Jakarta, TopBusiness—Pada 2024, perdagangan Indonesia dan Afrika mengalami momentum positif, mencatat pertumbuhan 7,4 persen dibanding tahun sebelumnya dan mencapai nilai total USD 2,4 miliar.
Hal itu dikatakan oleh Wakil Menteri Perdagangan RI (Wamendag), Dyah Roro Esti Widya Putri, dalam keterangan resmi (8/9/2025).
Ekspor utama Indonesia ke pasar Afrika meliputi minyak kelapa sawit, mesin, kendaraan, produk karet, dan kertas. “Sementara itu, impor utama dari Afrika terdiri atas ferro-alloy, bijih kromium dan mangan, aluminium, gula, dan bijih besi,” kata wamendag.
Selanjutnya, Wamendag Roro menyoroti Indonesia-Mozambique Preferential Trade Agreement (PTA) yang berlaku sejak 2022. Indonesia-Mozambique PTA merupakan langkah besar untuk memperdalam hubungan ekonomi antara Indonesia dan Afrika.
Sebagai perjanjian perdagangan perdana Indonesia dengan negara Afrika, Indonesia-Mozambique PTA menawarkan pengurangan tarif untuk ekspor utama, seperti minyak kelapa sawit, farmasi, kertas, dan suku cadang otomotif, serta produk Mozambik seperti kacang-kacangan, tembakau, dan kapas.
“Akses preferensial ini memperlancar perdagangan, menurunkan biaya, dan membuka jalan bagi integrasi pasar yang lebih besar di seluruh benua,” kata dia.
Di sisi lain, Indonesia-Tunisia PTA yang akan ditandatangani akhir tahun ini akan makin memperkuat upaya ini.
Dengan memerluas konsesi tarif serupa untuk barang-barang Tunisia dan memerkuat kerjasama regulasi, perjanjian ini diharapkan dapat membuka peluang baru di sektor-sektor seperti tekstil, produk pertanian, dan permesinan.
Perjanjian ini tidak hanya memerkuat jalur perdagangan bilateral, tetapi juga strategi Indonesia yang lebih luas untuk memerluas jejak ekonominya di Afrika. “Serta mendorong pertumbuhan berkelanjutan, konektivitas regional, dan kemakmuran bersama,” kata wamendag.
