Jakarta, TopBusiness – Sebagai perusahaan logistik nasional yang telah beroperasi selama lebih dari dua abad, PT Pos Indonesia (Persero) menghadapi tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara tuntutan operasional dan dampak sosial-lingkungan yang ditimbulkannya.
Di tengah digitalisasi masif dan ekspansi jaringan logistik, intervensi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) menjadi jawaban jitu bagi PT Pos Indonesia untuk memastikan keberlanjutan bisnis dan operasional perusahaan.
“Fokus kami dalam TJSL bukan sekadar kegiatan bantuan sosial atau charity semata, tetapi bagaimana perusahaan hadir mengelola dampak nyata dari aktivitasnya di tengah masyarakat,” ujar Tata Sugiarta, Corporate Secretary & ESG (Penanggung Jawab TJSL) PT Pos Indonesia, dalam sesi presentasi dalam rangka penjurian TOP CSR Awards 2025 yang dilakukan secara daring, Kamis (22/5/2025).
Menurut Tata, PT Pos Indonesia mengidentifikasi adanya dampak positif dan negatif dari kegiatan operasional maupun akibat keputusan bisnis Perusahaan. Contohnya adalah dalam ekpansi pembukaan cabang (branch expansion), dampak positifnya adalah akses barang atau jasa menjadi makin merata. Namun dampak negatifnya adalah adanya potensi peningkatan limbah dan emisi logistik.
“Intervensi TJSLyang kami lakukan adalah edukasi pengelolaan sampah kemasan kepada masyarakat lokal, serta program local hero lingkungan untuk daur ulang dan pemanfaatan limbah organik, contohnya Gina di Cisaranten Kulon,” kata Tata.
Terkait hal ini, PT Pos Indonesia memiliki program atau inisiatif CSR bernama Pos RUMPI atau Partisipasi Orang Sekitar di Rumah Aspirasi dan Inspirasi. Program ini menjadikan individu lokal sebagai pionir perubahan lingkungan melalui daur ulang sampah organik, hidroponik berbasis limbah rumah tangga, dan sarana air bersih.
“Program ini menguatkan keterlibatan komunitas terhadap keberlanjutan operasional pos karena kami melibatkan orang-orang di sekitar kantor pos,” ujar Tata.
Demikian pula terkait digitalisasi layanan yang kini digencarkan PT Pos Indonesia memiliki dampak positif berupa inklusi keuangan dan efisiensi transaksi. Tapi digitalisasi ini juga berdampak negatif terutama dengan adanya digital divide di komunitas lansia dan masyarakat rural.
Intervensi TJSL yang dilakukan PT Pos Indonesia adalah dengan Program Literasi Digital dan Keuangan kepada pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) dan kelompok rentan. Intervensi lainnya adalah pendampingan dan pelatihan Pos UMK berbasis aplikasi digital.
Pos Indonesia juga mengidentifikasi adanya dampak sosial dari Rasionalisasi Operasional yang dilakukan Perseroan. Dampaknya adalah risiko pengurangan SDM dan gangguan layanan komunitas. Lalu, intervensi TJSLyang dilakukan adalah dengan Program PosPreneur untuk pelatihan dan bantuan usaha kepada pensiunandan eks-karyawan.
“Kami juga melakukan pendampingan bisnis,” kata Tata sembari mencontohkan Asep Nurjaman, seorang mantan kurir PT Pos yang kini sukses berbisnis abon ayam
Untuk mendukung strategi bisnis berkelanjuta, PT Pos Indonesia juga memiliki program Inkubasi Wirausaha Lokal. Program ini dilakukan untuk mendorong pertumbuhan mitra usaha mikro yang dapat menggunakan layanan logistik Pos.
“Program atau inisiatif CSR ini meningkatkan volume transaksi logistik dari segmen UMK. Kemudian juga mengurangi kesenjangan ekonomi daerah terpencil, karena ini ternyata pelaku-pelakunya adalah pelaku-pelaku di daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar),” ujarnya.
Program TJSL lainnya adalah Beasiswa Ikatan Dinas ke Universitas Logistik dan Bisnis Indonesia (ULBI). Program ini menjaga keberlangsungan SDM unggul yang memahami industri logistik. Nilai manfaat ekonomi bagi perusahaan pada 2024 dihitung sebesar Rp 661,877 juta, dengan nilai investasi sosial sebesar Rp 300 juta. “Mahasiswa dengan IPK terbaik otomatis direkrut menjadi pegawai,” ujar dia.
Di akhir presentasi, Tata mengungkapkan bahwa Pos Indonesia memanfaatkan keunggulan jaringannya yang menjangkau seluruh Indonesia untuk menyalurkan program bantuan CSR secara efisien dan merata, termasuk ke wilayah 3T.
“Tidak semua BUMN memiliki kemampuan distribusi langsung hingga ke desa. Perusahaan lain dapat bekerja sama dengan BUMN logistik untuk mengefektifkan penyaluran CSR mereka,” kata dia.
Pos Indonesia menunjukkan bahwa CSR berbasis logistik dapat menjadi role model karena beberapa alasan, antara lain memiliki daya jangkau nasional, mampu menjawab isu disparitas wilayah, mendukung UMK naik kelas secara nyata, serta mendorong akses dan pemerataan bantuan dengan lebih efektif.
“CSR berbasis kekuatan inti (core competence) seperti ini layak direkomendasikan kepada perusahaan lain, terutama BUMN yang memiliki fungsi distribusi, konektivitas, atau layanan publik,” ujar Tata.
Dengan kemampuan dan pengalamannya dalam menjalankan berbagai program TJSL atau CSR, PT Pos Indonesia tahun ini kembali menjadi kandidat peraih TOP CSR Awards 2025. Tahun lalu, PT Pos Indonesia meraih penghargaan TOP CSR Awards 2024 bintang 4.
“Mudah-mudahan Insyaallah kalau ada rezekinya kita akan meningkat menjadi five star di tahun ini. Aamiin,” ujar Tata.
