Jakarta, BusinessNews Indonesia—Ekonom dan pengamat kebijakan publik, Drajad Wibowo, memertanyakan pengalihan saham negara di tiga BUMN tambang kepada PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) sebagai holding (induk perusahaan).
Dia mengungkapkan hal itu kepada Majalah BusinessNews Indonesia melalui sambungan telepon, kemarin.
Menurut Drajad, pembentukan holding memang sebuah aksi korporasi yang logis dan bisa memberikan keuntungan. Misalnya, keuntungan dalam menggalang modal maupun keuntungan untuk bisa masuk ke pasar modal.
“Akan tetapi, justru saya bertanya-tanya kenapa Inalum yang perusahaan tertutup itu yang tiba-tiba jadi holding,” ujar dia.
Pasalnya, tiga BUMN tambang yang menjadi entitas anak yaitu PT Timah , PT Aneka Tambang, dan PT Bukit Asam, adalah perusahaan terbuka atau publik, sedangkan PT Inalum perusahaan tertutup.
“Artinya dari sisi governance atau tata kelola perusahaan, tiga perusahaan tadi sudah jauh lebih bagus daripada Inalum,” terang dia.
“Nah, ini yang harus dijelaskan secara terbuka kepada masyarakat kenapa justru Inalum yang dipilih, kenapa tidak salah satu dari tiga BUMN tambang besar tadi, misalkan. Ya agar lebih transparanlah, kira-kira,” tandasnya.
