Jakarta, TopBusiness—PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk (IKAI) mencatatkan kenaikan laba usaha di kuartal II 2023, berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan perseroan pada akhir Juli 2023. Kenaikan laba usaha didukung perbaikan usaha dan efisiensi beban usaha perseroan yang dapat menjaga stabilitas grup usaha di sepanjang kuartal ini.
Presiden Direktur IKAI Yohas Raffli mengatakan, “Kendati masih tertekan, perseroan berhasil mencatatkan laba usaha Rp 1,39 miliar dari sebelumnya masih rugi Rp 3,94 miliar,” kata Yohas, dalam keterbukaan informasi untuk bursa saham, hari ini.
Perseroan optimistis di tengah kondisi global dan nasional serba menantang. Perusahaan akan mendorong seluruh lini usaha untuk terus mengoptimalkan kinerja operasional demi memaksimalkan keuntungan.
“Selama di kuartal II tahun ini bisnis manufaktur agak menurun. Namun bisnis dari lini usaha hospitality malah berkontribusi jauh lebih baik. Di sisi lain, perusahaan terus menggenjot efisiensi untuk memaksimalkan capaian keuntungan,” kata Yohas.
Menurut Yohas, perseroan memiliki keuntungan dengan tiga lini usaha yang berdampingan. Di saat satu lini usaha agak menurun, lini usaha lain justru melesat.
IKAI sendiri merupakan emiten investasi yang memiliki tiga lini usaha, yakni manufacturing, perhotelan, dan property development. Peluang ini yang terus dimanfaatkan perseroan demi memaksimalkan posisi keuangan dan melangkah di tengah kondisi perekonomian yang penuh tantangan. Manajemen perusahaan pun telah dan akan mengeksekusi prioritas-prioritas strategis yang telah tersusun dalam rancangan kerja (roadmap) jangka panjang.
Berdasarkan laporan keuangan di kuartal II 2023, pendapatan perseroan naik dari Rp108,8 miliar pada 30 Juni 2022 menjadi Rp109,9 miliar. Beban pokok perusahaan juga berhasil ditekan dari semula Rp60,8 miliar menjadi Rp51,4 miliar, sehingga laba bruto perseroan naik dari Rp48,01 miliar menjadi Rp58,4 miliar.
Di periode yang sama, perusahaan berhasil melakukan efisiensi bisnis dengan menekan beban operasional. Hal ini terlihat dari beban penjualan yang berhasil ditekan dari Rp4,72 miliar menjadi Rp4,38 miliar. Meski demikian, beban umum dan administrasi masih naik dari Rp 47,2 miliar menjadi Rp 52,7 miliar.
“Kendati masih tertekan, perseroan berhasil mencatatkan laba usaha Rp 1,39 miliar dari sebelumnya masih rugi Rp 3,94 miliar,” Yohas menegaskan.
