Jakarta, TopBusiness – Ketua Dewan Komisioner (DK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar menyatakan, pasar modal Indonesia siap turut mewujudkan target pertumbuhan ekonomi yang diusung oleh Presiden Prabowo Subianto yakni mencapai 8%. Dengan segala indicator kinerja tahun lalu, bukan tak mungkin pasar modal terus berkontribusi positif terhadap perekonomian nasional.
Dikatakan Mahendra, kinerja pasar modal yang positif merupakan modal penting bagi pegiat pasar modal untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dipatok mencapai 8%.
Namun demikian, dia mengingatkan, terdapat isu-isu struktural yang dapat menghambat optimalisasi potensi pasar modal mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, di antaranya pasar yang kurang dalam sehingga memiliki volatilitas yang tinggi, issuers dan produk keuangan yang masih terbatas, basis investor baik institusional dan retail yang masih kecil, serta isu crowding out antar-instrumen keuangan maupun insentif fiskal bagi sektor-sektor prioritas.
“Untuk itu, reformasi struktural perlu terus dilanjutkan agar potensi pasar modal sebagai sarana penggalangan dana bagi investasi dan pertumbuhan perusahaan-perusahaan dan perekonomian nasional dapat makin terwujud,” katanya, dalam pembukaan perdagangan perdana 2025, di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Kamis (2/1/2025).
Pada tahun 2025, kata Mahendra, OJK bersama seluruh pemangku kepentingan termasuk Self Regulatory Organization (SRO) berkomitmen untuk mengimplementasikan berbagai program strategis Pemerintah.
“Berbagai program tersebut difokuskan pada penguatan dan pengembangan pasar modal salah satunya melalui peningkatan pendalaman pasar, antara lain, peningkatan kuantitas dan kualitas perusahaan tercatat,” katanya.
Program strategis ini dilaksanakan melalui berbagai inisiatif termasuk meningkatkan porsi saham free float dan mendorong perusahaan dengan kapitalisasi pasar besar untuk melantai di bursa. Selain itu, OJK juga akan melakukan penguatan regulasi dan sistem dalam proses penawaran umum agar lebih efisien dan transparan.
OJK jua mendorong pengembangan produk, infrastruktur dan layanan baru. Dalam hal ini, pogram tersebut dilaksanakan melalui peningkatan peran investor institusi pada pasar perdana dan sekunder di Pasar Modal.
“Dalam konteks ini, kami mendorong optimalisasi penggunaan Efek Beragunan Aset (EBA) untuk mendukung likuiditas pelaksanaan program 3 juta rumah. Untuk itu, kami siap mendorong sinergi untuk memperkuat skema dan ekosistem EBA,” kata dia.
“Kami juga akan mengembangkan produk baru dan optimalisasi pemanfaatan produk pasar modal eksisting termasuk bursa karbon dan produk yang berwawasan ESG, serta pengembangan infrastruktur beserta layanan transaksi efek,” lanjutnya.
OJK juga mendorong program penguatan anggota bursa dan MI yang menjadi prioritasnya melalui peningkatan kapasitas, tata kelola, pengendalian internal, manajemen risiko, dan kepatuhan anggota bursa dan MI. Termasuk keamanan teknologi informasi dan operasional.
“Selain itu, anggota bursa dan MI diharapkan dapat lebih berperan dalam memperluas penetrasi produk pasar modal, tidak terbatas pada saham saja. Hal tersebut diiringi dengan penguatan perlindungan kepada investor guna memastikan kepercayaan investor,” katanya.
Di samping penguatan dan pengembangan pasar modal di atas, penguatan integritas pasar akan terus dilakukan melalui penegakan hukum yang tegas dan konsisten, terutama untuk melindungi investor ritel dari saham-saham dengan pergerakan yang tidak wajar.
“Untuk melaksanakan berbagai program tersebut, kami juga memerlukan dukungan pemerintah, antara lain, penyempurnaan kerangka pengaturan di sektor keuangan seperti penyelesaian produk turunan Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK), antara lain peraturan terkait cut loss dan penurunan nilai aset investasi yang dikelola BUMN, kebijakan terkait implementasi pajak karbon dan regulasi Batas Atas Emisi (BAE) sektoral untuk mendorong pengembangan bursa karbon,” katanya.
“Dukungan paket kebijakan insentif dan stimulus termasuk kebijakan perpajakan untuk pengembangan sektor-sektor prioritas, serta dukungan kementerian dan lembaga serta seluruh pemangku kepentingan dalam berbagai program pendalaman pasar untuk meningkatkan daya saing dan efisiensi produk pasar modal serta daya tarik investasi kepada investor global,” ujarnya.
Untuk diketahui, ndeks IHarga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek pada hari pembukaan perdana di 2025, Kamis (2/1), dibuka menguat 29,36 poin atau 0,41% ke posisi 7.109,26. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 3,52 poin atau 0,43% ke posisi 830,17.
Kata Mahendra, pembukaan perdagangan di awal tahun ini, merupakan sarana pelaku pasar modal untuk mendengarkan arahan Presiden RI yang disampaikan melaui Meteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, khususnya terkait sektor jasa keuangan termasuk industri pasar modal. Sehingga pasar modal dapat berperan lebih aktif mendukung berbagai program strategis pemerintah dan target pertumbuhan ekonomi nasional.
“Dan selaras dengan kinerja perekonomian nasional, di tahun lalu berbagai indikator kinerja Pasar Modal Indonesia sepanjang tahun menunjukkan pertumbuhan cukup baik,” tandasnya.
