Jakarta, TopBusiness – Peradaban manusia modern tak lepas dari pertambangan. Perkembangan teknologi dan infrastruktur yang dibuat manusia membutuhkan begitu banyak sumber daya alam yang didapatkan dengan cara menambang seperti pasir, batu, berbagai jenis logam seperti emas, perak, tembaga dan puluhan jenis mineral lainnya. Tanpa pertambangan, manusia tidak akan berada di posisi saat ini dan aktivitas pertambangan tentu saja membutuhkan proses eksplorasi dan pembukaan lahan.
Di sisi inilah perusahaan tambang dituntut untuk mampu menerapkan good mining practice dan keberlanjutan dalam menjalankan bisnis tambang mereka. Isu keberlanjutan dan praktik pertambangan yang bertanggung jawab terus menjadi sorotan penting dalam dunia industri, khususnya di sektor pertambangan mineral.
Dalam forum MGEI Business Forum 2025 yang diselenggarakan di Jakarta, Selasa, (26/8/2025), berbagai pelaku usaha, regulator, dan pakar ESG (Environmental, Social, and Governance) berkumpul untuk membahas pentingnya penerapan standar ESG demi keberlanjutan industri nasional.
Kegiatan ini dibuka oleh Direktur Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Hendra Gunawan dan Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Dedi Latip. MGEI Buisness Forum juga berfungsi mempertemukan pejabat pemerintah, pelaku industri, investor, akademisi, serta konsultan professional untuk membahas arah kebijakan hilirisasi, harmonisasi regulasi, serta peluang investasi berkelanjutan. Salah satu highlight forum ini adalah pemaparan dari PT Agincourt Resources, perusahaan tambang emas dan perak yang beroperasi di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Dalam sambutan awal forum, disampaikan bahwa Indonesia telah memiliki sejumlah regulasi dan standar nasional yang telah sejalan (aligned) dengan standar internasional terkait pengungkapan keberlanjutan. Salah satunya adalah Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia yang telah disusun oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta telah diselaraskan dengan taksonomi keberlanjutan tingkat ASEAN.
Penerapan standar yang konsisten dan harmonis ini penting untuk memberikan kepercayaan kepada investor global, menghindari ketidaksesuaian definisi dalam konsep “keberlanjutan”, serta menjadikan perusahaan Indonesia kompetitif dalam pasar modal global.
Tambang Emas Juga Harus Berprestasi Emas Dalam ESG
Dalam sesi utama forum, Senior Manager Environment, Health & Safety PT Agincourt Resources, Hari Ananto yang mewakili Direktur Utama dari PT Agincourt Resources (anak usaha dari United Tractors dan bagian dari Astra Group) Muliadi Sutio, memaparkan strategi penerapan ESG dalam operasional perusahaan tambang emas dan perak tersebut. Tambang Martabe memiliki luas wilayah sekitar 130.000 hektar, dengan cadangan emas sebesar 6,5 juta ons dan perak sebesar 64 juta ons.
“Bapak ibu sekalian, kami mempunyai core value great growth, respect, excellence, action, dan transparan. Ini juga yang men-drive dalam kami beroperasi. Cadangan kami 6,5 juta ons emas, 64 juta ons perak dan kami (PT Agincourt Resoureces) salah adalah satu objek vital nasional.” Ujar Hari saat membuka paparannya pada sesi diskusi.
“Untuk mining proses saat ini kami mempunyai tiga pit yaitu pit Purnama dan merupakan pit yang paling, kemudian Ramba Joring, dan pit Barani seperti yang ada di gambar. Prosesnya mungkin kurang lebih sama. Untuk proses penambangan, kita melakukan pengupasan, hauling, kemudian kita melakukan grinding dan carbon inleach. Untuk ekstraksi emas kami menggunakan (teknologi) elektrolisis.” lanjut Hari saat menjelaskan kepada audiens.
Pada paparan berikutnya, Hari Ananto menjelaskan tentang strategi PT Agincourt Resources (PTAR) yang menggunakan pendekatan Triple-P Strategy dalam mengintegrasikan ESG dalam membangun ‘portfolio’ mereka seperti meningkatkan ketahanan finansial dan efisiensi operasional, transparansi pajak dan kepatuhan hukum, membangun rantai pasok berkelanjutan dan etis, dengan menggandeng mitra lokal, pengelolaan risiko iklim dan investasi rendah karbon, serta efisiensi energi dan emisi.
