Jakarta, TopBusiness – PT BPR Delta Artha Perseroda atau BPR Delta Artha mempercayai bahwa pertumbuhan kinerja sebuah entitas bisnis jasa perbankan tak bisa terlepas dari kontribusi sumber daya manusia alias SDM. Karena itu, perusahaan bertekad untuk terus-menerus mengembangkan talenta-talenta agar bisa bersaing di industri.
Direktur Utama, Sofia Nurkrisnajati Atmaja, mengapresiasi atas keikutsertaan perusahaan dalam acara penjurian TOP Human Capital Awards 2025. “Saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada TOP Human Capital atas kepercayaannya kepada kami untuk ikut dalam penjurian ini,” kata dia kepada Dewan Juri secara online di Jakarta, Rabu (17/09/2025).
Di kesempatan yang sama, Dedy Setiyawan selaku Direktur Kepatuhan dalam sesi pernyataan penutup mengakui bahwa peran SDM dalam menggerakkan proses bisnis guna menciptakan kinerja layanan, operasional hingga keuangan tak bisa dilepaskan dari kontribusi SDM.
“Insya Allah kami akan terus mengembangkan SDM agar bisa berdaya saing, kemudian berinovasi dan berintegritas agar memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat Kabupaten Sidoarjo, pada khususnya, dan masyarakat luas, pada umumnya,” kata Dedy.
Tak lupa dirinya juga menghargai atas saran dan masukan dari Dewan Juri untuk perbaikan di masa-masa yang akan datang.
“Terima kasih atas semua ilmu yang diberikan kepada kami, sangat bermanfaat dan akan diterapkan. Mudah-mudahan pada penjurian tahun depan dapat kami sampaikan. BPR Delta Artha berkeyakinan bahwa pertumbuhan itu tidak hanya soal angka-angka karena di belakangnya itu ada manusia yang menjalankannya, yaitu human capital,” ungkap Dedy.
Saat memaparkan materi presentasi berjudul “Pengelolaan Human Capital sebagai Pilar Inovasi dan Pertumbuhan BPR Daerah”, Dedy menyinggung soal human capital management system (HCMS).
Dikatakan, BPR Delta Artha menginginkan SDM unggul. “SDM yang unggul otomatis akan memberikan layanan yang lebih cepat dan akurat, sehingga kepuasan nasabah akan meningkat,” ucapnya.
Dia mengakui, meskipun kepuasan nasabah belum dilakukan penilaian atau tersurvei secara maksimal. Tapi indikatornya bisa terlihat dari banyaknya, pengaduan dari masyarakat, baik langsung ke BPR melalui stakeholders. “Meskipun kami tidak melakukan penilaian, itu pasti akan sampai ke BPR Delta Artha,” ujarnya.
Dedy selanjutnya menyatakan soal talenta yang adaptif. Dalam hal ini, perusahaan melakukan inovasi produk. “Memang kami berikan keleluasaan kepada SDM untuk mengembangkan inovasi produk. Dan beberapa inovasi produk kami, itu adalah gagasan-gagasan yang diperoleh dari SDM. Misalkan, kami mempunyai tabungan arisan. Arisan ini terinspirasi dari teman-teman yang lihat di daerahnya, atau tempat mereka tinggal, kenapa tidak bisa diakomodir jadi produk? Makanya kami akomodir,” ungkap dia.
Lalu, Dedy menjelaskan budaya integritas. “Nah ini juga terus-menerus kami tingkatkan. Karena dengan adanya budaya, otomatis risiko operasional dan kepatuhan berkurang. Ini selalu kami lakukan evaluasi. Sedikit pun permasalahan yang ada di SDM, yang menyangkut integritas itu langsung kami tangani,” paparnya.
Kemudian, Dedy juga menerangkan soal engagement tinggi. Dampaknya adalah retensi pegawai meningkat, dan biaya turn over itu menurun. “Dan terbukti dari tahun ke tahun, tingkat turn over karyawan sangat minim. Ini juga menurunkan biaya secara otomatis,” ungkap dia.
“Meskipun kami bebani SDM itu dengan load pekerjaan yang tinggi, tapi tampak di situ biaya gaji itu tinggi karena hasil kerja keras mereka. Kami menghargai kerja keras mereka. Makanya kami menganut asas efektivitas, sedikit pegawai tapi berkontribusi biar nanti hasil yang diperoleh dari kegiatan operasional bisa kembali,” pungkas Dedy.
