TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

GRC Bukan Rem Bisnis, tapi Navigator agar PHE Berani Melaju

Teguh Imam Suyudi
16 September 2026 | 12:38
rubrik: Business Info, GCG
GRC Bukan Rem Bisnis, tapi Navigator agar PHE Berani Melaju

Whisnu Bahriansyah

Jakarta, TopBusiness – Di industri hulu minyak dan gas bumi, kecepatan mengambil keputusan harus berjalan beriringan dengan kemampuan mengelola risiko. Investasi yang besar, ketidakpastian eksplorasi, hingga kompleksitas operasi membuat setiap keputusan bisnis memiliki konsekuensi yang perlu diperhitungkan.

Dalam konteks itu, Governance, Risk Management, and Compliance (GRC) tidak semestinya hadir sebagai penghambat langkah perusahaan. Bagi PT Pertamina Hulu Energi (PHE), GRC justru diarahkan menjadi enabler yang membantu perusahaan bergerak cepat dengan tetap memperhitungkan risiko.

Dalam wawancara dengan TopBusiness, di kantor PHE Jakarta, Selasa (11/08/2026), Direktur Manajemen Risiko PHE Whisnu Bahriansyah menggambarkan posisi GRC melalui sebuah analogi sederhana: mobil reli dan navigatornya.

“GRC seperti navigator dalam sebuah mobil reli,” ujar Whisnu.

Dalam sebuah reli, pengemudi dituntut melaju secepat mungkin untuk mencapai garis finis. Namun, kecepatan saja tidak cukup. Ada tikungan tajam, perubahan kondisi jalan, hingga berbagai kemungkinan yang dapat muncul sepanjang perjalanan.

Navigator bertugas membantu pengemudi membaca situasi dan menentukan kapan harus mempertahankan kecepatan, kapan menginjak gas, dan kapan mengerem.

Menurut Whisnu, peran tersebut relevan dengan fungsi GRC di PHE. GRC bukan pengemudi yang menentukan arah bisnis, tetapi menjadi bagian yang memberikan perspektif mengenai risiko sehingga keputusan dapat diambil dengan lebih terukur.

“Ketika waktunya menginjak gas, ya harus menginjak gas. Ketika ada tikungan dan harus mengerem, ya harus mengerem,” katanya.

Karena itu, Whisnu tidak ingin GRC dipersepsikan sekadar sebagai rem yang membuat perusahaan berhenti. Kalaupun GRC dianalogikan sebagai rem, ia berharap rem tersebut merupakan rem yang pakem.

Rem yang pakem, menurut dia, justru memberikan rasa percaya diri kepada pengemudi untuk melaju lebih cepat. Pengemudi berani menekan pedal gas karena mengetahui bahwa ketika menghadapi kondisi yang membutuhkan pengereman, sistem tersebut dapat bekerja dengan baik.

BACA JUGA:   Sepanjang 2025, Produksi Minyak Pertamina EP Tembus 27.643 Barel per Hari

Analogi itu menjadi penting bagi PHE yang bergerak di sektor hulu migas. Industri ini memiliki tingkat risiko tinggi, membutuhkan biaya besar, dan keberhasilan eksplorasi tidak selalu dapat dipastikan.

Dalam situasi seperti itu, GRC tidak boleh menjadi fungsi yang membuat perusahaan takut mengambil keputusan. Sebaliknya, GRC harus membantu perusahaan memahami risiko dan memastikan keputusan bisnis tetap berada dalam koridor yang dapat dipertanggungjawabkan.

Bagi Whisnu, ukuran keberhasilan GRC bukan semata-mata banyaknya aturan atau mekanisme pengawasan yang dibangun. Indikator yang lebih penting adalah ketika aspek GRC telah menjadi bagian dari cara berpikir insan PHE dalam mengambil keputusan.

“Keputusan-keputusan yang diambil berdasarkan pertimbangan GRC tersebut mampu menghasilkan kemajuan bagi perusahaan,” ujarnya.

Dengan cara pandang tersebut, GRC ditempatkan bukan di belakang bisnis sebagai penjaga yang hanya mengatakan boleh atau tidak boleh. GRC berada di dalam perjalanan bisnis, membantu membaca risiko dan memberikan keyakinan agar perusahaan dapat bergerak.

Pada akhirnya, PHE ingin GRC menjadi bagian dari mesin yang membuat perusahaan mampu melaju cepat, tetapi tetap terkendali. Sebab, dalam perjalanan bisnis hulu migas, keberanian untuk melaju akan semakin kuat ketika perusahaan memiliki navigator yang dapat dipercaya dan rem yang benar-benar pakem.

Tags: PHEPT Pertamina Hulu EnergiWhisnu Bahriansyah
Previous Post

Komunitas Motor Gaspol Sambut Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Mandalika

Next Post

Prodia Raih Sertifikasi ISO 14001:2015, Perkuat Tata Kelola Lingkungan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR