TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Ini Tren Kredit di Bawah Pemerintahan Baru Menurut Pefindo dan S&P Global Ratings

Busthomi
16 May 2024 | 09:57
rubrik: Capital Market
Ini Tren Kredit di Bawah Pemerintahan Baru Menurut Pefindo dan S&P Global Ratings

FOTO: Istimewa

Jakarta, TopBusiness — S&P Global Ratings, lembaga pemeringkat kredit independen terkemuka di dunia, bersama dengan PEFINDO, lembaga pemeringkat kredit pertama dan terbesar di Indonesia, menyelenggarakan seminar Annual Indonesia Credit Spotlight yang kedua di Jakarta.

Seminar bertajuk “Tren Kredit di Bawah Pemerintahan Baru” ini menghadirkan para ahli yang membahas mengenai tren kredit utama yang akan membentuk masa depan keuangan Indonesia.

Analis dan ekonom senior dari S&P Global Ratings dan PEFINDO membagikan perspektif mereka mengenai outlook perekonomian Indonesia pada tahun 2024 ini, ulasan mengenai kinerja keuangan pemerintah dan korporasi, serta pandangan mengenai sektor perbankan, transisi energi, dan keuangan berkelanjutan.

Dalam kata sambutannya, Matthew Batrouney, Managing Director, Commercial Lead Sustainable Finance APAC, S&P Global Ratings, . Acara dilanjutkan dengan  presentasi dan sesi panel dengan narasumber dari S&P Global Ratings dan PEFINDO, sebelum ditutup dengan closing remarks oleh Direktur Utama PEFINDO Irmawati Amran.

Pada sesi tren perekonomian,

Senior Economist S&P Global RatingsVishrut Rana menyampaikan, “Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama mencatatkan capaian yang begitu tangguh didukung oleh belanja pemerintah yang kuat.”

Dan untuk sisa tahun 2024 ini, lanjut dia, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan lebih lambat dari trennya karena siklus permintaan domestik yang lebih lemah dan kebijakan moneter yang lebih ketat.

“Dan pasca tahun 2024, perekonomian Indonesia akan menuai manfaat dari pertumbuhan dan peningkatan keterampilan tenaga kerja serta keuntungan dari investasi langsung yang berasal dari dalam dan luar negeri, sehingga menempatkan Indonesia pada jalur pertumbuhan yang stabil hingga tahun 2030,” katanya, dalam acara seminar tersebut, Rabu (15/5/2024).

Terkait tren keuangan pemerintah, Direktur Sovereign Ratings S&P Global Ratings Andrew Wood menuturkan, Kinerja fiskal Indonesia terus memperoleh manfaat dari pertumbuhan pendapatan yang baik dan keputusan belanja yang penuh kehati-hatian.

BACA JUGA:   Survey Buktikan 96 Persen Masyarakat Baca Media Online

“Kami mengantisipasi akan terjadinya transisi yang mulus dari pemerintahan saat ini ke pemerintahan berikutnya, meskipun pendekatan pemerintahan selanjutnya terhadap kebijakan fiskal dan reformasi ekonomi, serta dinamika koalisi parlemen, akan menjadi faktor penentu yang penting atas kinerja Indonesia selama lima tahun ke depan,” jelas dia.

Untuk kondisi eksternal Indonesia saat ini, kata dia, berada pada kondisi yang lebih kuat dibandingkan beberapa tahun yang lalu. “Dan kembalinya pertumbuhan ekspor yang lebih cepat dapat menjaga momentum ini tetap berjalan,” kata dia.

Pada tren korporasi, Managing Director Corporate Ratings S&P Global Ratings Xavier Jean menyatakan, perusahaan-perusahaan di Indonesia mungkin akan memasuki periode pertumbuhan yang lebih lambat dan pengembalian modal yang relatif lebih rendah selama 5 tahun ke depan.

Kata Jean, pertumbuhan PDB yang stabil tidak lagi menghasilkan banyak tambahan pendapatan dan laba, di tengah kenaikan harga dan tekanan terhadap pendapatan yang siap dibelanjakan (disposable income).

