Jakarta, TopBusiness — PT Trans Power Marine Tbk (IDX: TPMA) mengaku tetap optimistis terhadap bisnis perusahaan saat ini yang masih mengandalkan pengangkutan komoditas batubara dan nikel.
Pasalnya, dengan masih meningginya produksi dua komoditas tersebut membuat bisnis pelayaran dan logistis yang dijalankan perseroan masih menguntungkan. Alhasil, TPMA pun berani mematok target laba bersih bisa meroket 30%.
Demikian seperti disampaikan Direktur TPMA, Rudy Sutiono, saat paparan publik seusai acara Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), di Jakarta, Rabu (17/5/2023).
“Potensi pengangkutan bisnis batubara ini sangat bagus dan menguntungkan. Makanya kami di tahun ini terus memperpanjang kontrak dengan perusahaan batubara, salah satunya PT Birneo Indo Bara,” jelas Rudy.
Menurut dia, di tahun angka produksi batubara nasional sangat tinggi mencapai 687 juta ton. Bahkan lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Hal yang sama juga terjadi untuk produksi nikel.
“Produksi batubara kita sangat tinggi tahun kalau capai 687 juta ton. Padahal di tahun-tahun lalu hanya 200-an juta ton. Makanya dengan masih tingginya produksi batubara dan nikel, kami yakin kinerja kami tahun ini bisa meningkat. Kami proyeksi net profit bisa bertumbuh 20% sampai 30%, ” jelasnya.
Sepanjang 2022 lalu, TPMA sendiri meraup laba US$14,29 juta atau melonjak 261,08% secara tahunan (yoy) dari perolehan 2021 yang sebesar US$3,96 juta.
Mengutip data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dilaporkan, produksi batu bara dalam negeri mencapai 687 juta ton pada 2022. Jumlah tersebut meningkat 11,9% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 614 juta ton.
Ada pun untuk produksi nikel juga tinggi. Berdasar data dari Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), produksi nikel global diperkirakan mencapai 3,3 juta metrik ton pada 2022, meningkat 20,88% dari tahun sebelumnya yang sebesar 2,73 juta metrik ton.
Indonesia menjadi produsen nikel terbesar di dunia pada 2022, dengan produksi nikel diperkirakan mencapai 1,6 juta metrik ton. Filipina berada di posisi kedua dengan produksi nikel sebesar 330.000 metrik ton, diikuti oleh Rusia dengan produksi sebesar 220.000 metrik ton.
Dengan kondisi tersebut, pada penghujung 2022, TPMA mendapatkan kontrak baru pengangkutan batu bara dari PT Indexim Coalindo dengan volume 2,5 juta ton senilai US$10 juta dan jangka waktu kontrak selama 2 tahun yang dapat diperpanjang berdasarkan kesepakatan para pihak.
TPMA juga berhasil melakukan perpanjangan kontrak pengangkutan dengan beberapa kliennya, antara lain PT Borneo Indo Bara, PT Dian Ciptamas Agung, PT Pelayaran Bahtera Adiguna, PT Exploitasi Energi Indonesia, dan PT Dwi Guna Laksana dengan jangka waktu perpanjangan kontrak bervariasi 1-3 tahun.
