Jakarta, TopBusiness—Perumda Tirta Hidayah Kota Bengkulu punya jaringan pipa air minum yang sebagian merupakan peninggalan pemerintahan Hindia Belanda. Pipa tersebut ada sejak tahun 1929.
“Mayoritas pipa peninggalan Belanda tersebut sudah kami ganti. Saat ini, pipa lama tersebut tinggal 20% hingga 30%,” kata Direktur Utama Perumda Tirta Hidayah Kota Bengkulu, Samsu Bahari, dalam tanya-jawab dengan Dewan Juri Top BUMD Awards 2025 (12/2/2025).
Ia mengatakan bahwa, pipa yang belum diganti sebesar 20% hingga 30% tersebut berlokasi di pesisir Kota Bengkulu. “Kalau pipa berusia lama itu tidak kami remajakan, tentu bisa berpengaruh ke level NRW (non revenue water/tingkat kebocoran air) kami,” kata dia.
BUMD (badan usaha milik daerah) tersebut, saat ini, punya dua instalasi pengolahan air (IPA). Dua IPA tersebut berkapasitas 600 liter per detik.
Samsu Bahari pun, dalam kesempatan tersebut, menjelaskan beberapa hal tentang kinerja bisnis perusahaan tersebut. Ia antara lain menjelaskan bahwa, berdasarkan penilaian Perpamsi, BUMD tersebut punya skor 3,15 dalam kinerja untuk tahun 2023. Angka tersebut menunjukkan kinerja ‘baik’.
Jumlah pelanggan dalam tren naik. Di tahun 2024, jumlah pelanggan BUMD tersebut di 41.411. Angka tersebut lebih baik dibandingkan tahun 2022 dan 2023 yang masing-masing sebagai berikut: 36.350 dan 38.725.
Tren naik pun, Samsul Bahari menjelaskan, terjadi dalam nilai pendapatan. Untuk tahun 2024, pendapatan tersebut di Rp52,35 miliar. Adapun di tahun 2022 dan 2023 adalah Rp46,93 miliar dan Rp50,36 miliar.
Perumda Tirta Hidayah pun telah menggelar survei kepuasan pelanggan. Itu bekerjasama dengan Universitas Bengkulu. “Hasilnya, indeks kami di angka 66. Artinya, pelanggan kami di tingkat ‘cukup puas’,” kata Samsul Bahari.
Sementara itu, Kepala Bagian Hubungan Pelanggan Perumda Tirta Hidayah Kota Bengkulu, Dhika, menjelaskan bahwa survei kepuasan karyawan pun sudah dilakukan. Hasilnya yakni bahwa mayoritas karyawan merasa ‘puas’. Rinciannya, 58% karyawan menyatakan ‘puas’ atas kondisi kerja, dan 21% merasa ‘sangat puas’. Kemudian, karyawan yang ‘tidak puas’ di 15%. Sedangkan yang merasa ‘sangat tidak puas’ di 6%.
“Pengembangan kualitas dan kompetensi karyawan pun kami lakukan secara sinambung,” kata Dhika.
Dhika pun memaparkan bahwa kini BUMD tersebut punya bisnis AMDK (air minum dalam kemasan) bermerek Hidayah Water.
Dalam hal digitalisasi, perusahaan daerah tersebut sudah punya sejumlah aplikasi. Contohnya adalah aplikasi Sejam Ladas (Satu Jam Lapor Tindak Lanjuti Tuntas), Simpeg (Sistem Informasi Kepegawaian), Camer (Catat Meter), dan lain-lain.