“Biaya pendanaan yang dalam kondisi ‘Higher-for-Longer’ ini akan membebani profitabilitas bersih di sektor padat modal. Perusahaan-perusahaan di Indonesia tidak kehilangan minatnya terhadap belanja perusahaan, bahkan ketika pertumbuhan pendapatan dan laba mengalami perlambatan. Kami sedang mengamati dimulainya siklus belanja baru, terutama di sektor-sektor yang terkena risiko transisi dan deplesi,” ungkap dia.

Dalam topik bahasan yang sama, Kepala Divisi Pemeringkatan PEFINDO Yogie Perdana menegaskan, kondisi kredit korporasi lokal diperkirakan akan tetap stabil di tengah tantangan seperti pelemahan rupiah dan kenaikan suku bunga.

“Kebijakan ekonomi yang lebih jelas setelah ditetapkannya Prabowo sebagai presiden terpilih, dan transisi pasca pemilu yang lancar akan memberikan stabilitas makroekonomi dan mendukung kondisi kredit bagi perusahaan-perusahaan local,” kata Yogie.

BACA JUGA:   Peringkat Bank Papua Ditetapkan idA- dengan Prospek Stabil

Selanjutnya, pada tren Perbankan, Direktur Financial Institutions Ratings S&P Global Ratings Ivan Tan mengemukakan, bank-bank di Indonesia telah menunjukkan pemulihan yang kuat pascapandemi dan saat ini menikmati profitabilitas yang baik dengan tetap menjaga rasio permodalan yang sehat.

“Namun demikian, masih terdapat tantangan pada kualitas aset yang mungkin akan menjadi tantangan utama dalam lingkungan suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.”

Menyoroti tren Perusahaan Pembiayaan,Kepala Divisi Pemeringkatan Sektor Keuangan PEFINDO Danan Dito menyampaikan: “Ketahanan perusahaan pembiayaan di Indonesia sedang menghadapi tantangan dengan meningkatnya risiko dan tingkat volatilitas makroekonomi, di mana para perusahan tersebut harus berhadapan dengan suku bunga yang lebih tinggi dan prospek pertumbuhan yang lebih rendah.”

Namun, kata Dito, pemulihan penjualan unit otomotif pasca pandemi, keinginan perbankan untuk mendanai industri pembiayaan, dan marjin yang relatif tinggi menjadi faktor penunjang terhadap kondisi fundamental perusahaan pembiayaan di Indonesia. “Sehingga rasio keuangan seharusnya tetap terjaga,” ucap Dito.

Seminar juga mebahas tren keuangan berkelanjutan di Indonesia, Head of Sustainable Finance Asia-Pacific S&P Global Ratings Bertrand Jabouley berpendapat bahwa: “Dalam konteks Indonesia, transisi energi sangatlah kompleks di tengah perubahan taksonomi Indonesia yang terbaru. Hal ini disebabkan oleh kontribusi industri batubara terhadap kekayaan nasional, seluruh lapangan kerja dan masyarakat yang bergantung pada rantai nilainya (value chain), konsentrasi geografisnya di provinsi-provinsi utama, dan produksi mineral dengan energiyang intensif penting bagi energi bersih.”

Pada topik tren infrastruktur di Indonesia, Managing Director Infrastructure Ratings S&P Global Ratings Abhishek Dangra menyampaikan: “Kebijakan Indonesia perlu diarahkan untuk mengatasi subsidi listrik, iming-iming harga batu bara yang murah, dan keengganan pemerintah untuk menaikkan tarif.”

BACA JUGA:   Saham Bumi Resources, Antam, MD Pictures: Diprediksi Naik

“Revisi rencana transisi energi Indonesia bergantung pada peningkatan tajam kapasitas pembangkit tenaga surya dan gas, serta sejumlah kapasitas pembangkit tenaga nuklir untuk menggantikan batu bara. Rencana-rencana ini belum tercapai dalam skala besar, terutama dengan dana yang dialokasikan hingga saat ini yang hanya merupakan sebagian kecil dari total investasi yang diperlukan untuk tujuan transisi.”

Tags: pefindopemerintahan baruPemerintahan Prabowo-GibranPresiden PrabowoS&P Global Ratingstren kredit
Previous Post

Industri Kulit dan Tekstil Tumbuh di Triwulan I

Next Post

IPA CONVEX Kenalkan Teknologi Tekan Emisi Karbon

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR