajemen hari tunggakan atau day past due (DPD) secara sistematis. Langkah tersebut dilakukan melalui tiga hal, yakni membangun budaya kredit dan menyiapkan rencana untuk mendistribusikannya.
“Lalu selain itu, meningkatkan proses manajemen kredit serta memulai pengembangan pada beberapa area sebelum bermigrasi pada sistem core banking menjadi new generation banking system (NGBS),” ujar dia.
Dengan cara itu, Bank Bukopin optimistis bisa menekan angka NPL menjadi 5,4 persen di tahun 2025 nanti dari posisi akhir 2022 ini di angka 7,6 persen.
Untuk diketahui, pada kuartal I-2022 NPL gross Bank Bukopin sempat tembus ke level dua digit yakni mencapai 11,76 persen. Angka tersebut berarti naik 213 bps dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 9,63 persen. Sementara itu, kredit bermasalah net stagnan pada level 4,95 persen.
