Jakarta, TopBusiness – PT PLN Enjiniring menegaskan komitmennya terhadap penerapan tata kelola perusahaan yang baik, manajemen risiko, dan kepatuhan (GRC) sebagai fondasi utama transformasi bisnis yang berkelanjutan. Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama PLN Enjiniring, Chairani Rachmatullah, dalam sesi penjurian TOP GRC Awards 2025 yang digelar secara daring oleh Majalah Top Business, Senin (28/7/2025).
“Penerapan GRC bagi kami bukan sekadar pelengkap manajemen, tetapi menjadi alat strategis dalam memastikan keberlanjutan bisnis, mencegah risiko, dan membangun budaya perusahaan yang sehat,” tegas Chairani.
GRC sebagai Pilar Utama Transformasi
Sebagai anak perusahaan dari PT PLN (Persero), PLN Enjiniring telah mengintegrasikan prinsip GRC ke dalam seluruh lini kebijakan dan operasional perusahaan. Chairani menyebut bahwa perusahaan tidak hanya fokus pada aspek bisnis dan teknis, melainkan juga membangun sistem yang mendukung tata kelola dan pengendalian risiko yang proaktif.
Tahun 2024, PLN Enjiniring mencatat skor Good Corporate Governance (GCG) sebesar 90,791, menunjukkan kesungguhan perusahaan dalam menegakkan prinsip transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, independensi, dan kewajaran (fairness).
Manajemen Risiko dan Antisuap
PLN Enjiniring juga telah menerapkan berbagai standar internasional dalam mendukung sistem GRC, antara lain:
ISO 37001:2016 sebagai sistem manajemen anti-penyuapan,
ISO 9001 untuk sistem manajemen mutu,
Penerapan risk register dan mekanisme evaluasi risiko proyek secara berkala.
“Kami selalu mengedepankan risk-based thinking, baik dalam proses pengambilan keputusan maupun pelaksanaan proyek. Risiko yang tidak dikelola akan menjadi kerugian besar di masa depan,” ujar Chairani.
Manajemen risiko di PLN Enjiniring dijalankan melalui unit khusus yang memantau risiko strategis, operasional, dan eksternal, dengan proses identifikasi, mitigasi, dan pelaporan secara berkala ke jajaran manajemen.
Kepatuhan dan Transparansi Pelaporan
Dalam hal kepatuhan, PLN Enjiniring mengembangkan sistem pelaporan yang akuntabel dan transparan. Perusahaan menyusun laporan keberlanjutan (sustainability report) berbasis Global Reporting Initiative (GRI) dan mengadopsi ISO 26000 sebagai panduan pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan.
PLN Enjiniring juga menjalankan pelaporan kepatuhan melalui whistleblowing system dan unit pengendalian internal yang aktif mengevaluasi proses pengadaan, layanan, serta SDM.
“Kami ingin memastikan setiap elemen di PLN Enjiniring bekerja dalam koridor etika, tata kelola yang bersih, dan kesadaran atas risiko. GRC kami tidak berhenti di atas kertas,” tegas Chairani.
Digitalisasi GRC dan Kolaborasi Strategis
Dalam mendukung efektivitas penerapan GRC, PLN Enjiniring mengembangkan platform digital internal seperti PLN Eye, TRAMA (Transformasi Manajemen Aset), dan Konsultrik. Sistem ini mendukung integrasi data, pelaporan, pengawasan proyek, hingga pengendalian risiko secara real-time.
Perusahaan juga menjalin kemitraan strategis dengan konsultan global seperti DNV dan Deloitte dalam pengembangan sistem pengelolaan GRC, terutama di sektor energi baru dan terbarukan serta smart grid.
Integrasi ESG dan Budaya Kepatuhan
Chairani menambahkan, sistem GRC perusahaan juga diperkuat dengan nilai-nilai Environmental, Social, and Governance (ESG) yang menjadi bagian dari strategi jangka panjang.
“Kami ingin seluruh karyawan memiliki compliance mindset. Bukan hanya tahu aturan, tapi menjadikan etika sebagai budaya,” ujarnya.
Perusahaan juga aktif melaksanakan pelatihan kepatuhan, pengarusutamaan gender, dan integrasi GRC ke dalam program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Setiap pelaksanaan proyek pun disertai asesmen risiko sosial dan lingkungan.
GRC Sebagai Enabler Transformasi Energi
Dengan fondasi GRC yang kuat, PLN Enjiniring tidak hanya siap menghadapi tantangan industri ketenagalistrikan yang kompleks, tetapi juga mengambil peran sebagai enabler utama dalam transisi energi nasional menuju Net Zero Emission 2060.
“Transformasi bisnis tidak akan berarti tanpa penguatan governance. Kami ingin menjadi contoh bahwa perusahaan BUMN bisa tumbuh sehat dengan GRC yang kuat dan dijalankan dengan konsisten,” tutup Chairani.
