Jakarta, TopBusiness – Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) bersama Amazon Web Services (AWS) telah menyelenggarakan kegiatan CTO/CIO Connect 2025 bertema “AI in Cybersecurity: Effective Solutions to Face Complex Cyber Threats in Fintech Industry” pada 16 Juli 2025.
Acara yang berlangsung di kantor AWS, Sinarmas MSIG Tower, Jakarta ini dihadiri oleh lebih dari 50 peserta yang merupakan pimpinan dan pemain kunci divisi teknologi di perusahaan-perusahaan fintech, perbankan, dan penyedia teknologi.
Kegiatan ini digelar untuk mendorong pemahaman mendalam dan kolaborasi lintas sektor untuk memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) secara strategis dalam memperkuat ketahanan siber pada industri fintech secara berkelanjutan.
Dalam sambutan pembuka, Wakil Ketua Umum VII AFTECH, Haryati Lawidjaja menekankan pentingnya peran para CTO, CIO, dan pemimpin teknologi. Tidak hanya dalam memilih solusi teknologi bagi proses bisnis perusahaan, tetapi juga dalam memastikan keberlanjutan dari solusi tersebut, serta memastikan bahwa adopsi solusi teknologi dalam perusahaan memenuhi standar kepatuhan atas peraturan perundang-undangan dan standar industri yang berlaku – khususnya terkait keamanan siber.
Sebagai bagian dari fungsi AFTECH dalam mengembangkan kapasitas anggotanya, kami mendorong komunitas CTO/CIO serta program kerjanya. Termasuk kegiatan yang diselenggarakan hari ini melalui kolaborasi dengan Amazon Web Services (AWS).
“CTO/CIO Forum AFTECH diharapkan terus konsisten menjadi wadah untuk berbagi praktik terbaik, mendalami inovasi, serta memperkuat sinergi antara anggota AFTECH, regulator dan mitra teknologi“, ujar Wakil Ketua Umum VII AFTECH, Haryati Lawidjaja dalam Forum CTO/CIO Connect 2025 seperti dikutip dari siaran persnya, Jumat (18/7/2025).
Sementara itu, Ketua Departemen Cloud AFTECH, Head of Startup Ecosystem AWS Indonesia, Brata Rafly, dalam penyampaian Opening Remarks menekankan bahwa pelaku jasa fintech di Indonesia itu memiliki peran yang sangat penting.
Yang pertama pastinya karena pelaku fintech itu mendrive financial integration dan inclusion. “Dan yang kedua juga tak kalah penting, kita juga harus sadar bahwa global competition itu selalu ada di negeri kita, jadi kita harus mengingat bahwa perusahaan fintech itu harus menjadi mercusuar yang menunjukkan shine the light tentang technology adaptation bagi perusahaan lain di Indonesia,” tuturnya.
“Saya berharap bahwa forum hari ini itu menjadi forum yang pertama dan kita bisa beresolusi tentang bagaimana kita mempercepat inovasi dengan lain-lain, bagaimana kita membangun security culture yang bisa membangun kepercayaan masyarakat dan juga bagaimana kita bisa saling sharing best practice,” tambah dia..
Pada kesempatan yang sama dalam penyampaian keynote remarks, Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI, Alexander Sabar menyampaikan bahwa terdapat tiga hal yang harus kita tangani secara serius agar kemanfaatan AI tidak hanya efektif secara teknis tetapi juga selaras dengan kepentingan bisnis, etika, dan regulasi.
Pertama adalah tata kelola dan etika. Komdigi telah mengeluarkan surat edaran Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 9 tahun 2023 tentang etika kecerdasan artifisial. Hal ini menunjukkan intensi Komdigi untuk terus berada di garda terdepan dalam pengembangan AI. Yang kedua interoperabilitas dan integrasi teknologi, masih banyak perusahaan, baik besar maupun start up yang dibangun di atas sistem warisan (legacy system). Mengintegrasikan AI ke dalam sistem lama, sembari menjaga performa dan keamanan, memerlukan pendekatan yang cermat.
“Yang ketiga, kesiapan talenta dan kapasitas inovasi. Pada tanggal 11 Juli 2025 Kementerian Komunikasi dan Digital bersama dengan Indosat, CISCO dan NVidia telah meluncurkan Indonesia AI Center of Excellence (AI CoE) sebagai platform kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan talenta, akselerasi startup AI, hingga penguatan ekosistem R&D untuk mengantisipasi perkembangan teknologi disruptif berikutnya,” kata Alexander Sabar.
