Jakarta, TopBusiness—Proyeksi lonjakan teknologi yang bergantung pada data, termasuk Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan generatif (AI), secara global akan memerlukan dukungan infrastruktur TI besar yang disediakan oleh pusat data edge. Analisis yang dilakukan oleh perusahaan konsultan real estat global JLL (kode saham di NYSE: JLL) memerkirakan infrastruktur IT dan pusat data yang canggih akan bernilai $317 miliar secara global pada tahun 2026. Ini tumbuh 107% dari $153 miliar pada tahun 2020.
Hal itu dikatakan oleh Jonathan Kinsey, EMEA Lead and Global Chair, Data Centre Solutions, JLL, dalam keterangan tertulis yang diterima Majalah TopBusiness, pagi ini.
JLL mendefinisikan pusat data edge sebagai sebuah fasilitas yang membawa daya komputasi lebih dekat ke tempat data dihasilkan atau digunakan. Secara global, pertumbuhan edge computing akan dipengaruhi, tidak hanya oleh munculnya beberapa megatren berbasis teknologi, tetapi juga oleh kebutuhan akan transfer data yang lebih cepat dan komputasi yang tinggi, serta faktor-faktor seperti kebijakan dan regulasi.
“Dari sudut pandang infrastruktur, perusahaan dan organisasi mengandalkan edge data center untuk memproses dan menganalisis data secara real-time di ujung jaringan, memudahkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan operasional yang lebih efisien,” kata Kinsey.
Kehadiran infrastruktur edge IT yang berfokus pada pusat data akan mengikuti pertumbuhan perangkat IoT, yang menurut analisis JLL diproyeksikan akan naik dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 9,8% selama lima tahun ke depan. Analisis JLL terhadap survei atas karyawan pusat data pada tahun 2023 mengutip bahwa permintaan terhadap latensi rendah dan bandwidth tinggi (41%) adalah faktor pendorong paling penting dalam penggunaan edge data center, diikuti oleh keamanan dan privasi data (38,3%).
Konsumen dan perusahaan yang menuntut produk dan layanan yang lebih baik seperti latensi rendah, komputasi tinggi, AI generatif, dan omnipresence (kehadiran di berbagai lokasi) dapat memastikan bahwa lingkungan cloud dan masa depan edge data center tetap baik melalui pengamatan peluang. Selain itu, kawasan Asia Pasifik (APAC) dan Timur Tengah Afrika Utara (MENA), yang memiliki potensi pertumbuhan signifikan karena peningkatan penetrasi internet dan mobile di kalangan populasi pedesaan, akan lebih mendorong peluang di pasar edge data center yang dapat dijangkau. Di Amerika Serikat, 21% pengembangan pusat data terjadi di kawasan edge.
“Konsumen dan perusahaan akan terus beradaptasi dengan teknologi transformasional dalam kehidupan sehari-hari, dan tanpa distribusi pemprosesan dan penyimpanan data di berbagai lokasi, efisiensi dan solusi mutakhir seperti IoT dan kecerdasan buatan (AI) generatif tidak akan diterima secara luas,” kata Kinsey.
“Edge data center penting untuk memastikan kelancaran operasi bisnis di masa depan serta meningkatkan langkah-langkah keamanan dan melindungi terhadap potensi gangguan. Mengurangi latensi dengan membawa infrastruktur komputasi lebih dekat ke sumber data dan pengguna, infrastruktur IT edge akan menjadi komponen penting dalam ekonomi internasional.”
“Kapasitas Pusat Data di Jakarta telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak akhir tahun 2020. Sebelumnya, banyak pelaku pusat data membangun fasilitas pusat data di dalam kawasan industri yang terletak di timur Jakarta,” kata Farazia Basarah, Country Head JLL Indonesia.
“Saat ini, para pemain pusat data juga sedang memperluas ke wilayah tengah Jakarta dan area komersial sekitarnya di pusat bisnis Jakarta, terutama di lokasi yang memiliki infrastruktur memadai untuk membangun fasilitas dan mendekatkan keberadaan end user,” ujar Farazia.
