TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Tatkala Kilang Balongan Berbuah Wisata Mangrove

Achmad Adhito
6 July 2017 | 14:43
rubrik: CSR
Tatkala Kilang Balongan Berbuah Wisata Mangrove

Eko Wisata Mangrove Indramatu/Antara

Tahukah kita bahwa ternyata minyak bumi bisa melahirkan suatu kawasan wisata mangrove? Benar, ini tidak mengada-ngada. Cermatilah program CSR (corporate social responsibility) yang digulirkan Pertamina Refinery Unit (RU) VI Balongan, Indramayu, Jawa Barat.

Ya, benar, sebuah kawasan ekowisata mangrove berbasis edu park, lahir berkat program CSR tersebut. Bahkan lebih jauh, sejumlah produk inovatif berbahan dasar mangrove seperti sirup, kecap, dan lain-lain, lahir dari kawasan wisata tersebut. Dari sini, terlihat gamblang bahwa Pertamina RU VI tidak setengah hati dalam menjalankan program CSR, bukan?

Memerkuat anggapan itu, ada baiknya kita menyimak penjelasan dari petinggi di perusahaan tersebut. Satu dari mereka adalah Head of Communication and Relation Pertamina RU VI Balongan, Rustam Aji. Menurut dia, dukungan top management ke berjalannya program CSR, sangatlah baik.

Dan ada banyak penanda hal itu, satu di antara itu yakni adanya target KPI (key performance indicator) untuk program CSR, di tahun 2016. “Komitmen tinggi top management untuk memertahankan penghargaan Proper Emas di tahun 2016, diantaranya melalui program CSR,” Rustam berkata.

Kemudian, dia memaparkan bahwa pihaknya menjalan empat bentuk program CSR. Rincian hal itu sebagai berikut: Pertamina Cerdas, Pertamina Hijau, Pertamina Berdikari, dan Pertamina Sehat. “Hal itu mengacu ke pedoman dari kantor pusat Pertamina,” papar Rustam.

Senior Supervisor CSR Program Pertamina RU VI Balongan, Cecep Supriatna, menjelaskan bahwa pihaknya menjalankan CSR melalui sejumlah tahapan. Yakni sebagai berikut: social mapping; rensta (rencana strategis) dan renja (rencana kerja); implementasi program sehingga melahirkan institusi sosial-ekonomi; pemonitoran program CSR; evaluasi program CSR; keberlanjutan program CSR.

Kini, marilah menyimak sejumlah program CSR mereka yang bisa dikatakan berhasil dengan sangat baik. Pertama, adalah program bank sampah berbasis masyarakat, yang berjalan di sejumlah desa. Itu adalah Desa Majakerta dan Desa Balongan. Tujuan program ini adalah mengurangi limbah sampah. Dalam hal ini, limbah sampah dimanfaatkan sebagai bahan dasar produk kerajinan.

BACA JUGA:   Kampung NanasKu Andalan CSR PT Pupuk Kujang

Kedua, adalah pengembangan posyandu (pos pelayanan kesehatan terpadu) untuk anak balita. Tujuan program ini adalah meningkatkan kualitas akses kesehatan oleh ibu dan anak, dengan berbasis masyarakat.

Kemudian, ada satu program yang sangat menarik, yakni Zero Waste Mushroom Applicated. Apakah itu? Yakni, program pelatihan safety man di bidang minyak bumi dan gas (migas) untuk masyarakat di sekitar kilang Balongan. Hasilnya cukup baik, karena ada tenaga hasil program tersebut yang lantas dikontrak oleh perusahaan di luar Indramayu.

Bahkan, ada yang lantas mendapat kontrak kerja dari perusahaan yang beroperasi di Pulau Sumatera. Pun, paguyuban safety man yang pertama lahir di Indonesia, lahir dari salah satu program CSR Pertamina RU VI Balongan itu.

Nah, sekarang, saatnya melongok lebih dalam ke program CSR paling menonjol keluaran Pertamina RU VI Balongan—di awal tulisan, sudah sempat kita singgung. Tidak lain dan tidak bukan, itu adalah Program Ekowisata Mangrove Berbasis Edupark.

Tujuan program ini adalah mengedukasi masyarakat dan anak sejak dini, dengan menjadikan kawasan konservasi mangrove sebagai area pembelajaran di Indramayu. Program tersebut meliputi aktivitas konservasi, eko wisata, dan edu park.

