Jakarta, TopBusiness – Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan geopolitik yang masih membayangi industri keuangan, Bank CTBC Indonesia justru mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang mengesankan.
Tidak tanggung-tanggung, hampir seluruh indikator utama tumbuh dua digit sepanjang 2024 lalu. Ini menunjukkan sebuah pencapaian yang diyakini tidak lepas dari implementasi tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan atau Governance, Risk, and Compliance (GRC) yang menyatu dalam strategi bisnis mereka.
Menurut Presiden Direktur Bank CTBC Indonesia, Iwan Satawidinata, rahasia di balik performa impresif ini bukan semata strategi bisnis agresif, melainkan yang diimplementasikan secara menyeluruh dan terintegrasi.
Demikian disampaikan Iwan, dalam sesi presentasi penjurian Top GRC Awards 2025 yang digelar Majalah TopBusiness, pada Selasa (5/8/2025). Dia menjelaskan bahwa GRC tidak hanya menjadi bagian dari sistem pengawasan dan pengendalian, melainkan telah menjadi “urat nadi” dari seluruh proses pengambilan keputusan bisnis.
“Kami percaya bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan hanya dapat dicapai apabila GRC dijadikan fondasi utama perusahaan. Tanpa itu, semua pertumbuhan bersifat jangka pendek dan rawan guncangan,” ujar Iwan.
Dalam penjurian kali ini, Iwan Satawidinata didampingi oleh Candra Putra selaku Direktur Kepatuhan, dan Benny Wijaya sebagai Kepala Unit Kerja Kepatuhan.
Lebih jauh Iwan Satawidinata menegaskan, untuk mewujudkan keberlanjutan bisnis tidak bisa dilepaskan dari peran GRC yang kuat. “Makanya, kami berpikir GRC itu bukan pelengkap. Ini adalah fondasi utama untuk menciptakan nilai jangka panjang,” tegasnya.
Topang Keuangan
Lebih jauh disebutkan Iwan, praktik GRC yang kuat juga telah berdampak positif terhadap kinerja keuangan yang mencatatkan pertumbuhan double digit. Untuk pertumbuhan kredit, terbukti naik 11% secara year on year (yoy) menjadi Rp17,3 triliun per akhir 2024 dari sebelumnya di angka Rp15,66 triliun (2023).
Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 18% menjadi Rp20,6 triliun dari sebelumnya Rp15,66 triliun. Dengan total aset juga tumbuh 14% menjadi Rp25,98 triliun dari sebelumnya Rp22,86 triliun.
“Adapun untuk laba sebelum pajak juga naik 11% menjadi Rp244 miliar dari sebelumnya Rp220,59 miliar,” kata Iwan.
Sementara untuk rasio keuangan, Return on Equity (ROE) juga meningkat 6,3% dari angka 5,04% menjadi 5,36%.
“Yang menarik, pertumbuhan ini terjadi bersamaan dengan penurunan risiko kredit, termasuk NPL (non performing loan) yang turun menjadi 2,04% di akhir 2024 dari tahun sebelumnya di angka 2,14%. Sedang untuk LAR atau loan-at-risk berada di level 6,8%. Ini jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata industry. Juga turun dari sebelumnya di angka 7,07%,” tutur dia.
Dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) yang masih kuat di angka 87,04% turun dari sebelumnya yang hamper menyentuh likuiditas ketat di angka 93,48%.
GRC yang Kuat
Candra Putra, Direktur Kepatuhan Bank CTBC, menyebut bahwa GRC telah diinternalisasi ke seluruh lini organisasi, dari direksi hingga staf operasional. “GRC adalah bagian dari pengambilan keputusan bisnis. Ini bukan slogan. Kita jadikan nyata dalam sistem dan perilaku,” ujar Candra.
Kata dia, GRC juga lebih dari sekadar struktur, pendekatan GRC Bank CTBC juga berperan sebagai enabler bisnis. Alih-alih menjadi “penghambat”, fungsi kepatuhan diarahkan menjadi trusted advisor dan business partner. Pendekatan ini terbukti ampuh menyeimbangkan pertumbuhan dengan stabilitas.
