Jakarta, BusinessNews Indonesia—Konsumen di seluruh dunia menunjukkan preferensi yang semakin meningkat untuk merek global daripada produk manufaktur lokal. Demikian menurut sebuah studi dari Nielsen.
Berdasarkan siaran pers yang diterima Majalah BusinessNews Indonesia kemarin malam, laporan tahunan Nielsen Global Brand-Origin menyoroti preferensi dan sentimen konsumen terhadap produk yang diproduksi oleh produsen lokal versus merek global/multinasional besar di 34 kategori.
Temuan survei tersebut menunjukkan pandangan yang relatif seimbang terhadap merek global dan lokal dalam beberapa tahun terakhir.
“Hasil terbaru menunjukkan preferensi konsumen mengarah ke merek global di sebagian besar kategori,” kata Regan Leggett, head of Foresight and Thought Leadership, Growth Markets, Nielsen.
Dia berkata, preferensi untuk merek global terkuat adalah untuk kategori tisu/popok bayi dan makanan bayi/susu formula, di mana masing-masing hanya 7% dan 10% konsumen yang mengatakan lebih suka membeli merek dari produsen lokal.
Kategori lain di mana konsumen menunjukkan preferensi rendah untuk merek lokal, yakni vitamin/suplemen (12% lebih memilih lokal), makanan hewani (12%), produk perawatan wanita (13%), minuman energi/minuman olahraga (14%), dan produk makanan kemasan/kalengan (15%).
Sebaliknya, kategori di mana konsumen lebih cenderung memilih produk buatan lokal melalui merek global termasuk produk makanan/minuman berbasis susu (54%), biskuit/keripik/kue kering / kue kering (32%), es krim (31%) dan air mineral/kemasan (30%).
Adapun Direktur Nielsen Indonesia, Miladinne Lubis, menjelaskan bahwa Survei Nielsen Global Brand-Original menyurvei lebih dari 31.500 responden online di 63 negara untuk memahami preferensi merek untuk merek global/multinasional (didefinisikan sebagai perusahaan yang beroperasi di banyak pasar) versus pemain lokal (yang beroperasi hanya di pasar utama di rumah responden negara).
Survei online dilakukan 20 Mei sampai 10 Juni 2017. Walaupun sebuah metodologi survei online memungkinkan skala besar dan jangkauan global, survei ini hanya memberikan perspektif tentang kebiasaan pengguna internet yang ada, bukan populasi total.
