Jakarta, TopBusiness — Menjadi kandidat penerima penghargaan TOP CSR Awards 2025, Callistha Kasih Indonesia telah menyelesaikan sesi penjurian yang digelar secara daring oleh Majalah TopBusiness, Jumat (23/5/2025) lalu. Ni Komang Nartini selaku Sektretaris Holding dari Callistha Kasih Indonesia hadir dan memberikan paparannya di hadapan dewan juri.
Seperti dijelaskan Ni Komang, Callistha Kasih Indonesia merupakan lembaga nirlaba. Berdiri sejak tahun 2022, lembaga ini disebut memiliki fokus pada pembinaan anak-anak muda dengan rentang usia 15-23 tahun dari kalangan anak jalanan, yatim piatu maupun keluarga yang kurang mampu.
“Menariknya lagi, Callistha Kasih Indonesia ini bukan hanya output-nya pemberdayaan, namun di dalam timnya pun sudah terjadi proses pemberdayaan, yang mana kami semua merupakan Gen Z. Jadi, dominasi pengelola Callistha Kasih Indonesia ini adalah generasi muda,” ungkap Ni Komang di hadapan dewan juri.
“Fokus kami adalah ingin menciptakan miracle atau keajaiban bagi masyarakat marginal khususnya anak-anak muda untuk memutus rantai kemiskinan juga melalui kegiatan pemberdayaan anak-anak usia produktif,” sambungnya.
Sebagai lembaga nirlaba, Callistha Kasih Indonesia visi menjadi agen perubahan dalam menciptakan kesempatan dan meningkatkan kualitas hidup anak-anak muda yang kurang beruntung, berkontribusi pada konservasi dan pelestarian lingkungan serta membangun masyarakat yang lebih inklusif.
Adapun untuk mewujudkan visi tersebut organisasi ini mencanangkan beberapa misi, yakni
· Pemberdayaan Anak-Anak Muda Kurang Mampu.
· Pengembangan Komunitas.
· Pemberdayaan Masyarakat.
“Jadi, hampir seluruh program kami dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat yang ada di Indonesia,” ujar Ni Komang.
Punya Sejumlah Aktivitas
Sejalan dengan fokusnya pada pembinaan anak-anak muda, Callistha Kasih Indonesia memiliki sejumlah aktivitas. Pertama, aktivitas yang rutin digarap Callistha Kasih Indonesia adalah pelaksanaan webinar secara nasional. Selama satu tahun terakhir, lembaga ini berhasil menyelenggarakan sekitar 180 webinar nasional.
“Karena dalam satu bulannya kami menyelenggarakan 15-20 webinar online nasional, dan topik pembahasannya pun beragam, mulai dari skill, keterampilan, kemudian konservasi pengelolaan sampah, dan lain sebagainya. Dan dihadiri juga dengan pemateri-pemateri yang ahli di bidangnya,” ungkap Ni Komang.
Selain webinar untuk membina anak-anak muda, Callistha Kasih Indonesia juga berhasil membentuk dua Rumah Miracle yang berlokasi di di Jatisawit, Jawa Tengah dan Gianyar, Bali.
“Rumah Miracle ini sebagai wadah untuk membina anak-anak muda kurang mampu di daerah tersebut untuk diedukasi secara mindset terlebih dahulu. Kemudian nanti akan digali bakat dan juga minatnya. Setelah kami mengetahui bakat dan minatnya akan diarahkan ke program selanjutnya, baik itu akan dikasih bantuan modal usaha sebagai bentuk enterprenuer, kemudian akan disekolahkan lebih lanjut sebagai bea siswa ataupun bisa sebagai penerima bea siswa ke luar negeri,” jelasnya.
Aktivitas atau inisiatif lain yang ditelah dilakukan Callistha Kasih Indonesia, yakni berupa penyaluran bantuanmodal usaha. Dalam hal ini, Callistha Kasih telah menyalurkan bantuan modal ke lima orang binaan.
”Tepatnya itu tiga orang penerima di Bali, satu orang di Cianjur, dan satu orang di Jawa Timur,” singkatnya.
Bantuan modal usaha ini dimanfaatkan oleh anak-anak muda itu untuk berbagai macam kegiatan. Seperti ada yang menggunakannnya untuk membentuk Desa Menari.
”Jadi, mereka dibantu modal usaha, uangnya itu dipakai untuk menyewa guru tari. Kemudian ketika mereka sudah mahir menari dari bantuan modal usaha itu mereka akan pentas di event-event yang ada di Bali, karena ini tarian daerah Bali, kemudian mereka akan dapat uang dari pentas tersebut. Uangnya itu 50% untuk uang saku si anak, dan 50% lagi untuk pengembangan usaha mereka, baik itu nantinya untuk dibelikan busana untuk tari ataupun make-up,” tandasnya.
Kemudian dalam paparannya Ni Komang juga mengungkap keberhasilan Callistha Kasih Indonesia dalam membentuk agen perubahaan. Saat ini ada lima orang agen perubahan di masing-masing desa. Fokus agen perubahan ini adalah di bidang perkebunan dan juga pertanian.
“Jadi, kami membentuk anak-anak, dewasa, muda kami bina setiap minggunya. Materinya di bidang perkebunan dan juga pertanian. Kemudian anak-anak ini akan menjadi pionir di desanya. Anak-anak ini akan melakukan edukasi, mewadahi mungkin bagi petani maupun pekebun yang belum terdigitalisasi (maka) si anak ini yang akan mengajarkan,” ungkapnya.
Guna mendukung dan memperluas program lembaga, Callistha Kasih Indonesia telah berhasil membentuk tiga lembaga pendukung, antara lain Carlo Institute, Calbert Suport, dan Sipayung Consulting.
Carlo Institute merupakan organisasi nirlaba di bawah naungan Callistha Foundation yang berfokus pada gerakan Green living dengan moto #Ayo Ciptakan Hutan Dimana Saja!
Adapun Calbert Suport merupakan lembaga nirlaba di bawah naungan Callistha Foundation dan Carlo Institute yang mengedepankan aksi tolong-menolong berbasis komunitas.
Sipayung Consulting sendiri merupakan sebuah layanan personal branding sebagai penopang finansial dari Callistha Kasih Indonesia dan lembaga di bawahnya.
Editor: Busthomi
