TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Wow! Pefindo Sebut Surat Utang Jatuh Tempo di 2024 bakal Capai Rp148,3 Triliun

Busthomi
11 December 2023 | 15:30
rubrik: Capital Market
Wow! Pefindo Sebut Surat Utang Jatuh Tempo di 2024 bakal Capai Rp148,3 Triliun

FOTO: TopBusiness

Jakarta, TopBusiness – PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo mengatakan, pasar surat utang di tahun depan bakal masih ramai. Hal ini tak lepas dari tingginya surat utang yang akan jatuh tempo sepanjang 2024 itu. Surat utang tersebut terdiri dari obligasi, MTN (medium term note), atau sukuk alias obligasi syariah.

Disebut Pefindo, jumlah surat utang yang akan jatuh tempo di tahun depan itu totalnya mencapai Rp148,3 triliun. Angka tersebut sangat tinggi bahkan senilai dengan proyeksi penerbitan surat utang di tahun 2024 tersebut yang diramal bakal mencapai antara Rp148,15 triliun hingga Rp169,05 triliun, atau dengan titik tengah mencapai Rp155,46 triliun.

“Dari total surat utang yang akan jatuh tempo itu mayoritas ditanggung oleh sector multifinance dan perbankan. Untuk multifinance total surat utang yang akan jatuh tempo sebanyak Rp26,3 triliun dari 21 perusahaan. Sedangkan dari sector perbankan senilai Rp24,7 triliun terdiri dari 15 perusahaan,” ungkap Direktur Utama Pefindo, Irmawati Amran dalam acara media forum, Senin (11/12/2023).

Kemudian disusul beberapa sektor yang memiliki surat utang jatuh tempo yang cukup besar plus jumlah perusahaannya. Yaitu masing-masing sektor telekomunikasi Rp14,1 triliun (8 perusahaan), lembaga keuangan khusus Rp14,0 triliun (3), lembaga pembiayaan non multifinance Rp12,1 triliun (3), pulp dan kertas Rp8,3 triliun (4), pertambangan Rp7,5 triliun (6), konstruksi Rp5,4 triliun (5), property Rp5,1 triliun (10), perkebunan Rp4,4 triliun (5), dan sector lainnya mencapai Rp26,4 triliun terdiri dari 42 perusahaan.

“Jadi sektor multifinance itu mencapai 17,8% dan perbankan sebesar 16,7% dari total surat utang yang akan jatuh tempo di 2024. Namun jika dilihat dari peringkatnya, surat utang yang akan jatuh tempo itu mayoritas di peringkat AAA sebanyak 45,8% atau setara dengan Rp67,8 triliun, untuk peringkat A sebesar 21,3% atau Rp31,6 triliun, dan yang ketiga peringkat AA setara Rp30,1 triliun atau 20,3%. Ini tentu kabar baiknya,” teang dia.

BACA JUGA:   Kuartal I, Laba Indofood Masih Bertumbuh

Selanjutnya, dia mengatakan, untuk surat utang yang sudah diterbitkan itu rata-rata dilihat dari tujuan penggunaan dana hasil penerbitannya adalah untuk belanja modal mencapai 60,6%, lalu refinancing sebanyak 30,0%, investasi hanya 5,9%, dan lain-lain di angka 3,5%.

Hingga November 2023 ini, Pefindo mencatat surat utang yang sudah diterbitkan mencapai Rp120,6 triliun, dengan total outstanding EBUS (efek bersifat utang dan/atau sukuk) listed mencapai Rp480,2 triliun. Sedangkan outstanding secara keseluruhan (EBUS listed+MTN) mencapai Rp517,2 triliun (Rp480,2 triliun + Rp37 triliun.

Secara outstanding EBUS listed memang masih meningkat 2,5%, namun secara tahunan mengalami penurunan dari tahun lalu yang mencapai Rp154,9 triliun

Sementara itu, di tempat yang sama, menurut analis Pefindo Suhindarto, tingginya angka penerbitan surat utang yang mencapai Rp155,46 triliun itu itu antara lain dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama, kebutuhan refinancing lebih tinggi, terindikasi dari nilai surat utang yang jatuh tempo di 2024 yang lebih tinggi daripada 2023 yaitu Rp153,1 triliun dibanding Rp126,9 triliun.

Kedua, aktivitas sector riil terjaga. Ini karena adanya dorongan dari aktivitas kampanye menjelang pemilu serentak membuat permintaan tetap uat dan stabil, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berkisar pada 4,8%-5,2% dengan inflasi di rentang 2,0%-3,5%. Ketiga, kondisi wait and see yang cenderung menurun seiring kepastian kontestasi pemilu serta program priorotas yang diusung.

Keempat, adaptasi strategi bagi korporasi untuk menghadapi kondisi suku bunga yang higher for longer. Semakin banyaknya penerbitan dengan tenor pendek. Dan kelima, likuiditas lembag akeuangan emakin ketat membuat bunga pinjaman yang ditawarkan menjadi semakin mahal dan mendorong permintaan akan sumber pembiayaan alternative, salah satunya melalui penerbitan surat utang.

“Sehingga kami melihat penerbitan surat utang di 2024 masih tinggi. Apalagi jika dilihat yang jatuh tempo tiap kuartalnya cukup tinggi. Di kuartal I-2024 kemungkinan sekitar Rp30,73 triliun, lalu kuartal selanjutnya Rp35,10 triliun, di kuartal III teringgi mencapai Rp42,80 triliun dan kartal IV sekitar Rp39,62 triliun,” katanya dia mengakhiri.

Tags: Irmawati Amranpefindopenerbitan surat utangsurat utangsurat utang jatuh tempo
Previous Post

Investasi Rp 23,2 Triliun di GOTO, TikTok Shop Kembali Beroperasi

Next Post

Indeks Penjualan Riil: Naik 2,9% YoY

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR