Jakarta, BusinessNews Indonesia—Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), resmi beroperasi pada Jumat 20 Oktober 2017.
Peresmian dilakukan oleh Presiden Joko Widodo didampingi Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri BUMN Rini Soemarno, Gubernur NTB TGB Zainul Majdi dan Direktur Utama Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) Abdulbar M. Mansoer.
“Kami berterima kasih atas dukungan semua pihak sehingga peresmian operasionalisasi KEK Mandalika sebagai perwujudan pembangunan Indonesia dari pinggiran dapat terlaksana,” kata Abdulbar M. Mansoer tertulis kepada Majalah BusinessNews Indonesia.
KEK Mandalika dikelola oleh PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) di atas lahan seluas 1.175 hektar dengan menelan biaya pembangunan sebesar Rp2,2 triliun. Pengembangan kawasan ini diproyeksikan bakal menarik investasi sebesar Rp28,63 triliun hingga 2025 dan mempekerjakan sebanyak 58.700 sumber daya manusia.
Pengembangan KEK Mandalika ini diprioritaskan untuk kegiatan industri pariwisata dengan pembangunan berbagai obyek wisata dan daya tarik wisata yang berorientasi pada kelestarian nilai juga kualitas lingkungan hidup yang ada di masyarakat.
Hingga Oktober 2017 tercatat sudah ada empat KEK yang beroperasi yaitu KEK Sei Mangkei, KEK Tanjung Lesung, KEK Palu dan KEK Mandalika. Sedangkan enam KEK lainnya—KEK Bitung, KEK Maloy Batuta, KEK Tanjung Api-Api, KEK Tanjung Kelayang, KEK Morotai dan KEK Sorong—dalam proses pembangunan.
Untuk bisa beroperasi, sebagaimana ketetapan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2014, setiap KEK harus memenuhi tiga kriteria kesiapan yaitu lahan serta infrastruktur kawasan, kelembagaan serta sumber daya manusia, dan perangkat pengendalian administrasi.
Tentunya kehadiran KEK Mandalika bakal menciptakan nilai tambah (value added), membangun kemampuan daya saing serta mendorong perekonomian masyarakat NTB melalui berbagai industri, khususnya industri pariwisata, di pasar domestik maupun internasional.
“Sejak ITDC melakukan pembangunan infrastruktur secara intensif di zona inti kawasan, sedikitnya ada 10 unit usaha baru berbentuk homestay, resto, cafe, dan toko retail memulai usaha di zona Barat kawasan,” kata Abdulbar M. Mansoer.
