Jakarta, TopBusiness—Peluang perkembangan sektor industri pakaian muslim diperkirakan tumbuh pesat pada tahun mendatang, sejalan dengan berkembangnya pasar ekonomi Islam di dunia.
Laporan State of Global Islamic Economy 2023-2024 yang dirilis oleh Lembaga Dinar Standard menyebutkan bahwa pengeluaran konsumen muslim terhadap enam sektor komoditi dapat menembus USD3,1 triliun pada tahun 2027.
Nilai belanja ini tumbuh 4,8 persen dalam lima tahun, jika dibandingkan 2022 yang hanya USD2,29 triliun. Hal itu dikatakan Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka, Kementerian Perindustrian RI (IKMA Kemenperin), Reni Yanita, dalam keterangan resmi (25/2/2025).
Adapun enam komoditas sektor ekonomi Islam yang diperkirakan tumbuh pesat tersebut, yaitu makanan, fesyen, media dan rekreasi, travel, farmasi, serta kosmetik,” tuturnya.
Lebih lanjut, menurut Reni, sektor fesyen muslim menempati posisi kedua tertinggi. “Selain itu, konsumsi fesyen muslim di dunia juga diprediksi tumbuh, dan pada tahun 2027 diprediksi mencapai USD428 miliar,” sebutnya.
Adapun proyeksi konsumsi barang/jasa halal di Indonesia pada tahun 2025, diperkirakan mencapai USD330,5 miliar.
“Sementara untuk produk pakaian jadi menduduki posisi tertinggi kedua yang dikonsumsi di pasar syariah Indonesia.”
“Dengan adanya peluang pasar dan perkembangan industri fesyen muslim saat ini, kita harus optimistis untuk memaksimalkan penguasaan pasar domestik maupun meningkatkan daya saing kita di pasar global,” papar Reni.
Ia menambahkan, “Kita bisa jajaki negara dengan konsumsi fesyen muslim terbesar seperti Iran, Turki, Arab Saudi, Pakistan dan Mesir sebagai negara tujuan ekspor yang potensial.”
