Jakarta, TopBusiness – PT Rainbow Tubulars Manufacture (RTM), perusahaan produsen pipa untuk kebutuhan minyak bumi dan gas (Migas) ini memastikan bakal siap merampungkan pembangunan pabrik terbarunya yang ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal III-2025 nanti.
Dengan pabrik tersebut nantinya, RTM bisa memiliki kapasitas produksi hingga 70 ribu ton per tahun. Dengan begitu, perusahaan pun memastikan bakal siap memenuhi pasar domestik ketika target di tahun depan dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) akan mencetak sumur baru hingga 1.000 sumur.
Demikian seperti disampaikan oleh Direktur RTM, Barkeilona saat menerima kunjungan dari berbagai jurnalis Media Nasional dalam acara Media Gathering yang digelar SKK Migas, di Kantor RTM, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (20/11/2024).
“Saat ini RTM sedang dalam pembangunan Plant-2, sehingga kapasitas total dapat meningkat menjadi 60,000 – 70,000 ton per tahunnya,” ungkap dia.
Dilanjutkannya, dengan adanya Plant-2 ini, maka RTM diharapkan dapat memenuhi kebutuhan domestik yang diperkirakan meningkat sejalan dengan rencana pemerintah untuk meningkatkan lifting minyak di Indonesia. Dan tentu saja akan dapat memiliki kapasitas lebih untuk memenuhi kebutuhan ekspor yang sejak 2023 dihentikan karena RTM mengutamakan untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Produksi perdana RTM, kata dia, dimulai pada tahun 2017 untuk pasar ekspor dan pada tahun 2018 mulai memasok kebutuhan domestik.
“Sehingga, sejak tahun 2018 sampai saat ini kontribusi RTM terus bertambah dalam memasok kebutuhan pipa khususnya Tubing untuk kebutuhan domestic,” katanya.

Tercatat, berdasar laporan dari Perseroan, tahun 2018 memasok ke pasar domestik sebanyak 8.000 ton, tahun 2019 sebanyak 7,500 ton, tahun 2020 sebanyak 5.000 ton, tahun 2021 sebanyak 10 ribu ton, tahun 2022 ada sebanyak 14 ribu ton, tahun 2023 mencapai 15,5 ribu ton, dan hingga Oktober 2024 sudah mencapai 17,5 ribu ton.
“Saat ini RTM berkomitmen untuk terus menigkatkan kualitas dan keselamatan kerja dan menjalankan operasi Perusahaan dengan mengedepankan prinsip sustainability sebagai bentuk tanggung jawab kami kepada lingkungan dan sosial,” ungkapnya.
Sebagai informasi, RTM didirikan pada tahun 2016 dengan 100% kepemilikan modal asing, dan pada tahun 2019 PT Sunindo Pratama Tbk (IDX: SUNI) mengakuisisi saham RTM sebanyak 60%.
Setelah listed di Bursa Efek Indonesia pada 9 Januari 2023, SUNI kembali melakukan akuisisi terhadap 39,6% saham RTM, sehingga kepemilikan RTM menjadi 100% dimiliki oleh Perusahaan Dalam Negeri dengan komposisi saham yang dimiliki sebesar 99,96% oleh SUNI dan 0,04% dimiliki oleh PT Sinarindo Prima.
RTM membuka babak baru dalam industry pipa untuk kebutuhan Migas dengan menjadi pabrikan pipa OCTG Seamless pertama yang berproduksi di Indonesia.

TKDN
Kata dia, kemajuan ini tidak lepas dari campur tangan SKK Migas yang terus mendorong penggunaan produk dalam negeri melalui Program KapNas.
SKK Migas melakukan dukungan secara komprehensif, tidak hanya mendorong KKKS untuk memakai produk dalam negeri tetapi juga melakukan pembinaan kepada RTM untuk memastikan kualitas produk pipa seamless-nya dapat diterima.
Bersama Dirjen Migas dan beberapa KKKS besar SKK Migas melakukan evaluasi dan pembinaan produsen dalam negeri. Untuk initial assement RTM berhasil mendapat score 78.
“Dukungan terhadap produk dalam negeri saat ini terus digalakkan oleh pemerintah, antara lain melalui SKK Migas, adalah untuk dapat meningkatkan perekonomian nasional. Terlebih lagi dengan target pertumbuhan ekonomi tinggi yakni 8% yang digaungkan oleh pemerintah saat ini. Makanya penggunaan produk lokal (TKDN) akan dapat membantu pencapaian target tersebut,” kata dia.
Yang terutama, lanjutnya, penggunaan produk lokal akan dapat menciptakan lapangan kerja dan memberikan multiplier effect bagi perekonomian pada sektor-sektor lainnya.
“Mari kita bersama tunjukan cinta kita kepada produk dalam negeri dengan meningkatkan penggunaan produk dalam negeri,” ajaknya, sambil mengakhiri sesi diskusi dengan awak media nasional.
