Jakarta, TopBusiness – Laju IHSG kemarin ditutup naik 0.85%, tapi masih disertai dengan net sell asing ~363 miliar. Saat kondisi IHSG masih anomali ini, saham yang paling banyak dijual asing adalah BBCA, BMRI, BREN, KLBF dan TLKM.
Untuk perdagangan hari ini, Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas mengatakan, laju IHSG berpotensi melanjutkan kenaikan hari ini, jika bertahan di support 7750.
“Dengan kondisi tersebut, maka level Support IHSG diproyeksi akan berada di rentang 7730-7750 dan level Resist IHSG diperkirakan di kisaran 7840-7900,” ujar Fanny dalam risetnya, Rabu (3/9/2025).
Global Overnight Review
Wall Street Turun, Tertekan Tarif dan Kenaikan Imbal Hasil Obligasi AS. Indeks-indeks saham Wall Street melemah pada perdagangan Selasa (2/9). Pelemahan tersebut karena tertekan kekhawatiran investor terhadap putusan pengadilan soal tarif Presiden Donald Trump dan kenaikan imbal hasil obligasi AS.
Dow Jones Industrial Average ditutup turun 0,55%, S&P 500 terkoreksi 0,69% dan Nasdaq Composite melemah 0,82%.
Penurunan terjadi di tengah aksi profit taking investor setelah berakhirnya musim panas. Saham-saham teknologi besar juga tertekan, seperti Nvidia ditutup turun sekitar 2%, sementara Amazon dan Apple terkoreksi sekitar 1%.
Selain itu, sentimen negatif datang setelah pengadilan banding federal AS memutuskan bahwa sebagian besar tarif global era Trump tidak sah.
Dalam putusan 7-4, pengadilan menyatakan hanya Kongres yang berwenang menetapkan tarif secara luas. Trump menyebut putusan itu ‘sangat partisan’ dan menyatakan akan mengajukan banding ke Mahkamah Agung AS.
Selain itu, investor juga mencermati kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Yield obligasi tenor 10Y naik ke 4,27%, sementara yield obligasi 30Y mencapai 4,97%.
Kenaikan yield ini disebabkan kekhawatiran bahwa pemerintah AS harus mengembalikan miliaran dolar hasil pungutan tarif, yang berpotensi memperburuk kondisi fiskal AS.
Kini, fokus investor beralih ke data tenaga kerja AS, nonfarm payrolls, untuk Agustus yang akan dirilis Jumat (5/9).
Bursa Asia Mixed, Mencermati KTT SCO di Tengah Kekhawatiran Tarif AS. Pasar saham Asia-Pasifik beragam dengan mayoritas melemah pada Selasa (2/9), ketika investor mencermati pertemuan para pemimpin Shanghai Cooperation Organization (SCO) di Tianjin.
Namun, ketidakpastian mengenai kebijakan tarif global masih membebani sentimen. Kondisi tersebut terjadi setelah pengadilan banding federal AS pada Jumat lalu memutuskan bahwa sebagian besar tarif global yang diberlakukan Presiden Donald Trump dinyatakan ilegal.
Indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,29% dan Topix bertambah 0,61%. Kemudian di Korea Selatan, indeks Kospi menguat 0,94% dan Kosdaq meningkat 1,15%.
Badan statistik Korea mencatat, indeks harga konsumen (CPI) negara tersebut naik 1,7% pada Agustus YoY, lebih rendah dibandingkan kenaikan 2,1% pada Jul-25.
Angka tersebut merupakan laju kenaikan tahunan paling lambat sejak November, sekaligus di bawah ekspektasi konsensus sebesar 2%.
Sedangkan, indeks S&P/ASX 200 Australia melemah 0,30%, Hang Seng Hong Kong turun 0,47% dan Shanghai Composite berkurang 0,45%.
Di sisi lain, pasar menantikan rilis neraca berjalan periode April-Juni yang diproyeksi defisit 16 miliar dolar Australia (US$10,49 miliar), lebih lebar dibanding defisit AU$14,7 miliar pada kuartal sebelumnya. Hang Seng di Hong Kong berada di level. (Source: Investor Daily, Kontan, Bloomberg).
Trading Idea hari ini: BRMS, ARCI, AMMN, TAYS, TOBA, dan CUAN
- BRMS Spec Buy dengan area beli di 515-525, cutloss di bawah 505. Target dekat di 545-560.
- ARCI Spec Buy dengan area beli di 825-845, cutloss di bawah 815. Target dekat di 875-900.
- AMMN Spec Buy dengan area beli di 7875-8000, cutloss di bawah 7800. Target dekat di 8125-8300.
- TAYS Spec Buy dengan area beli di 73-75, cutloss di bawah 71. Target dekat di 81-84.
- TOBA Spec Buy dengan area beli di 1240-1280, cutloss di bawah 1200. Target dekat di 1320-1380.
- CUAN Spec Buy dengan area beli di 1500-1525, cutloss di bawah 1460. Target dekat di 1585-1630.