“Kami tidak melihat GRC hanya sebagai fungsi pengawasan. GRC adalah alat strategis yang memungkinkan kami tumbuh dengan sehat. Bahkan di level operasional, semua unit bisnis sudah mengadopsi GRC sejak tahap perencanaan,” kata Candra.
Lebih jauh, kata dia, Bank CTBC telah membangun pilar GRC yang kokoh dengan kerangka kerja terstruktur, yakni:
- Governance: 15 pilar tata kelola dibangun melalui kebijakan yang disetujui hingga level dewan komisaris. Proses ini diperkuat oleh sistem whistleblowing, audit internal yang independen, serta digitalisasi sistem pengadaan untuk transparansi.
- Risk: Pendekatan tiga lapis risiko (kebijakan → prosedur → manual) telah diberlakukan dengan ketat. Penilaian profil risiko dilakukan rutin untuk delapan jenis risiko utama perbankan.
- Compliance: Budaya kepatuhan dikembangkan menyeluruh, bukan hanya dari sisi formalitas pelaporan, tetapi juga membangun trusted advisory role dalam pengambilan keputusan bisnis.
Selain itu, Bank CTBC juga mengembangkan Recovery Plan dan Table-top Exercises yang menyimulasikan skenario krisis, memastikan kesiapan jika terjadi guncangan, termasuk cyber attacks, disrupsi pendanaan, hingga krisis iklim.
Keberlanjutan
Benny Wijaya, Head of Compliance menambahkan, kiprah bank juga tak hanya melulu mengincar profit. Akan tetapi keberhasilannya itu didorong oleh keseriusan dalam aspek keberlanjutan. Hingga 2024, sebesar 44,43% atau sekitar Rp7,67 triliun dari total pembiayaan Bank CTBC telah dialokasikan untuk portofolio hijau.
Selain itu, mereka menjadi salah satu bank pertama yang memperoleh sertifikasi ISO penghitungan emisi gas rumah kaca (GRK) sebagai langkah awal menuju netralitas karbon.
Bank CTBC juga mengintegrasikan prinsip Equator dan Sustainable Finance dalam pemberian kredit, termasuk tidak serta-merta membiayai sektor batu bara tanpa transisi yang jelas.
Di sisi tata kelola, Bank CTBC mengedepankan real-time monitoring, same-day reporting ke pemegang saham, dan forum lintas fungsi untuk menyelesaikan isu strategis secara kolaboratif.
Benny Wijaya, menambahkan, pihaknya ingin menjadi bank yang bukan hanya profitable, tapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial. “Makanya, ESG bukan tren bagi kami, tapi komitmen bisnis jangka Panjang,” tandasnya.
Disebut dia, di Bank CTBC Indonesia sejauh ini telah membuktikan bahwa GRC bukan hanya alat mitigasi, melainkan pendorong nilai tambah dan katalis pertumbuhan. Dalam era VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity), GRC menjadi fondasi penting dalam menciptakan bisnis yang tangguh dan adaptif.
Sehingga, bagi investor, regulator, dan pemangku kepentingan, pendekatan CTBC terhadap GRC patut dijadikan referensi: bahwa kepatuhan dan manajemen risiko yang terintegrasi bisa menjadi strategi bisnis yang unggul —bukan penghambat.
Dengan reputasi kuat dalam kepatuhan—terbukti melalui penghargaan The Best Financial Reporting Compliance dari Bank Indonesia, serta GRC 5-Star Award dari Top Business di tahun 2024—Bank CTBC kini menjadi contoh nyata bahwa GRC yang dieksekusi secara serius dapat menghasilkan nilai bisnis, bukan hanya memenuhi regulasi.
“Pertumbuhan bisa siapa saja, tapi pertumbuhan yang resilien dan berkelanjutan hanya bisa dicapai dengan GRC yang benar,” tutup Iwan di sesi acara.
