Jakarta, TopBusiness – Kementerian Koperasi dan UKM tengah gencar membangun Rumah Produksi Bersama (RPB) di berbagai daerah untuk mengolah kekayaan alam Indonesia agar memiliki nilai tambah. Perlu intervensi teknologi dengan memanfaatkan potensi kekayaan sumber daya alam Indonesia.
Hal ini juga dilakukan sesuai arahan Presiden Jokowi terkait hilirisasi. “Ini menjadi potensial untuk bagaimana membangun industri menengah berbasis keunggulan domestik,” ujar Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki dalam keterangan tertulisnya, Senin (14/10/2024).
Selain membangun RPB, Kemenkop UKM mempersiapkan lebih banyak lagi wirausaha produktif, sehingga melahirkan lagi ekonomi baru yang lebih produktif. “Ini yang kami sedang siapkan dengan program EntrepreneurHub dan kolaborasi dengan banyak pihak,” ujarnya.
Teten juga menegaskan pentingnya pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Hal itu disebabkan saat ini pembiayaan masih menjadi kendala bagi pelaku UMKM.
“Pembiayaan harus kita reform supaya betul – betul bisa melahirkan industri kecil menengah, sehingga bisa menciptakan lapangan kerja berkualitas,“ kata Teten.
Upaya-upaya tersebut dilakukan Kemenkop UKM guna mengatasi masalah jumlah usaha mikro kecil yang masih mendominasi dunia usaha Indonesia dan besarnya tenaga kerja RI yang bekerja di sektor informal.
Teten Masduki mengungkap 97 persen tenaga kerja RI bekerja di sektor usaha mikro informal dan berpendapatan di bawah upah minimun. Saat ini, mayoritas pelaku usaha di Tanah Air adalah usaha mikro dan kecil (lebih dari 99 persen). “Sebanyak 97% tenaga kerja bekerja di sektor usaha mikro informal dan berpendapatan di bawah UMR,” kata Teten.
Dengan struktur tersebut, menurut Teten, berpotensi menyulitkan Indonesia untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap). Tak hanya itu, Indonesia juga dinilai akan sulit mencapai target pendapatan per kapita 30.300 dolar AS pada tahun 2045.
“UMKM tidak boleh hanya dijadikan bumper ekonomi pada saat krisis dan diposisikan sebagai ekonomi subsisten, melainkan harus mengambil bagian dalam pertumbuhan ekonomi,” ujar Teten.
