Jakarta, TopBusiness—Saat ini, kompetisi industri semen di Indonesia sangatlah ketat. Sebagai contoh, ada ketidakseimbangan antara pasokan dengan permintaan. Menghadapi itu, Semen Gresik mengimplementasikan GRC untuk memermudah bisnis.
“Implementasi GRC yang baik, membantu kami dalam industri semen,” kata Direktur Keuangan dan SDM Semen Gresik, Fardhie Sjahrul Ade, dalam tanya-jawab dengan Dewan Juri Top GRC Awards 2025, hari ini.
GRC yang kuat, ia mengatakan, akan menaikkan efisiensi bisnis. Juga, menaikkan daya saing Semen Gresik, dan lain-lain sejenis.
Pondasi GRC yang kuat sangat membantu Semen Gresik menaikkan kinerja. Jadi, Semen Gresik berkomitmen tinggi untuk mengimplementasikan praktik GRC secara baik.
Fardhie pun mengatakan bahwa Semen Gresik menerapkan GRC yang tepat, untuk meningkatkan aspek keberlanjutan perusahaan.
Semen Gresik pun berkomitmen tinggi untuk mewujudkan GRC sebagai sebuah budaya kerja yang melekat pada semua lini bisnis. “Jadi, dalam hal ini, kami tak memandang GRC sebagai sebuah kewajiban belaka,” kata Fardhie.
Dalam kesempatan yang sama, GM Corporate Secretary Semen Gresik, Abdul Manan, juga memaparkan sejumlah hal tentang praktik GRC di perusahaan tersebut. Ia, antara lain, menjelaskan tentang skor asesmen RMI (risk managemen maturity) pada Semen Gresik.
Skor RIM di tahun 2022 ada pada 4,16. Tahun 2023, skor itu di 2,8. Sedangkan penilaian untuk tahun 2024, masih dalam proses penyelesaian. “Asesmen tersebut menggunakan jasa konsultan independen,” kata Abdul Manan.
Semen Gresik pun sudah menggunakan WBS (whistle blowing system). Dan tak ada pengaduan ke situ pada tahun 2024.
Selanjutnya, Abdul Manan memaparkan implementasi bisnis berkelanjutan di Semen Gresik. Contoh tersebut adalah: menjalankan operation excellence dengan meningkatkan utilitas dan menekan biaya-biaya produksi; meningkatkan penggunaan bahan bakar dan bahan baku alternatif.
Kemudian, melaksanakan kegiatan TJSL (tanggung jawab sosial dan lingkungan) yang didasarkan pada kebijakan keberlanjutan Semen Gresik yang terdiri dari empat pilar yang mendukung pencapaian sustainable development goals (SDGs). Itu adalah pilar pembangunan lingkungan, pilar pembangunan sosial, pilar pembangunan ekonomi, serta pilar pembangunan hukum dan tata kelola.
Lalu, ada penyesuaian tata kelola dan manajemen risiko dengan regulasi terbaru. Itu seperti Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Republik Indonesia Nomor PER-2/MBU/03/2023 tentang Pedoman Tata Kelola dan Kegiatan Korporasi Badan Usaha Milik Negara beserta Petunjuk Teknis lainnya.
Contoh berikutnya, Semen Gresik menerapkan Business Continuity Management System (BCMS) ISO 22301:2019, untuk seluruh critical business function di perusahaan tersebut.
“Kami pun menjalankan Internal Control over Financial Reporting (ICoFR),” ucap Abdul Manan lagi.