Sementara pada ‘people‘, PTAR merekrut karyawan dari warga sekitar tambang yang sebelumnya bekerja sebagai petani, nelayan, penderes karet. PTAR melatih dan mendidik mereka sehingga dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitar tambang. Saat ini 76% dari total karyawan PTAR adalah warga setempat. Selain itu inklusivitas dan kesetaraan gender juga mendapat perhatian dari manajemen PTAR dengan pencapaian 23% tenaga kerja perempuan. PTAR juga berfokus pada pengetahuan dan ketrampilan karyawan dengan memberikan pelatihan tentang keselamatan kerja, kebijakan anti-diskriminasi dan hak asasi manusia.
“Hak Asasi Manusia tentu saja sangat penting.Kami di Martabe memberikan pemahaman kepada para karyawan tentang hak asasi manusia dimana kami sangat menjunjung tinggi HAM. Oleh karena itu kami menerapkan anti (sexual and verbal) harrasment policy, code of practice termasuk gender diversity policy.” ungkap Hari.
PTAR juga memberikan kontribusi yang luar biasa pada pembangunan masyarakat di desa desa sekitar tambang. Public contributions PTAR meliputi berbagai bidang seperti Program pemberdayaan masyarakat melalui konservasi, pemantauan kualitas air, konservasi keanekaragaman hayati, dan layanan kesehatan.
PTAR juga memberikan perhatian yang cukup besar pada Indeks Pembangunan Manusia di wilayah Batang Toru dan Tapanulis Selatan. PTAR membangun dan mengelola Sopo Daganak, sebuah pusat kreativitas bagi anak-anak dan remaja dan telah menjadi favorit generasi muda untuk mengisi kegiatan seusai jam sekolah. PTAR juga membiayai dan memfasilitasi pelatihan aparat desa tanggap bencana dan juga meningkatkan fasilitas kesehatan di Puskesmas Batang Toru sehingga masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan tanpa perlu menempuh perjalanan menuju kota kabupaten.
“Bapak Ibu terkait dengan public contributions, community development and power plant ini menjadi satu langkah strategis juga dan ada beberapa program yang kita lakukan. Mungkin saya langsung tunjukkan saja hal-hal yang sudah kami lakukan ya. Ini yang pertama adalah environmental and energy policy. Ini menjadi salah satu payung bagaimana kami beroperasi. Kemudian juga ada biodiversity policy, ada juga safety and health policy dan ada juga policy-policy yang lainnya.”
PTAR juga sadar betul bahwa air adalah sumber kehidupan, karena itu dalam mewujudkan ekosistem yang baik dan terjaga terutama dalam menjaga biodiversity, PT Agincourt melibatkan 15 desa di lingkar tambang dalam pemantauan kualitas air secara rutin. Mereka tergabung dalam “Tim Terpadu” yang dibentuk oleh Pemerintah Provinsi. Tim ini mengambil sampel air buangan dari proses tambang dan menganalisisnya secara terbuka, menciptakan transparansi dan menghindari konflik lingkungan.
“Tadi saya sampaikan mengenai water quality monitor water ya, mengenai bagaimana kita mengelola air. Nah, ini Bapak Ibu salah satu yang unik di Martabe adalah kami melibatkan 15 desa di Lingkar tambang untuk terlibat di dalam kami melakukan water quality monitoring. Jadi setiap bulan ke-15 desa itu ada perwakilan juga dari pemerintah setempat datang ke tempat kami mengambil air sisa proses dari hulu.” Kata Hari.
“Kemudian juga di beberapa titik di sungai-sungai yang di mana kami men-dispose air sisa proses kami. Jadi kami sebutnya tim terpadu, Pak. Ya, Bapak Ibu. kami sebutnya tim terpadu dan ini tim ini di ditetapkan ya oleh Pak Gubernur ya. Dari sini kita setiap bulan kemudian 3 bulan sekali hasil itu kita buka dan kita sampaikan ke semuanya ya dari masyarakat di sekitar sehingga sampai dengan saat ini kami tidak ada isu dengan air yang kami lepas ke sungai di Batang Torung ya. Jadi ini mulai dari pengambilan sampai pengantaran ke lab itu kami mengajak mereka semua.” Jelas Hari Ananto.
