Jakarta—Presiden Direktur Metropolitan Land (Metland), Thomas J. Angfendy, mengatakan di Jakarta kemarin sore, bahwa nilai aset pihaknya tercatat naik di tahun 2016 dibandingkan 2015. Demikian juga dengan ekuitas untuk waktu yang sama.
“Aset kami naik 8,6% dari Rp 3,62 triliun ke Rp 3,93 triliun. Sedangkan ekuitas, itu dari Rp 2,21 triliun ke Rp 2,5 triliun atau naik 13%,” papar Thomas dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) yang digelar oleh emiten properti tersebut.
Thomas lantas menjelaskan bahwa total nilai pendapatan Metland selama tahun 2016 sebesar Rp 1,143 triliun, meningkat 5% dibandingkan pendapatan tahun 2015 yang sebesar Rp 1,089 triliun.
“Peningkatan pendapatan disebabkan oleh peningkatan pendapatan dari segmen pusat perbelanjaan dan perhotelan. Penjualan properti residental dan penjualan properti strata tittle memberikan kontribusi sebesar 60%. Pendapatan sewa pusat perbelanjaan memberikan kontribusi 27%, pengoperasian hotel berkontribusi 9%. Dan 4% dari pengoperasian pusat rekreasi dan pendapatan lainnya,” tegas Thomas.
Strategi Metland tahun 2017, pada awal tahun, telah memulai pembangunan Kaliana Apartment di Cileengsi, Bogor, yang ditandai dengan pemancangan tiang pertama pada Januari lalu. Dan memulai pemasaran proyek One Parc Puri di Metland Cyber City.
Proyek baru lainnya yang akan dikembangkan adalah Kondotel di Bandar Lampung; pengembangan mixed used Metland Milenia City di Cibitung yang akan dimulai dengan pembangunan Metropolitan Mall Cibitung; pemasaran apartement di Metland Tambun di semester II tahun ini.
“Dan segera memasarkan rumah tapak di area seluas 12 hektar di dalam kawasan Metland Puri yang merupakan kerja sama dengan Keppel Land Singapura,” Thomas menambahkan.
Sementara, Direktur Keuangan dan Sekretaris Perusahaan Metland, Olivia Surodjo, mengatakan bahwa untuk tahun 2016, pihaknya memeroleh laba bersih sebesar Rp 271,34 miliar. Peningkatan laba bersih ini meningkat 26,6% dibanding tahun 2015.
Dijelaskan, Metland menyetujui 15% laba bersih, atau sebesar Rp 40,57 miliar untuk dibagikan sebagai deviden tunai kepada pemegang 7,65 miliar unit saha. Itu setara dengan Rp 5,3 per lembar saham.
“Dana sebesar Rp 2 miliar akan dialokasikan sebagai dana cadangan. Sedangkan sisanya dibukukan sebagai laba ditahan untuk menambah modal kerja perseroan,” terang Olivia. (Al)