Jakarta-Thebusinessnews. Semua agama pada dasarnya mengajarkan mengatasi kesenjangan dan kemiskinan. Dalam Islam diajarkan konsep zakat, sedekah dan wakaf. Dalam Nasrani diajarkan konsep cinta kasih. Di Hindu diajarkan konsep Dana Punia. Dan di Budha diajarkan konsep Atthavara Dana, Amisa Dana, dan Nicca Dana. Demikian pula dalam budaya leluhur bangsa, juga diajarkan konsep mengatasi kesenjangan dan kemiskinan.
Namun sayangnya, konsep-konsep tersebut seakan sebatas wacana semata. Belum ada upaya memaksimalisasi terhadap konsep-konsep tersebut, agar dapat diejawantahkan sebagai bagian dari upaya bangsa dalam mengatasi kesenjangan dan kemiskinan.
Hal itu disamapiakn Pendiri Centre for Agriculture and People Support, Dr. H.S. Dillon “Jika setiap pemeluk agama dapat melaksanakan konsep mengatasi kesenjangan dan kemiskinan yang diajarkan sesuai agama mereka bagi rakyat Indonesia, kesenjangan dan kemiskinan sebenarnya dapat diatasi, “ ujar dia di Jakarta, Selasa(14/6/2016).
.
Ia melanjutkan Konsep ini perlu menjadi sebuah budaya dimana membantu seseorang dari kesenjangan dan kemiskinan, menjadi sebuah keharusan. Jangan sampai terjadi seseorang taat dalam melaksanakan sebuah agama, namun kemudian menafikan konsep mengatasi kesenjangan dan kemiskinan yang diajarkan agama tersebut.
Pendekatan budaya ini perlu dimaksimalisasi karena di Indonesia, sekalipun kondisi kemiskinan absolut terus menurun, namun kesenjangan meningkat. Satu persen menguasai 50.3% kekayaan negara. Dan pemerintah pun kini abai dengan kondisi tersebut, dengan membuat kebijakan yang tidak memihak untuk menanggulangi kesenjangan dan kemiskinan. Seperti membuat kebijakan yang hanya pro pada teknologi, globalisasi maupun reformasi pro-pasar semata. Kebijakan yang ternyata hanya memperlebar kesenjangan dan kemiskinan di Indonesia.(ir)