Cecep Supriatna menceritakan beberapa dampak nyata dari program CSR tersebut. Pertama, dari segi ekonomi, tingkat pendapatan kelompok yang menjadi sasaran program itu, tercatat naik. Tahun 2016, pendapatan kelompok tercatat Rp 1,1 miliar; setahun sebelumnya, angka itu di Rp 1 miliar.

Lapangan pekerjaan baru pun lahir dari program tersebut. Yakni, munculnya para pedagang, pemandu wisata, pengelola eko wisata, pengelola perparkiran, dan munculnya wirausahawan UKM (usaha kecil dan menengah) berbahan baku mangrove.

Kedua, dari segi lingkungan, program CSR tersebut berbuah bagus. Antara lain, ada 37 spesies burung yang hidup di kawasan wisata tersebut. Dari situ, ada 10 spesies yang tergolong satwa dilindungi. “Dan, ada satu spesies yang keberadaannya sudah kritis,” Cecep menjelaskan.

BACA JUGA:   Aksi CSR PLN Nusantara Power Pacitan Taklukkan FABA

Dampak lainnya, yakni sudah tertanamnya 1.000-an bibit pidada dengan sistem hidroponik. Pun, masih ada sejumlah dampak bagus lainnya bagi lingkungan.

Untuk pemulihan akibat abrasi pantai, itu berlangsung sejak tahun 2010, dan bekerja sama dengan masyarakat di pesisir Desa Karangsong. Sekitar 5.000 bibit mangrove, ditanam di tahun 2010; ada 10.000-an bibit mangrove ditanam di 2012; sekitar 1.000 vegetasi pantai ditanam di 2015; 4.023 mangrove dan vegetasi pantai, ditanam di 2016.
Kini, kawasan area mangrove tersebut seluas 49,8 hektar.Tercatat, tiga sekolah mangrove telah lahir. Sekolah tersebut mengintegrasikan pembelajaran tentang mangrove ke dalam kurikulum sekolah.

Selanjutnya, ada puluhan ribu orang yang sudah mendapatkan pengetahuan tentang mangrove dan eko wisata, persisnya di 84.000-an orang. Adapun jumlah pengunjung eko wisata mangrove di tahun 2015, mencapai 77.190 orang. Untuk tahun 2016, hanya sampai September, angka itu sudah tembus ke 84.132 orang.

Untuk program CSR mangrove ini, pengakuan secara nasional pun muncul. Betapa tidak, di Karangsong Mangrove Festival 2015, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup RI Siti Nurbaya Bakar, menetapkan Desa Karangsong sebagai Mangrove Center untuk Indonesia Bagian Barat.

Cecep Supriatna mengatakan, “Berdasarkan penilaian NPV, CSR mangrove ada di nilai 1.007. Artinya, layak untuk diteruskan.”

Selanjutnya, masih ada sejumlah program CSR dari Pertamina RU VI Balongan, yang menonjol. Satu di antara itu adalah pemberdayaan TKW (tenaga kerja wanita) purna, berbasis UKM. Tujuan program ini adalah mengurangi jumlah TKW yang berminat kembali bekerja ke luar negeri, setelah pulang ke kampung halaman. Di sini, Pertamina RU VI Balongan memfasilitasi terbentuknya kelompok UKM berbadan hukum yang berkiprah di bidang pengolahan makanan; berbagai bimbingan diberikan ke kelompok tersebut.

BACA JUGA:   Indah Kiat Perawang Mill Punya Deretan Program CSR Unggulan Berbasis ISO 26000

Pada akhirnya, kelompok tersebut berhasil bermitra dengan Food Committee Pertamina RU VI Balongan. Tercatat, semua anggota berhasil meningkatkan pendapatan rumah tangga sebesar Rp 2 juta sampai Rp 5 juta tiap bulan.

Mengesankan, memang, kiprah program CSR ala Pertamina RU VI Balongan itu. Sementara, tim CSR tersebut diisi oleh SDM (sumber daya manusia) dari divisi hubungan masyarakat (humas), yang lantas didistribusikan ke sejumlah unit CSR. Maka, apa salahnya bila kita belajar ber-CSR ria dari mereka? (Achmad Adhito)

 

Sumber Foto: Antara

Previous Post

Island Concepts Tak Tahu Sebab Volatilitas Saham

Next Post

Indeks Saham Ditutup di 5849,57

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR