Jakarta, TopBusiness — PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk, yang memiliki brand Cinema XXI direncanakan bakal melepas saham ke publik melalui skema penawaran umum perdana saham (IPO).
Dalam aksi korporasi kali ini, Cinema XXI, akan menawarkan sebanyak-banyaknya 8.335.000.000 saham baru yang dikeluarkan dari portepel perusahaan atau setara 10,0% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO.
Rencananya, masa penawaran awal dalam rangka IPO PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk tersebut akan berlangsung mulai tanggal 10 hingga 14 Juli 2023 nanti.
Dengan rentang harga penawaran saham berada di kisaran Rp270-Rp288 per saham, sehingga target dana dari penawaran umum perdana saham ini sebanyak-banyaknya sekitar Rp2,4 triliun. Dan rencananya akan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2 Agustus 2023 nanti.
Disebutkan Direktur Utama PT Indo Premier Sekuritas, Moleonoto The, ada beberapa poin yang bikin IPO ini menarik, salah satunya perseroan adalah market leader dengan market share paling besar di industrinya.
“Cinema XXI itu market leader dengan brand awareness yang juga terkuat. Berdasar data riset dari Euromonitor, saat ini dengan jumlah bioskop sebanyak 225 bioskop dan jumlah layar sebanyak 1.268, dan tersebar di beberapa kota baik kecil maupun besar, dan saat ini menguasai pangsa pasar hingga 50-an persen lebih,” ungkap dia, di Jakarta, Jumat (7/7/2023).
Indo Primer sendiri salah satu dari yang ditunjuk Cinema XXI sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Selain Indo Primer, ada Mandiri Sekuritas, PT J.P. Morgan Sekuritas Indonesia, dan PT UBS Sekuritas Indonesia.
Dia melanjutkan, berdasar data tersebut, untuk pengunjung di tahun lalu di bioskop milik Cinema XXI itu ada sebanyak 68% dari total jumlah penonton bioskop nasional.
Dia melanjutkan, survei oleh Euromonitor International di awal tahun 2023 itu menyatakan bahwa 76% masyarakat di Indonesia pergi ke bioskop setidaknya sekali dalam sebulan dan 62% masyarakat Indonesia menilai menonton sebagai salah satu kegiatan sosial utama, seperti menghabiskan waktu bersama keluarga atau sahabat.
Selain itu, Euromonitor juga mencatat Indonesia memiliki industri film domestik yang besar dan berkembang. Adapun kontribusi film domestik terhadap gross box office/GBO Indonesia pada tahun 2023 diproyeksikan sebesar 51%.
Tidak hanya industri film domestik yang terus berkembang, potensi pertumbuhan jumlah layar bioskop di Indonesia juga masih sangat besar.
Berdasarkan riset Euromonitor lagi, negara maju rata-rata memiliki 84,3 layar per satu juta penduduk (estimasi 2022) sementara Asia Tenggara rata-rata memiliki 30,2 layar per satu juta penduduk.
Di sisi lain, Indonesia baru memiliki 7,6 layar per satu juta penduduk dengan total layar bioskop dari seluruh operator di Indonesia hingga akhir tahun 2022 diestimasi sekitar 2.107 layar.
Dari sisi keuangan, kata dia, Cinema XXI mencatatkan kinerja yang solid pada 2022, yakni pendapatan sebesar Rp4,40 triliun, meningkat dari tahun sebelumnya yakni sebesar Rp1,28 triliun di tahun 2021.
Pendapatan di tahun 2022 terutama ditopang oleh penjualan tiket bioskop sebesar 61%, penjualan makanan dan minuman sebesar 33%, iklan sebesar 3% dan digital platform sebesar 3%.
Direktur Utama PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk, Hans Gunadi menegaskan, atas kerja keras dan komitmen seluruh keluarga besar Cinema XXI, kinerja keuangan mengalami pemulihan pendapatan yang kuat menuju level sebelum Covid-19.
“Pendapatan Rp4,40 triliun tersebut setara dengan 64% perolehan pendapatan pada 2019 sebesar Rp6,89 triliun, sementara Cinema XXI baru beroperasi dengan kapasitas penuh pada Mei 2022,” tandas Hans.
Dengan kinerja solid tersebut, Cinema XXI mencetak laba bersih Rp506 miliar pada 2022, dari sebelumnya rugi Rp354 miliar pada 2021. “EBITDA Cinema XXI juga semakin tangguh yakni sebesar Rp1,44 triliun pada 2022, dari sebelumnya Rp329 miliar pada 2021,” pungkas Hans.
