TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Perbankan Syariah Pilih Cari Mitra Strategis Ketimbang IPO

Nurdian Akhmad
12 November 2016 | 18:34
rubrik: Finance

Bogor- Thebusinessnews. Otoritas Jasa Keuangan ( OJK ) tengah mendorong peningkatan aset perbankan syariah, diharapkan pada tahun 2019 rasio aset bank syariah dan induknya mencapai 10 persen.

Untuk meningkatkan aset perbankan syariah lebih cenderung mencari mitra strategis ketimbang penawaran saham melalui mekanisme Initial Public Offering(IPO). Fenomena itu disampaikan Direktur Penelitian, pengembangan, Pengaturan  dan Perijinan Perbankan Syariah OJK, Deden Firman.

“Sampai saat ini belum ada rencan IPO dari perbankan syariah, mereka lebih cenderung mencari mitra strategis, “ terang dia, di Bogor-Jawa Barat, Sabtu(12/11/2016).

Padahal, kata dia, dalam peningkatan modal dan aset perbankan syariah dapat memilih berapa cara yakni dengan mengandeng  mitra strategis, melakukan IPO maupun penambahan modal dari pemegang saham pengendali ( PSP).

Untuk diketahui saat ini hanya satu bank syariah PT Bank  Panin Dubai Syariah Tbk (PNBS), namum hasilnya seperti mitra strategis sebab Dubai Islamic Bank masuk sampai 39,49 persen dan 51 persen dimiliki oleh induknya (PT Bank Panin Tbk).” Karena saham beredar di publik minim  sehingga kurang likuid,” terang dia.

Selain peningkatan modal, mengikuti amanat UU no 21 tahun 2008 tentang perbankan syariah maka tahun 2023 seluruh UUS( Unit Usaha Syariah) harus menjadi BUS (Bank Umum Syariah). Untuk itu bank konvensional yang memiliki UUS miliki tiga piihan, pertama melakukan spin-off, melakukan konversi menjadi BUS dan menjual aset syariah kepada BUS.

Kata dia, sampai saat ini terdapat 13 BUS dan 21 UUS. Beberapa pemilik UUS telah pasang ancang ancang untuk mengikuti amanat beleid diatas.”Setelah BPD Aceh konversi ke menjadi BUS dan BPD NTB akan melakukan konversi menjadi BUS setelah persetujuan RUPS-nya  pada Oktober 2016 lalu,” terang dia.

BACA JUGA:   Kang Emil: Soal Perbankan, BJB Harus Jadi Top of Mind Warga Jabar

Ia menerangakan, pilihan konversi tergolong ‘murah’ jika dibandingkan melakukan spin-off. Sebab untuk melakukan spin-off bank Induk harus menyiapkan modal inti sebesar Rp500 miliar,Padahal disisi yang sama pemilik UUS sebagian bermodal cekak.

Kendala spin-off, kata dia, karena modal induk akan tergerus sehingga bisa saja yang tadinya bank BUKU ( Bank Umum Kategori Usaha) II menjadi BUKU I setelah spin-0ff.”Sehingga layanan BUKU II akan ditiadakan setelah modalnya tergerus,” terang dia.(az)

Previous Post

BPSK Batubara Disebut Rugikan Lembaga Jasa Keuangan

Next Post

BNI Kredit Digital Bantu Penyaluran KUR Capai Rp10 Triliun

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR