Jakarta, TopBusiness—-Indah Kiat Pulp and Paper Tangerang, dalam implementasi program CSR, sebelumnya mengidentifikasi dampak operasional perusahaan tersebut. Setelah dampak tersebut diidentifikasi dengan cermat, perusahaan tersebut kemudian mengimplementasikan program CSR ke masyarakat sekitar area operasional. Hal tersebut dijelaskan oleh Sustainability Head Indah Kiat Pulp and Paper Tangerang, Kholisul Fatikhin (10/2/2025).
Dalam tanya-jawab dengan Dewan Juri Top CSR Awards 2025, Kholisul merinci dampak operasional tersebut. Itu antara lain berikut ini: kebisingan, sosial-ekonomi, dan lain-lain.
“Masyarakat pun banyak yang meminta adanya lowongan kerja untuk mereka,” ia menjelaskan. Permintaan tersebut tentu tidak semua bisa dipenuhi karena Indah Kiat Tangerang punya proses seleksi karyawan dengan kriteria tertentu.
Adapun contoh program CSR yang merespons dampak operasional tersebut, ada banyak. Satu di antara itu adalah program pemberdayaan untuk kaum ibu di area operasional Indah Kiat Tangerang. Program itu diluncurkan saat pandemi Covid-19 berlangsung, dan kaum ibu di area operasional perusahaan tersebut lebih banyak beraktivitas di rumah.
Bagaimana hasil program tersebut? Kholisul menjelaskan bahwa kaum ibu tersebut sudah lebih mandiri dalam program itu. “Mereka sudah mandiri dengan koperasinya, maka kami perlahan mengurangi keterlibatan.”
Kholis selanjutnya menceritakan bahwa, untuk mengukur dampak dan hasil program-program CSR, Indah Kiat Tangerang menggunakan metode tertentu. Itu adalah metode SROI (social return on investment). Untuk hal itu, Indah Kiat Tangerang menggunakan jasa konsultan independen.
Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Rheza dari tim CSR Indah Kiat Tangerang, mengatakan bahwa hingga saat ini, perusahaan tersebut telah menyalurkan CSR ke 31.000 penerima.
“Itu angka untuk Indah Kiat Tangerang saja. Sedangkan kalau untuk keseluruhan pabrik Indah Kiat di Indonesia, jumlahnya di 183.182 penerima,” papar Rheza.
Rheza pun menjelaskan karakteristik masyarakat sasaran CSR oleh Indah Kiat Tangerang. Di area lain, mungkin program pertanian, peternakan, dan lain-lain sejenis, bisa diimplementasikan. “Lain halnya di Tangerang. Karakter masyarakatnya kan ‘kota banget’. Maka, kami harus tailor made dalam menentukan program CSR,” ucap Rheza.