Sustainability and Risk Assurance Leader PricewaterhouseCoopers (PWC), Yuliana Sudjono menyampaikan perspektifnya sebagai praktisi audit, assurance, consulting dan tax services tentang pertambangan yang berkelanjutan dan bertanggungjawab pada acara MGEI Business Forum 2025 di Jakarta, Selasa, (26/8/2025).
Sustainability and Risk Assurance Leader PricewaterhouseCoopers Indonesia (PWC), Yuliana Sudjono sependapat dengan Hari Ananto. Yuliana menambahkan bahwa korporasi yang meng-“embed”-kan prinsip ESG pada bisnisnya, akan mendapatkan kepercayaan publik dan investor. “Kalau saya boleh menambahkan, korporasi yang meng-embed-kan prinsip ESG pada bisnis mereka akan mendapatkan kepercayaan publik dan investor yang jauh lebih baik dibanding perusahaan yang tidak menerapkan prinsip ESG.” Kata Yuliana.
ESG dan Akses Pendanaan
Apa yang disampaikan oleh Yuliana ternyata dialami oleh pengelola tambang emas terbesar ketiga di Indonesia, PT Agincourt Resources. Hari Ananto menegaskan bahwa komitmen kuat terhadap keberlanjutan memberi keunggulan kompetitif bagi PT Agincourt. Dengan reputasi yang baik, sertifikasi, dan pengakuan proper hijau, perusahaan lebih percaya diri dalam mendapatkan dukungan pendanaan dari lembaga keuangan nasional maupun internasional.
Induk usaha seperti Astra, United Tractors, dan PAMA juga telah menunjukkan komitmen serius dalam implementasi ESG sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Karena itu, sebagai bagian dari Astra International yang telah mencanangkan gerakan Nett Zero Emission, PTAR telah selesai dan masih akan terus menerapkan efisiensi energi dan konsisten dalam menggunakan energi yang bersih dan terbarukan (EBT).
Hal ini diwujudkan dengan pembangunan solar panel dengan daya 2,1 MWp di seluruh area tambang PTAR yang memungkinkan untuk dipasang solar panel. Kemudian penggunaan biofuel B40 yang sebelumnya menggunakan B35. Hal ini mengonfirmasi upaya PTAR untuk secara bertahap mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. PTAR jugatelah menggunakan kendaraan dan alat berat dengan mesin hybrid dalam melaksanakan operasional tambang. Selain itu PTAR telah berinvestasi pada teknologi Renewable Catalyst.
Namun perhatian PTAR tidak berhenti pada operasional di dalam area tambang. PTAR memberikan perhatian khusus pada keanekaragaman hayati atau biodiversity. PTAR telah berkali-kali terlibat dalam upaya pelestarian satwa liar dan langka, pembudidayaan benih tanaman yang terancam punah, membangun Biodiversity Research Center untuk penelitian flora, fauna, dan dampak lingkungan, menanam 30.000 mangrove, pelepasan 20.000 kerang, konservasi penyu, dan dukungan terhadap Makaka Rescue Center.
Kemudian PTAR melihat potensi satwa endemik Batang Toru, yakni ikan Jurung yang menjadi “ikan sakral” bagi masyarakat Tapanuli dengan mendukung konservasi dan budidaya ikan yang dikembangkan dengan sistem adat “Lubuk Larangan” di mana ikan hanya dapat dipanen pada waktu tertentu oleh masyarakat lokal, dengan perlindungan hukum adat.
Penerapan ESG bukan hanya sekadar memenuhi kewajiban regulasi, tetapi merupakan investasi jangka panjang untuk keberlanjutan, ketahanan bisnis, dan peningkatan daya saing global. PT Agincourt Resources melalui Tambang Martabe telah membuktikan bahwa praktik ESG yang terintegrasi dan melibatkan masyarakat dapat memberikan dampak nyata, tidak hanya terhadap lingkungan dan sosial, tetapi juga dalam akses pendanaan dan reputasi bisnis. ESG bukan sekadar tren—tetapi kunci untuk menjadi pemain kelas dunia di industri pertambangan.
