
Jakarta, businessnews.id — Glaxo Smith Kline (GSK) telah mengambil kepemilikan penuh bisnis consumer healthcare-nya di Indonesia melalui sebuah transaksi. Itu juga mencakup divestasi satu produk non-core, dan satu pabriknya di Indonesia.
Transaksi ini dilakukan dengan tiga perusahaan terkait. GSK Consumer Healthcare Pte. Ltd telah membayar Rp 465 miliar kepada Sarasvati Venture Capital Ltd (SVC) untuk membeli 30 persen saham GSK Consumer Healthcare yang sebelumnya tidak dikuasai oleh GSK.
GSK juga telah menjual produk tetes mata Insto kepada Pharma Healthcare Pte. Ltd; dan sepakat untuk menjual pabriknya di Bogor, Indonesia, kepada PT Pharma Healthcare dengan nilai total transaksi sebesar Rp 133 miliar.
David Redfern, Chief Strategy Officer GSK mengatakan, “Transaksi ini adalah salah satu bukti bahwa GSK sedang memfokuskan bisnisnya pada pasar-pasar penting yang strategis dan tumbuh dengan cepat seperti Indonesia. Transaksi ini juga akan menyederhanakan operasi kami di Indonesia,” kata dia dalam keterangan pers (3/4/2014).
Transaksi tersebut, Redfern menyatakan, dilakukan dalam dua tahap. GSK telah menyelesaikan pembelian seluruh sahamnya dan melakukan divestasi terhadap produk Insto. Sedangkan pabrik GSK di Bogor akan ditransfer kepada PT Pharma Healthcare pada tahun 2015.
Bisnis consumer healthcare GSK di Indonesia menjual merek-merek seperti Panadol, Sensodyne, dan Scotts; bisnis ini merupakan bisnis penting di negara berkembang bagi GSK. Bisnis consumer healthcare GSK telah mengalami pertumbuhan yang signifikan selama lima tahun terakhir, dengan penjualan bersih yang mencapai hampir £50 juta di tahun 2013 dibandingkan tahun 2008 yang mencapai £16 juta.
“Dengan peningkatan cakupan wilayah dan menggunakan inovasi produk yang ditargetkan pada kelas menengah yang saat ini jumlahnya meningkat dengan pesat, prospek bisnis consumer healthcare GSK di Indonesia sangat kuat,” kata Redfern. (DHI)