Jakarta, TopBusiness – Bank UMKM Jawa Timur terus memperkuat pondasi bisnisnya dengan mengedepankan prinsip Governance, Risk, and Compliance (GRC) sebagai pilar utama dalam menjalankan usaha.
Upaya ini dilakukan secara menyeluruh mulai dari pembenahan struktur organisasi, penguatan sistem pengawasan, hingga digitalisasi manajemen risiko dan kepatuhan.
Hal ini seperti disampaikan oleh Direktur Kepatuhan Bank UMKM Jawa Timur (Jatim), Mohamad Amin, saat presentasi terkait penerapan GRC di Bank UMKM Jatim secara online, Rabu (20/8/2025).
Presentasi ini dilakukan untuk mengikuti penjurian TOP GRC Awards 2025. Di depan dewan juri, Amin menyampaikan bahwa penerapan GRC bukan sekadar kewajiban regulasi, melainkan komitmen perusahaan untuk tumbuh secara sehat dan berintegritas.
“Kami meyakini bahwa keberhasilan bisnis bukan hanya soal angka laba, tapi juga bagaimana perusahaan berjalan sesuai prinsip tata kelola, pengelolaan risiko yang baik, dan kepatuhan terhadap regulasi. GRC adalah kunci utama,” ujar Amin.
Bank UMKM Jatim mencatat pertumbuhan signifikan pada sejumlah indikator keuangan. Per Juni 2025, aset bank telah menembus angka Rp3,7 triliun, dengan kinerja laba mencapai Rp28,05 miliar per akhir Desember 2024 atau meningkat 18,05% secara tahunan (yoy). Sementara kredit yang dikucurkan mencapai Rp2,88 triliun selama 2024 itu atau naik 10,62%.
Dan meski terjadi peningkatan rasio NPL, ini terutama dipengaruhi oleh berakhirnya kebijakan restrukturisasi kredit terkait Covid-19. Selain itu juga adanya implementasi kebijakan penyesuaian kolektibilitas debitur kredit RSNR yang sebelumnya dikategorikan lancar tanpa mempertimbangkan lamanya tunggakan.
“Dan kini diklasifikasikan sesuai dengan lama tunggakan, sehingga berdampak pada kenaikan rasio NPL,” kata dia.
Dengan kinerja yang positif secara keseluruhan itu, Amin menegaskan bahwa pencapaian tersebut tidak akan berarti tanpa landasan tata kelola yang kuat, atau GRC secara komprehensif.
Dalam aspek tata kelola (governance), bank telah menyempurnakan struktur organisasi dengan menambahkan fungsi-fungsi strategis seperti penyelia compliance kredit dan analis kredit pusat. Selain itu, berbagai komite pengawasan, baik di tingkat komisaris maupun direksi, telah terbentuk dan berfungsi aktif.
Di bidang manajemen risiko, Bank UMKM Jatim mengadopsi standar ISO 31000, serta membangun sistem Three Lines of Defense untuk memastikan bahwa identifikasi, mitigasi, dan evaluasi risiko berjalan di setiap lini operasional.
“Kami juga telah melatih seluruh kepala cabang untuk mampu melakukan penilaian risiko secara mandiri. Ini bagian dari desentralisasi manajemen risiko agar kesadaran risiko tertanam di seluruh level,” tambah Amin.
Bank juga meluncurkan aplikasi Jedai (Jendela Dokumentasi dan Informasi) yang menyatukan seluruh kebijakan, SOP, hingga regulasi internal dalam sistem digital yang dapat diakses semua cabang. Hal ini mempermudah pemantauan dan memastikan bahwa seluruh kebijakan dijalankan secara seragam.
Dari sisi kepatuhan (compliance), Bank UMKM Jatim telah mengimplementasikan standar ISO 27001 untuk keamanan informasi dan menerapkan prinsip-prinsip ISO 37001 untuk sistem manajemen anti-penyuapan. Setiap proses penyaluran kredit kini wajib disertai pakta integritas yang ditandatangani oleh pihak bank dan debitur.
“Kami ingin menutup semua celah potensi gratifikasi dan praktik koruptif. Integritas adalah budaya yang harus terus dibangun, tidak hanya di pusat, tetapi sampai ke staf cabang,” tegas Amin.
Langkah-langkah tersebut membuahkan hasil. Dalam dua tahun terakhir, OJK memberikan penilaian GCG Komposit 2 (Baik) kepada Bank UMKM Jatim, serta mengapresiasi langkah bank dalam melakukan self-assessment risiko secara menyeluruh dan konsisten.
Amin menambahkan bahwa keberhasilan penerapan GRC ini tak lepas dari komitmen kolektif seluruh manajemen dan pegawai.
“Dewan komisaris, direksi, kepala divisi, hingga petugas lapangan, semuanya memiliki arah dan semangat yang sama: bisnis harus sukses, tapi juga harus sesuai prinsip GRC. Tidak ada kompromi dalam hal integritas,” tandas dia lagi.
Dengan fondasi yang semakin kokoh, Bank UMKM Jatim optimistis dapat memperluas layanan keuangan secara inklusif tanpa mengorbankan nilai-nilai tata kelola yang baik. Di tengah ketatnya regulasi dan kompleksitas risiko di industri perbankan, bank ini terus membuktikan bahwa keberhasilan bisnis dapat dicapai tanpa meninggalkan prinsip-prinsip etika dan kepatuhan.
