Jakarta, TopBusiness – PT. Insight Investments Management atau Insight dalam mengimplementasikan prinsip tata kelola, manajemen risiko dan kepatuhan alias GRC difasilitasi dengan instrumen pendukung, seperti BoD-BoC dashboard manual.
Saat sesi pendalaman atau tanya-jawab materi presentasi bertema Resilience to Sustainability: Leading Through GRC, Head of Internal Audit, Gusti Pinandhita Arifin, menyinggung soal keberadaan dashboar manual dalam menjembatani pelaksanaan prinsip GRC dan bisa diperbarui setiap saat.
Dashboard manual bisa diartikan alat manajemen informasi yang menyajikan data penting secara visual untuk memantau kinerja, mengidentifikasi tren, dan mendukung pengambilan keputusan. dashboard manual merupakan tampilan ringkasan data mudah dipahami, dan biasanya dalam bentuk grafik dan tabel, yang dirancang untuk memberikan informasi penting secara cepat dan efisien.
“Kita memiliki, masing-masing BoD-BoC. Dashboard manual juga kita lakukan review dan update secara berkala baik itu disesuaikan dengan regulasi yang terbaru atau tidak,” kata Gusti kepada Dewan Juri TOP GRC Awards 2025 melalui aplikasi zoom meeting, di Jakarta, hari ini.
Bahkan, menurut Gusti, dewan komisaris mempunyai keleluasaan dalam mengakses data dan informasi terkait dengan penegakan GRC, bahkan memberikan masukan-masukan agar bisnis proses bisa berjalan sesuai dengan aturan berlaku.
“Inisiatif komisaris terkait dengan GRC, apakah mereka memiliki akses juga atau tidak? Komisaris selalu melakukan review tiap tahun dan mereka memberikan feedback terhadap secara keseluruhan jalannya bisnis perusahaan baik itu tata kelola, manajemen risiko, maupun kepatuhannya melalui laporan tahunan komisaris. Di situ, mereka memberikan banyak masukan kepada direktur, perusahaan bagaimana melakukan pengawasan yang baik,” papar Gusti.
Untuk akses sendiri, lanjut Gusti, komisaris mendapatkan hasil laporan dari komite manajemen risiko, maupun internal audit. “Untuk risk management-nya yaitu meng-coverage secara keseluruhan nilai-nilai risiko yang ada di perusahaan setiap fungsi dan divisi. Sedangkan untuk internal audit sendiri, hasil auditnya, itu kita sampaikan kepada BoC juga setiap selesai melakukan penugasan audit melalui report audit.”
Dia merinci keberadaan dashboard manual adalah untuk memantau pelaksanaan GRC. “Secara risk management, itu dia ada sendiri. Secara kepatuhannya, kita juga punya sendiri yaitu melakukan monitoring, khususnya kewajiban untuk melakukan pelaporan atas kepatuhan terhadap suatu ketentuan. Dan tata kelola pun dimonitor secara langsung oleh divisi manajemen risiko, kepatuhan, anti-fraud dan Penerapan Program Anti Pencucian Uang, Pencegahan Pendanaan Terorisme, dan Pencegahan Pendanaan Proliferasi Senjata Pemusnah Massal (APUPPT – PPPSPM),” papar dia.
Di kesempatan yang sama, Rinaldy Djamachsari sebagai Head of Compliance, Risk Management & Anti Fraud, menjabarkan seputar memitigasi risiko. Pihaknya selalu membuat risk registered dari masing-masing divisi. “Di masing-masing divisi kita buat risk registered, lalu kita catat semuanya kemungkinan risiko apa saja yang terjadi. Terus kita buat juga mitigasi apabila risiko itu terjadi seperti apa? Kita harus ngapain?. Setelah semuanya selesai, kita catat,” ujar dia.
Dia menyebutkan bahwa tim manajemen risiko akan berkoordinasi dengan tim internal audit untuk melakukan internal audit berdasarkan risk based audit. “Jadi, setiap divisi yang menurut perhitungan risk management terjadi risiko yang paling besar, itu dilakukan audit semakin banyak,” ucap Aldy.
Dia mencontohkan risiko yang mungkin saja bisa timbul, sehingga pihaknya selalu melakukan antisipasi. “Di kita sendiri, sebagai contoh ada pelatihan kebakaran. Jadi, pada saat disaster kita sering rutin melakukan be based testing. Misalnya, Jakarta kebanjiran atau gedungnya kebakaran ataulah apa, kita harus memastikan kegiatan perusahaan itu tetap terlaksana dan tidak menimbulkan komplain dari seluruh nasabah,” pungkasnya.
