Jakarta, TopBusiness – PT Danareksa (Persero) atau Holding BUMN Danareksa dalam menciptakan inisiatif strategi tanggung jawab sosial dan lingkungan alias TJSL berlandaskan pada kerangka kerja berupa koordinasi dan kolaborasi. Dengan begitu, diharapkan keberlanjutan bisnis proses di masing-masing anggota holding bisa searah dan sejalan dengan rencana kerja dan anggaran perusahaan, sekaligus memberikan keuntungan baik bagi masing-masing entitas bisnis maupun pemangku kepentingan.
Kerangka kerja berupa koordinasi dan kolaborasi yang terjadi di Holding BUMN Danareksa adalah sebuah keniscayaan. Ini menjadi sarana dalam rangka menyelaraskan beragam bisnis proses yang berkelanjutan dengan program TJSL di masing-masing anak usaha.
“Jadi untuk framework koordinasi dan kolaborasi, di belakang tantangan tapi dibuat sebuah advantage (keuntungan). Karena, kita multi sektor bisa dikatakan sebuah keunggulan. Jadi, kita bisa menciptakan sebuah framework yang multisektor,” kata Corporate Secretary & CSR, Agus Widjaja, ketika sesi tanya-jawab atau pendalaman materi presentasi berjudul ‘SEMAR: Sustainable Environmental Movement for Action and Responsibility’, kepada Dewan Juri TOP CSR Awards 2024 dalam jaringan aplikasi zoom meeting, di Jakarta, Rabu (21/05/2025).
Selanjutnya, memberikan dampak positif kepada pemangku kepentingan melalui program creating shared value atau CSV. Bisa dikatakan CSV merupakan sebuah pendekatan bisnis yang bertujuan untuk menciptakan nilai tidak hanya bagi perusahaan, tetapi juga bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya.
Kerangka kerja seperti koordinasi dan kolaborasi semakin matang, menyusul implementasi program TJSL yang dimonitor oleh Komite TJSL.
“Kita punya tantangan bagaimana menciptakan sebuah koordinasi, sebuah kolaborasi dari masing-masing sektor industri, itu memberikan dampak. Terlebih lagi, CSV untuk masing-masing sektor. Makanya, tadi ada yang namanya Komite TJSL,” ungkap Agus.
Diakuinya, koordinasi dan kolaborasi masih dalam lingkup di Kementerian Badan Usaha Milik Negara, belum kepada Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia). “Jadi, selama ini, kita masih berkoordinasi kepada Kementerian BUMN, Danantara baru pada bulan April, kemarin. Program TJSL-nya belum, lebih fokus ke bisnisnya dulu. Baru TJSL-nya kita masih berkoordinasi dengan Kementerian BUMN. Jadi, koordinasi dengan anggota-anggota holding, dan berkolaborasi,” papar dia.
Bahkan, dirinya menegaskan koordinasi dilakukan setiap bulan. “Itu, kita lakukan setiap bulan. Setiap bulan, kita ada dengan anggota-anggota holding TJSL. Kita membahas program-program kerja yang sudah ditetapkan dan mengevaluasi. Setiap bulan, kita pasti ada pertemuan secara online, karena ada yang di Medan, Makassar, Semarang,” papar Agus.
Bahkan, menurut Agus, apabila ada kegiatan-kegiatan TJSL yang dirasakan lebih mendesak bisa dikoordinasikan. “Dan tiba-tiba, kalau ada kegiatan lain yang perlu kita lakukan. Nah, kita koordinasikan. Nanti kita konsultasikan lagi dengan Komite TJSL untuk di Holding BUMN Danareksa,” pungkasnya.
