Jakarta, TopBusiness – PT Pertamina EP Cepu Zona 12 peduli atas kelestarian alam di Tanah Air, menyusul degradasi hutan semakin masif. Oleh sebab itu, semenjak tahun 2022 perusahaan hulu migas tersebut turut peduli atas kelestarian lingkungan hutan dan memberdayaan masyarakat agar bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui pemanfaatan lahan perhutanan berkatergori lahan hutan sosial.
Edi Arto selaku Officer Communication Relation & CSR PEPC, menjelaskan bahwa program perusahaan sangat memberikan dampak besar bagi seluruh pemangku kepentingan, menghijuakan alam, menjaga kawasan hutan, dan memberikan nilai ekonomi masyarakat lokal di sekitaran hutan sosoal.
“Diharapkan program PEPC ini bisa di copy paste di wilayah lain baik itu di hulu migas, maupun industri lainnya”, tegas Edi kepada TopBusiness,id, dalam media visit JABANUSA, beberapa waktu lalu.
Dilanjutkan Edi, pada 2028 nanti harapan kami kambing peternak binaan menjadi 200 ekor, dan juga pula pada 2028 nanti program ini sudah dapat dikatakan berhasil menciptakan perekonomian masyarakat kehutanan.
“Sudah tercipta pula local Hero dari petani tua dan petani muda, semoga program ini terus berkembnag tidak hanya berhenti di sini saja. Banyak kegiatan budidaya di lahan hutan yang bisa meningkatkan perekonomian masyarakat lokal”, imbuh Edi.
Program Biru Langit Jambaran Tiun Biru melalui agrosilvopastura membuktikan bahwa perusahaan hulu migas dapat menjadi ujung tombak dalam menjaga kelestarian hutan dan memberdayakan masyarakat lokal, seiring peningkatan perekonomiannya.
Keberadaan kawasan Hutan Petak 52-A1 terletak di Desa Bendungrejo, Kabupaten Bojonegoro. Sementara, program muncul karena adanya degradasi lahan, keterbatasan keterampilan dan kemampuan masyarakat. Sehingga, pemanfaatan lahan hutan yang berkelanjutan.
Dalam penerapan dan pengembangan pertanian berkelanjutan di Desa Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, PEPC bekerja sama dengan Institute Development of Society (IDFoS) sebagai Mitra Pelaksana dari Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).
Lalu, Ngasem Barokah sebagai penerima manfaat mengelola hutan dengan menanam tanaman hortikultura dan tanaman musiman.
Selain itu, mereka juga memelihara ternak seperti domba di lahan hutan. Dengan sistem agrosilvopastrura, masyarakat dapat memperoleh mata pencarian yang stabil tanpa merusak hutan. “Ini adalah langkah penting dalam mendukung pertanian dan peternakan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” ujar Edi.
Adapun capaian hingga tahun 2024, antara lain, rehabilitasi 17,71 ha lahan dengan 0.355 pohon MPTS dan penurunan emisi karbon dari 170.667 menjadi 54.80 CO2eq. Sedangkan dari omset dan penghasilan pembudidayaan beternak kambing di lahan hutan sosial mencapai Rp 121.000.000, efisiensi biaya pupuk dan energi lebih dari Rp 1 miliar, serta partisipasi langsung 23 KK petani hutan sosial.
Program juga memperkuat kelembagaan LMDH. Sistim gotong royong “Jimpitan” pembentukan koperasi desa dan penerapan PLTS untuk irigasi.
Bentuk program ini menunjukkan ada sinergi antara perusahaan, masyarakat dan mitra strategis yang mampu menghadirkan solusi berkelanjutan bagi permasalahan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan keberhasilan yang telah dicapai, Program Biru Langit Jambaran Tiung Biru diharapkan dapat menjadi role model (percontohan) konservasi dan pemberdayaan masyarakat, serta dapat direplikasi di wilayah lain, serta menjadi wujud nyata komitmen perusahaan dalam mendukung ESG dan SDGs untuk keberlanjutan masa depan.
